Review Premier League: Liverpool vs MU
Fergie tak Memberi Brendan Kemenangan

Penulis: Darmansyah

Senin, 24 September 2012 | 09:58 WIB

Dibaca: 0 kali

Pekik hooligans itu hanya mengapung selama lima menit di langit Anfield, setelah gol elegan Stevan Gerrard di menit ke-46, untuk kemudian senyap ketika Rafael melakukan standing kick di kiri garis gawang Liverpool dan menghantam tiang kanan gawang Jose Reina untuk menimbulkan efek sodokan bola bilyar, dan gooooool.

Sore itu, waktu Metropolitan Merseyside, “The Reds” yang butuh kemenangan dan Sir Alex Ferguson, sehari sebelumnya, berjanji akan membantu Brendan Rodgers mencarikannya untuk enyah dari sirkuit kekalahan, sepertinya pantas bersorak. Paling tidak untuk sejenak melupakan pahitnya ketiadaan angka penuh dalam setiap pertandingannya.

Ketika Gerrard mendapatkannya dan melakukan selebrasi pertama dengan mencium tatahan liver bird di dadanya, sembari tegak dan mengangkat tangan ke langit dengan jari membentuk huruf “V” (victory) sebagai lambang kemenangan, sepertinya, semuanya seolah-olah sudah berakhir.

Ternyata tidak. Sir Alex, yang biasa disapa dengan Fergie, hanya memberi interval lima menit bagi hooligans bernyanyi dengan intonasi musik pelabuhan yang gaduh itu. Musik yang disertai tambur palu yang dipukulkan ke “lunas” dinding kapal untuk melepaskan karat yang melekat.

Rafael di menit ke-51 menyumpal mulut anak-anak kumuh wilayah Merseyside, tempat kota Liverpool bernaung, setelah menyamakan kedudukan 1-1 dalam sebuah atraksi atacking football yang sangat ranggi dari anak-anak Manchester. Permainan pressure, perpaduan antara one-two dengan wall pass, yang memindahkan bola dari blok satu ke blok lain dan menusuk dengan umpan pendek ke garis gawang lawan menjadikan Liverpool keteteran.

Ya itulah MU. Sebuah tim yang seperti dikutip dari Sky Sport hanya bisa dikalahkan oleh sebelas pemain plus. Bukan sepuluh minus, seperti malam itu ketika Liverpool merelakan Shelvey terusir di enam menit sebelum babak pertama berakhir, walaupun MU bermain di bawah performanya.

Jonjo Shelvey (22) melakukan kebodohan dengan mengambil dua kaki Jonny Evans. Tak bisa ditolerir, dan wasit Mark Halsey mengibaskan kartu merah untuk mendepaknya keluar lapangan. Terusirnya Shelvey sepertinya hanya menunda waktu datangnya kekalahan bagi Liverpool dan makin mendekatkan hari-hari akhir Brendan Rodgers, sang pelatih “The Reds”, bermukim di Anfield. Dan kekalahan itu benar-benar datang usai sebuah solo run Valencia dihadang di garis terlarang. Van Persie mengambil tendangan pinalti yang diantisipasi dengan pas oleh Jose “Pepe” Reina, tapi gol.

Usai pertandingan yang berakhir 1–2 untuk MU, secara serempak media Inggris berkejaran menurunkan laporan dengan versi beragam. Bacalah Star, Mirror, 1 yang menempatkan laga MU-Liverpool di covernya dan disejajarkan dengan berita mudurnya Jhon Terry dari skuad Inggris. Intinya pemberitaan itu berotasi pada nasib Brendan, sang pelatih “The Reds” di Anfield dan kemarahan Fergie atas ketidakatraktifan permainan MU di limapuluh menit jalannya pertandingan.

Tanpa memedulikan batasan deadline, media Inggris yang kini beradaptasi menjadi multimedia dan mengikatnya dalam konvergensi yang unik menangkap sinyal komentar sekecil apa pun tentang kedua isu itu. Efek domino yang ditimbulkannya menyebarkan virus di media global hingga regional dan lokal. Bacalah komentar media online di negeri ini. Cermati berapa puluh item produk yang mereka hasilkan dari dampak pertandingan itu.

Media Inggris Sky Corporate yang memiliki anak cucu media, dan menjadi sumber penulisan banyak wartawan di belahan negeri lain, seperti juga Nuga.co, menempatkan nasib kepelatihan Brendan pada analisa dan gosip olahraganya.

