Sir Alex: Beckham Hanya Ingin Ketenaran

Penulis: Darmansyah

Rabu, 23 Oktober 2013 | 14:12 WIB

Dibaca: 1 kali

Inggris, kini, dihebohkan oleh kontroversi isi buku biografi Sir Alex Ferguson, My Autobiography,” yang bersentuhan langsung dengan kehidupan para selebritas bola yang pernah menjadi anak asuhnya, sepanjang ia berkarir, di Old Trafford.

Buku itu, yang oleh “Sky Sport” disebut sebagai “kacamata kuda” Sir Alex. Dan “Sky Sport” juga menyebutkan betapa pragmatisnya seorang Fergie, dalam buku itu, mengungkapkan tentang polah Japp Stam, David Beckham, Roy Keane, Eric Cantona maupun Cristiano Ronaldo.

Penuh dengan “hiburan,” seperti ditulis oleh “Mail Online,” buku itu juga amat satire, ketika bercerita tentang keputusan penjualan pemain lewat percakapan pendek di pompa bensin atau pun sepatu yang melayang di kamar ganti karena pemain yang ingin lebih tenar.

Sir Alex, terlepas dari gugatan Roy Keane dan nada setengah bersungut dari Beckham ketika memasuki alinea tentang dirinya, adalah pria yang pantas untuk menuliskan pengalamannya selama di Old Trafford. Dialah, menurut “The Sun” dan “The Guardian” yang pantas untuk bercerita tentang Manchester United dalam rentang perjalanan klub itu di era sepakbola modern.

Fergie, begitu si kakek yang sudah pensiun itu di sapa, adalah sosok yang memiliki dua kutub kepribadian yang sulit diselaraskan. Ia bisa jadi bapak asuh yang sangat baik untuk Eric Cantona dan bisa juga membenci petenteng-petentang pemain semacam David Beckham, yang ia katakan sibuk dengan urusan ketenaran.

Sir Alex Ferguson membeberkan alasan dirinya dan manajemen Setan Merah menjual David Beckham pada sepuluh tahun silam. Menurut Ferguson, sikap Beckham yang haus akan ketenaran dan status selebriti menjadikan mantan kapten timnas Inggris itu menganggap dirinya lebih penting dibanding klub.

“David satu-satunya pemain didikan saya yang ingin tenar dan berambisi dikenal selain di lapangan. Pada musim terakhirnya di MU, kami semua sadar etos kerjanya menurun. Kami juga mendengar Real Madrid mendekatinya,” tulis Ferguson.

Penurunan etos kerja Beckham ini disadari Ferguson saat mereka kalah dari Arsenal di Piala FA. Hal tersebut berujung pada sebuah insiden ketika Ferguson menendang sepatu dan mengenai alis suami personel Spice Girls, Victoria, itu, di kamar ganti.

Sesudah insiden itu, Ferguson menuturkan, ia memanggil Beckham untuk mengamati video pertandingan. Namun, Beckham tetap menolak mengakui blundernya. Ia hanya mendengarkan ucapan Ferguson tanpa berkata sepatah kata pun.

“Keesokan harinya, cerita soal saya menendang sepatu ke wajah David muncul di media dan sebuah band menekankan soal luka tendangan sepatu tersebut. Pada saat itulah, saya mengatakan ke dewan direksi, David harus pergi,” jelas Ferguson.

“David mengira ia lebih besar dari Alex Ferguson. Sebenarnya, bukan masalah siapa manajer MU, tetapi otoritas di ruang ganti. Tak boleh ada pemain yang mengambil alih ruang ganti. Banyak yang mencoba melakukannya. Tetapi, di MU, pusat kekuasaan ada di kantor manajer. David mencoba mengambil alih otoritas saya, dan itu yang mengakhiri kariernya di MU,” ujar Ferguson.

