Sang Penakluk Yang Terbunuh Dalam Duel Allianz

Penulis: Darmansyah

Rabu, 24 April 2013 | 15:37 WIB

Dibaca: 1 kali

“Duel Allianz.”  Dengan pas, “Bild,” majalah olahraga Jerman itu menyebut laga pertama semifinal Champions, Barca versus Bayern, sebagai “duel.” dua penakluk. Duel mematikan. Salah  tim “penakluk” itu,  yang selama satu dekade terakhir  menjadi “pembunuh” dengan merajai kancah persepakbolaan Europa.

Barcelona yang memperkenalkan “tiki taka” dengan pilar utamanya yang berputar pada sumbu ekselerasi penguasaan bola oleh Lionel Messi memang amat menakutkan. Berputaran yang diikuti dengan “swing polarisasi” perpindahan peran Iniesta dan Xavi dari “playmaker” ke “destroyer” untuk kemudian menjadi “duo striker” dengan Messi dan Pedro adalah keniscayaan.

Belum lagi peran Jourdi Alba dan Dani Alves sebagai sayap gantung yang menyusup bagaikan “hantu”  di kiri dan kanan garis gawang lawan, yang mengingatkan kita pada fungsionalisasi peran bek luar yang dimiliki Madrid dan Ac Milan lewat Alberto Carlos dan Paolo Maldini.

Barca punya keduanya. Alba di kiri dan Alves di kanan. Menakutkan? Iya. Selama ini Alba dan Dani lah yang memperlebar serangan Barca untuk memberi ruang kosong bagi Messi dan Iniesta bergerak bersama Xavi atau pun Cec Fabregas ke pusaran garis gawang.

Cobalah buka video pertandingan Barcelona satu dekade terakhir. Kita akan menyaksikan betapa “sempurna”nya pergerakan Barca dalam bergerak secara cepat, tepat dan akurat ke satu arah. Membuat gol, dengan besi sebagai penebas utamanya. Ini bukan sebuah jargon “klise” dari kesentimentilan kekalahan Barca 4-0 dari tim sangat hebat Bayern Muenchen,

Ini adalah “these” dari sebuah pola yang amat menantang dari eksplorasi permainan 4-3-3. Pola yang mendefinsikan sepakbola menyerang adalah pertahanan terbaik. Konsistenkah Barca menerapkannya?

Jawabannya, ya. Bahkan, ketika Carles Puyol dan Javier Mascherano absen di skuad Barca dalam pertandingan melawan Bayern, Tito Villanova yang berdebat tajam dengan Jourdi Roura selama berjam-jam, tak mau mundur dari pola yang diyakini bisa melepaskan “Blaugrana” dari ketajaman Thomas Mueller yang bergeser ketengah menempati posisi yang ditinggalkan Toni Kroos yang cedera.

Celakalah bagi Barcelona yang tak pernah menyangka pergeseran ini terjadi dan Dante, sihitam kriting yang menjadi pelapis Javi Martinez bisa mengicuh Gerard Pique yang lebih bertumpu pada penghadangan Mario Gomez dan di “belanda” blangsatan Arjen Robben.

Coba rekam kembali dalam ingatan kita ketika gol pertama lahir dari umpan Arjen Robben yang di “heading” lewat sekali lompatan Dante yang membuat Gerard Pique mendua. Ia berada dalam jepitan peran Mueller dan Gomez yang melupakan “kenakalan” Dante dalam melampui lompatan rata-rata pemain belakang Barca, kecuali dia sendiri.

“Heading “ Dante inilah yang ditabrak dengan sundulan tajam Mueller di menit ke-25 itu yang menjengkangkan, tidak hanya Victor Valdes, tapi “Blaugrana” ini secara keseluruhan. Sejak gol itu Barca luluh. Bayern membiarkan mereka menguasai bola sebanyak mungkin dan menghentikannya di blok tengah untuk memperpendek daya serang Ribery yang gerekannya sangat misterius.