“Karir kepelatihan Brendan segera tamat,” komentar Paul Krugers reporter Sky TV, jaringan televisi berbayar milik Rupert Murdoch, setengah bercanda dalam nada usil sembari mengacungkan dua jari kanannya sebagai pertanda perolehan angka dua dari lima pertandingan yang telah dimainkan Liverpool dan urutan kedua dari nomor buncit, 19, di klasemen sementara, hingga Minggu malam, pada awal musim Premier League ini. Menggelengkan kepala di ujung sorot kamera, Krugers sulit menerima kenyataan Liverpool jatuh di zona degradasi. “Saya seorang anak Merseyside………,” katanya tanpa menyadari sorot kamera belum off di siaran live itu.

Krugers sentimentil. Sebenarnya ia tak boleh memanfaatkan peluang untuk emsoional di tayangan langsung. Ia salah. Tapi juga itu tak penting. Seperti juga tak pentingnya barisian judul tentang pertandingan ini dibanyak media, termasuk komentar Jose Mourinho yang mengatakan, jangan berharap “The Reds” mendapatkan trofi.

Gambaran pertandingan Anfield, Minggu malam, antara dua “lord” Premier League, sebenarnya bukan sebuah tontonan menarik. Berjalan lamban dengan kesalahan intersepsi dan akselarasi pemain yang tidak selaras untuk bertarung di setiap blok menjadikan style permainan yang sangat Inggris menguap di laga itu.

Kita tidak disuguhi pola 4-4-2 kick and rush yang unik dengan sayap gantung dan long passing ke kotak penalti. Atau pun dominannya fungsi sayap sebagai alarm sebelum menjadikan kotak penalti sebagai tempat pertarungan para pemain yang bak gladiator. Kita tidak juga disuguhi akurasi tackling mematikan, tetapi bersih dan wasit enggan meniup peluit untuk memberikan free kick. Bahkan ketika kita menginginkan sebuah tontonan pressure di garis gawang dengan umpan pendek disertai trik akselarasi pemain tanpa bola itu pun seperti raib. Walaupun sekali dua ada dipertontonkan, seperti sebelum lahirnya gol Steven Gerrard, atau pun ketika MU tersentak usai ketinggalan 0-1, tapi secara keseluruhan nonsens.

Untuk itu, mungkin, Fergie dengan nada marah ketika dikerumuni wartawan usai keluar kamar ganti mengatakan, hasilnya bagus tapi permainannya jelek. Kemarahan Fergie ini adalah sebuah fragmentasi permainan MU yang tidak menggigit dan banyaknya umpan yang di-cross ataupun rotasi pemain ketika menyerang tidak mengikuti alur.

Kita tidak melihat umpan Giggs yang akurat melewati tumit pemain lawan. Kita juga tidak melihat passing mendatar Rio Ferdinand yang elegan usai memasuki blok tengah yang mendatar dan sulit diduga arahnya. Dan juga, lihatlah Persie yang kebingungan di blok pertahanan lawan macam anak bloon menunggu mainan disodorkan. Ia tidak bergerak simetris dengan pergerakan Valencia, Nani atau pun Kagawa sehingga kesulitan melakukan tendang bebas ke arah gawang. “Persie tak Berkutik,” tulis Sky Sport tentang peran yang dimainkan pemain asal Belanda yang transfer dengan sangat heboh dari Arsenal itu.

MU, seperti ditulis Mirror dalam sebuah item beritanya di laman content sepakbolanya, tampil setengah hati dan mengecewakan. “No full works.” Tidak sepenuh bekerja. Berlainan dengan Fergie yang tidak puas dengan penampilan timnya, Brendan Rodgers di ruang wartawan mengangkat telunjuknya dan mengatakan, Liverpool tampil bagus. Di ujung kalimatnya ia mengumpat tentang peran Mark Halsey, sang wasit, yang menolak meniup pluit untuk memberikan penalti bagi Luis Suarez yang dijatuhkan di kotak penalti. Umpatan Brendan disambut dengan nada yang sama oleh Neville, mantan anak Old Trafford. “The Reds memang berhak mendapat penalti setelah Suarez dijengkangkan. Itu tidak adil,” katanya gemas.

Seperti bersahutan dalan nada sama, sang kapten Steven Gerrard juga mengecam kartu merah untuk Jonjo Shelvey. “Tidak harus terjadi,” kata pemain yang sempat mendelik Rafael ketika dijatuhkan di akhir babak pertama. “Evans seharusnya juga diusir.”

Terlepas dari kekecewaan, kritik dan umpatan terhadap jalannya pertandingan Liverpool-MU di Anfield, yang jelas magnet sepakbola Premier League masih didominasi oleh pertarungan kedua barrons itu. Dan tak bisa dipungkiri merekalah ikon sebenarnya sepakbola Inggris, bukan Chelsea, Arsenal, City atau Hotspur. []

Komentar