Sir Alex Ferguson juga misalnya, melarang Cristiano Ronaldo untuk hijrah ke Real Madrid ketika masih dipimpin oleh Presiden Ramon Calderon. Calderon sempat berusaha merekrut Ronaldo dari MU. Upaya itu adalah bagian kampanyenya agar kembali terpilih menjadi Presiden Real Madrid.

Ferguson mengaku tidak suka dengan pendekatan Calderon. Ferguson sempat menyebut Calderon sebagai dinosaurus karena terlalu sering menggembar-gemborkan bahwa Ronaldo akan berlabuh ke Santiago Bernabeu.

Ferguson pun sempat mengancam lebih baik menembak Ronaldo ketimbang membiarkan bintang asal Portugal itu hijrah ke Madrid pada era Calderon.

Pada akhirnya, Ronaldo memang dilego oleh Setan Merah ke Madrid dengan biaya transfer 80 juta pounds pada Juli 2009. Namun, ketika itu, Calderon sudah tidak menjabat sebagai Presiden Madrid karena posisinya sudah resmi diambil alih Florentino Perez pada 1 Juni 2009.

“Madrid membayar 80 juta pounds untuk dia dan Anda tahu mengapa? Karena itu adalah cara Florentino Perez, Presiden mereka, untuk berkata kepada dunia, ‘Kami adalah Real Madrid, kami adalah klub terbesar’,” tulis Ferguson.

“Saya datang ke rumah Carlos di Portugal untuk bertemu dengan Ronaldo yang ingin mengutarakan ekspresinya untuk hijrah ke Real Madrid. Saya kemudian berkata kepadanya, ‘Kamu tidak dapat pergi tahun ini, tidak bisa, karena Calderon telah membuat masalah’.”

“Saya berkata lagi, ‘Saya tahu kamu ingin pergi ke Real Madrid. Tetapi, saya lebih suka menembakmu daripada menjualmu ke Calderon sekarang! Jika kamu tampil di lapangan, jangan buat permainan kami berantakan, dan jika seseorang datang dan menawarkan rekor transfer dunia, kami akan membiarkan kamu pergi’.”

“Saya melakukannya dengan baik untuk menenangkannya. Saya katakan kepadanya bahwa alasan saya menolak menjualnya pada tahun itu adalah karena Calderon. Saya berkata, ‘Jika saya melakukan itu, semua kehormatan saya hilang.”

“Saya tidak peduli jika kamu harus duduk di tribun penonton. Saya tahu itu memang tidak akan terjadi, tetapi saya hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa saya tidak akan membiarkanmu pergi tahun ini’.”

Menanggapi isi buku “My Autobigraphy,” Roy Keane, mantan kapten MU, Roy Keane, menanggapinya dengan dingin ketika berkisah tentang dirinya. Keane bahkan balik menuding Ferguson tak mengerti arti kata kesetiaan.

“Saya tak mencemaskan orang yang terus-menerus mengkritik pemain yang sudah memberinya kesuksesan. Hanya, menurut saya, ia tak perlu melakukannya. Banyak pemain yang dikritik Ferguson sudah membawakan sejumlah trofi,” ujar eks kapten tim nasional Irlandia ini.

Dalam buku Alex Ferguson: My Autobiography tersebut, Ferguson menyebut Keane sebagai sosok yang mengintimidasi, kejam, serta berlidah tajam. Ferguson pun membeberkan bagaimana ia “menendang” Keane dari Old Trafford.

“Lidah Keane sangat tajam. Ia bisa melemahkan orang paling percaya diri di dunia dalam hitungan detik,” tulis Ferguson. “Itu langkah terbaik yang bisa kami lakukan karena sejumlah pemain terintimidasi oleh dirinya,” kata Ferguson seraya mengingat bagaimana ia harus memisahkan Keane dan Ruud van Nistelrooy yang nyaris bertengkar.

“Mata Keane mulai menyempit. Sangat menakutkan dilihat, bahkan untuk pria dari Glasgow seperti saya,” jelas Ferguson.

Komentar