Frank Ribery memang “anak celaka” yang menghentakkan serangan dari “one two” bersama David Alaba. Lihatlah gerakannya yang sangat “kacau” bergerak lurus kea rah blok pertahanan Barca. Dia memang menjadi “perusak” ketika Dani Alves alpa mundur dan Sergio Busquets “terperosok” keluar.

Begitu menguasai bola Frank Ribery akan menjentikkan tangannya ke atas untuk mengundang Mueller dan Robben bergerak simetris. Sebagai pemain paling “killer” Mueller akan memosisikan pergerakannya secara sejajar dengan Ribery dan Robben dengan membiarkan Gomez dipecundangi Marc Bartra.

Thomas Mueller jugalah yang sering mengambil posisi Bastian Shwaneinsteiger ketika “playmaker” ini berkelahi dengan Iniesta atau Messi. Bahkan ketika Bastin tergoda lebih maju lagi Mueller mengalah untuk menutup seluruh ruang yang ia tinggalkan.

Itulah episode sebuah laga yang emosional. Episode ketika Messi tidak memerankan fungsinya secara penuh sebagai pemain pembeda yang tidak dimiliki Bayern dan alpa pula menjadi penujuk jalan bagi kawan-kawannya menuju gawang lawan ketika ia masih mengaduh dengan  otot “hamstring”nya yang belum sempurna penyembuhannya. Cedera yang ia bawa dari Paris dan setelah melewati dua pekan lebih belum lagi selesai pengobatannya.

Lionel Messi memang “absen” sebagai penerabas “semak” Bayern. Teater Allianz seperti menghipnotisnya untuk bertanya, siapkan ia bertarung dengan sangat keras dan sangat keras. Messi tak mampu mengalahkan pertarungan cederanya. Ketika ia diterjang  tendangan Dante dan mengaduh pemain fenomenal asal “planet” di luar bumi ini terjebak antara keinginannya untuk “ngotot” atau berkompromi dengan karirnya yang masih terbentang.

Messi mengalah. Ia harus mempertimbangkan cederanya. Ia juga telah diwanti-wanti dokter tim Barca agar tidak “depth” dalam melakukan pergerakan. Ia diinstruksi untuk menghindar dari “tackling” sekali pukul dan tidak melakukan “sliding.”

Ternyata Messi memang tak bisa berbuat banyak membantu timnya keluar dari tekanan Di Roten. Saking minimnya kontribusi yang diberikannya boleh dianggap ia hilang di atas lapangan..

Situs resmi UEFA mencatat dia hanya berlari sejauh 7.409 meter di 90 menit pertandingan. Kalah jauh dari Franck Ribery (10.487 meter), Arjen Robben (10.997 meter), Thomas Mueller (11.199 meter) dan juga rekan setimnya Xavi Hernandez (11.199 meter) serta Andres Iniesta (10.782 meter).

Messi disebut  “Marca,” surat kabar terkenal Spanyol terbitan Madrid,  kehilangan kecepatan. Dia mati kutu saat suplai bola terhenti dari lapangan tengah dan tak berdaya melewati hadangan Dante dan Boateng yang jadi pilar pertahanan tuan rumah. UEFA mencatat, cuma satu tembakan ke gawang yang dilepaskan Messi sepanjang laga tersebut. Angka lain yang tercatat dalam statistiknya adalah tiga, yang menandakan jumlah pelanggaran yang dia terima.

Bersama Alexis Sanchez dan Tito Vilanova, Messi diberi nilai satu oleh Marca. Sementara Andres Iniesta yang jadi penampil terbaik dapat poin tujuh.

Buruknya performa Messi dalam pertandingan tersebut diduga karena dia sesungguhnya belum pulih benar dari cedera hamstring. Disebutkan kalau Messi baru dapat lampu hijau untuk bertanding hanya tiga jam sebelum kick off.

.

 

Komentar