Tunggu Saja Rodgers Dipecat Liverpool

Penulis: Darmansyah

Senin, 24 November 2014 | 09:35 WIB

Dibaca: 0 kali

Brendan Rodgers, pelatih Liverpool, tahu persis bahwa hari pemecatan sebagai pelatih di Anfield akan tiba dalam waktu cepat. Surat kabar terbitan London “Daily Mail” dalam edisi terbarunya, Senin 24 November 2014, memastikan bahwa manajemen sedang mencari pelatih baru untuk menggantikan Rodgers yang dinilai gagal memenuhi ekspetasi tim.

Brendan Rodgers juga menyadari posisinya berada di jalur tidak aman. Ia dikabarkan pasang badan atas serangkaian hasil buruk yang didapat Liverpool di berbagai kompetisi. bisa berujung pada pemecatan dirinya.

Liverpool menderita kekalahan keempatnya secara beruntun di semua kompetisi setelah secara mengejutkan tunduk satu banding tiga gol ketika melawat ke Crystal Palace, Munggu malam WIB, 23 November 2014.
Liverpool belum pernah menang sejak September lalu.

Gagal dapat poin membuat Liverpool terpuruk makin dalam ke posisi dua belas klasemen dengan poin empat belas. Mereka terpaut lima angka dari Manchester United yang sudah masuk empat besar usai mengalahkan Arsenal.

“Itu adalah tanggung jawab saya sebagai manajer, itu pasti. Saya yang memasang tim di lapangan, tim terbaik untuk memberi kami kemenangan. Kami melakukan start dengan bagus.”

“ Anda bisa lihat umpan yang kami lakukan masih tentatif, lalu kami membuat kesalahan. Kesalahan yang tidak seharusnya Anda lihat dari tim yang seharusnya jadi penantang papan atas. Kami gagal mengendalikan pertandingan,” ungkap Rodgers usai laga.

Meski baru musim lalu mengantar Liverpool finis di posisi dua klasemen, Rodgers tahu kalau rangkaian hasil buruk yang didapat ‘Si Merah’ bisa berujung hal buruk padanya. Dia sadar kalau ancaman pemecatan bisa datang kapan saja.

“Saya tidak arogan untuk berpikir kalau saya akan bertahan di pekerjaan ini meski melewati berbagai hal. Setiap manajer akan bilang kalau tugasnya adalah memenangi pertandingan mendapat hasil yang diinginkan, terutama setelah melihat bagaiman kami mengembangkan klub.”

“Tapi saya punya komunikasi yang bagus dengan para pemilik. Kami harus saling jujur tapi yang jelas hasil itu harus Anda dapatkan. Anda harus menunjukkan performa. Di taun pertama saya saat kami tidak dapat hasil yang diinginkan kami tetap tampil baik,” ucap Rodgers di Guardian.

Kekalahan itu menjadi kekalahan ketiga beruntun Liverpool di Premier League. Juga menunjukkan Liverpool tak pernah menang dalam lima laga terakhir.

Rodger pun menyebut mental para pemain terpengaruh akibat kekalahan demi kekalahan itu. Dia pun siap untuk menanggung akibat hasil negatif itu.

“Kepercayaan diri pemain drop saat ini dengan hasil-hasil yang sudah dicapai. Saya rasa intensitas permainan kami juga turut menurun,” kata Rodgers seperti dikutip Sky Sport.

“Kami kebobolan, tapi tak perlu ada seorang pun yang dipersalahkan. Sebagai manajer saya yang bertanggung jaab sepenuhnya. Kami harus lebih ngotot dan kuat dalam pertahanan,” ucap dia.

Dalam laga melawan Cristal Palace itu Liverpool tampil dominan sepanjang pertandingan itu. Soccernet mencatat The Reds dominan dalam penguasaan bola. Liverpool juga bikin banyak percobaan hingga sebelas tendangan tapi hanya satu yang mengarah tepat ke gawang.

Palace hanya bikin sembilan percobaan tapi enam di antaranya tepat mengarah ke gawang.

Pengamat sepakbola yang juga mantan pemain Liverpool, Carragher melihat bukan kali ini saja Liverpool mempertontonkan situasi serupa. Ia melihat ada kesalahan yang bertumpuk-tumpuk di kubu LIverpool.

“Ini lebih dari start yang buruk, ada sesuatu yang salah. Mental buruk, tak ada kepemimpinan di lapangan, dan sebagai fan Liverpool, hal terburuk yang dilihat adalah ketika tim tertindas dan melemah. Nah, itulah yang kami saksikan hari ini,” kata Charragher seperti dikutip The Guardian.

“Itu bukan untuk pertama kalinya. Itu terjadi sepanjang musim. Liverpool kalah bukan karena kualitas, mereka tertindas, mereka kalah karena antusiasme. Setelah mencetak gol mereka kehilangan antusiasme, tak mengancam lawan lagi.

“Ini sebuah situasi yang mengkhawatirkan Mereka membutuhkan empat atau lima pemain. Tak ada pria jantan di dalam tim. Tak ada sebuah tim yang solid di sana. Tak ada kepercayaan diri,” ucap Carragher.

Komentar