“Saya Bukan Dipecat Sporting Lisbon”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 27 Desember 2017 | 15:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Martunis adalah putera asli Aceh yang menggegerkan kala tsunami.

Ia selamat dan kemudian oleh Cristiano Ronaldo dikukuh sebagai anak angkat.

DanMartunis mendunia .

Sejak kecil, pemuda yang kini dua puluh tahun, mengaku cinta sepak bola. Martunis sempat menghebohkan dunia sepak bola Indonesia ketika klub asal Portugal, Sporting Lisbon, merekrutnya dua tahun lalu.

Sayang setelah satu tahun berada di klub profesional pertama Ronaldo itu, perjalanan sepak bola Martunis mengalami hambatan.

Kini ambisinya untuk menjadi pesepakbola profesional menemui hambatan setelah sempat mengalami cedera lutut.

Kepada CNNIndonesia.com, Martunis menceritakan kegiatannya selama di Sporting Lisbon dan situasinya saat ini.

Martunis juga bercerita tentang kedekatannya dengan Ronaldo. Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com bersama Martunis.

Apa kegiatan Anda saat ini?

Keseharian saya main sepak bola. Saya sedang fokus untuk penyembuhan lutut dan fitness. Kapan Anda menderita cedera lutut?

Ketika saya bermain dalam laga seperti laga amal di lapangan Kopassus di Cijantung pada akhir 2016. Ketika itu saya bermain dengan Ezra Walian, terus ada Gavin [Kwan Adsit], Hanif Sjahbandi, dan ada beberapa pemain profesional. Saat itu lutut saya pertama kena Gavin, dan berbenturan dengan salah satu pemain PS TNI. Saat itulah saya mengalami cedera lutut sampai sekarang.

Lutut kanan atau kiri?

Kanan.

Kondisinya sekarang bagaimana?

Kondisinya sekarang sudah lumayan, 40 atau 50 persen.

Ada rasa kesal dengan cedera yang Anda alami?

Tidak, mungkin karena sudah waktunya. Musibah.

Ceritakan pengalaman Anda selama di Sporting Lisbon?

Saya berada di Sporting selama setahun kontrak U-19. Di sana saya terkendala karena faktor bahasa, makanan, cuaca, juga postur. Karena di sana banyak pemain yang berasal dari Afrika, Brasil, dan mereka juga tidak banyak yang bisa berbicara bahasa Inggris. Apakah sebelumnya diberikan pembekalan bahasa?

Kemarin saya sempat belajar privat bahasa Portugis selama empat bulan, kemudian saya fokus privat bahasa Inggris.

Bagaimana materi latihan di Sporting Lisbon?

Materinya harus nge-gym dulu selama 10 atau 15 menit, kemudian masuk lapangan. Materinya misalnya hari ini fisik, juggling, terus passing. Kemudian keesokan harinya ada khusus untuk nge-gym selama sejam. Besoknya lagi materinya adu kecepatan, fisik, pembentukan badan.

Di sana paling jarang game dalam latihan, beda dengan Indonesia. Di sana dibuat latihan sekali sentuh dalam lapangan kecil. Katanya, game itu tidak penting. Game itu  penting saat laga resmi, tapi dalam latihan mereka ingin tahu cara passing dan cara menyerang.

Bagi saya agak susah mengerti cara latihan mereka. Game di sana mereka agak cepat dan polanya menyerang. Sepak bolanya keras, berkelahi ya berkelahi. Patah [tulang], ya patah. Mereka bersaing untuk cari posisi utama. Tidak ada kawan dalam lapangan. Kawan itu di luar lapangan saja.

Uang saku Anda di Sporting Lisbon berapa?

Uang saku saya tahun pertama Rp6 juta, yang tahun kedua kurang lebih Rp9 juta. Setelah Sporting Lisbon, ada tawaran dari klub lain?

Sempat banyak klub yang menawarkan saya sebelum kena cedera. Mungkin ada juga klub dari Malaysia, akademi dari California dan Qatar. Tapi setelah cedera lutut, tidak ada lagi klub yang menawarkan saya bermain. Terakhir saya bergabung dengan PS TNI U-21. Namun tak lama setelah saya bergabung, saya langsung berobat pulang ke Aceh.

Kenapa tidak Anda terima salah satu dari tawaran tersebut pada saat belum kena cedera lutut?

Karena pada saat itu sebenarnya saya masih memiliki tambahan kontrak dengan Sporting dengan uang saku tambahan, jadi ya kendalanya hanya di situ. Karena ketika masa kontrak tahun pertama habis, saya langsung perpanjangan kontrak tahun kedua. Dan sebelum saya pulang ke Indonesia, pihak Sporting berpesan agar saya tak boleh ada kontrak dengan satu klub di Indonesia karena sudah ada kontrak [tambahan] di Sporting.

Memang saya belum ada waktu cerita dengan media. Sebenarnya saya bukan dipecat Sporting, tapi memang saya sudah ada kontrak [tambahan]. Saya pulang pada 1 Juni 2016, itu karena masalah visa belum siap. Saya ke Jakarta pada Agustus untuk urus visa. Setelah urus visa, saya rencana mau tes untuk jadi polisi. Tapi tidak jelas.

 

Sebelum tes saya sempat dapat tawaran dari Bhayangkara FC, katanya nama saya bisa masuk untuk jadi polisi, tapi tiba-tiba tidak ada. Lalu orang Sporting bertanya kepada saya. ‘Apakah kamu mau balik ke Portugal?’. Ya, karena saya sudah fokus ke polisi, saya batalkan semuanya. Kata orang Sporting, saya dapat tawaran untuk bermain di tingkatan akademi yang lebih tinggi yakni dari California dan Qatar.

Tawaran itu ada karena sebelum itu, saya sempat ikut seleksi dari akademi California itu untuk naik level di Portugal pada akhir tahun 2015. Alhamdulillah saya lewat dan mereka ingin kontrak saya dengan kerja sama dengan Sporting. Seandainya tawaran itu diterima mungkin saya bakal kuliah dan main sepak bola.

Komentar