Ramadhan-nya “Liga Muslim” Disepakbola Europa

Penulis: Darmansyah

Selasa, 9 Juli 2013 | 14:41 WIB

Dibaca: 14 kali

Pesepakbola Bayern Muenchen Frank Ribery, kiri, bersama dua pemain sepakbola lainnya saat berumrah

Sebutlah nama Demba Ba, Yaya Toure dan Samir Nasri di premier league. Masih ada Karim Benzema, Mesuth Ozil, Sami Khedira, dan Ibrahim Affelay di la liga Jangan lupakan nama Frank Ribery yang sudah berhaji dan dua kali umrah.

Itulah nama-nama tenar dari banyak nama lain di liga-liga Europa yang harus menjalani “ritual” Ramadhan. Mereka harus “bertarung” dengan dahaga dan menjaga kabajikan ditengah tuntutan “profesionalitas” pemain sepakbola.

Seperti tahun lalu, perputaran liga yang berlangsung dalam “bulan” suci ini, sebagian mereka tetap kukuh untuk berpuasa walau pun harus “mengabdikan” diri dengan bermain diakhir pekan. Sebut saja Yaya Toure, seorang muslim asal Ghana yang bermain di klub Manchester City.

Yaya juga selalu mambawa Al Quran ke kamar ganti dan membacanya dengan berguman di tengah instruksi pelatih tentang strategi dan taktik permainan. Yaya tercatat sebagai muslim sejati.

Memasuki Ramadhan, tahun ini rutinitas sehari-harinya para pemain, tak terkecuali, Yaya, harus berlatih, bahkan melakoni pertandingan yang pastinya menguras fisik.

Yaya tak pernah “membuka” puasanya kalau turun ke lapangan. Dan harus juga diingat ia tak pernah mendegradasikan permainannya. Begitu juga dengan Frank Ribery asal Perancis yang bermain di Bayern Muenchen.

Ribery seorang mualaf. Tapi ia terkenal tekun menjalani ibadah. Tak terkecuali puasa, ia juga berhaji dan dua kali umrah. Ia termasuk pemain yang tidak “melepaskan” puasanya kala turun ke lapangan.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah pesepakbola di Eropa yang beragama Islam terus bertambah. Sampai saat ini, tidak diketahui berapa jumlah pasti para pemain muslim yang bermain di kompetisi Eropa.

Namun, hampir di semua liga di dunia, ada pemain yang beragama Islam. Kompetisi Premier League yang terkenal sebagai kompetisi paling ketat dan tidak mengenal jeda, juga banyak dihuni pemain muslim.

Yaya Toure, Samir Nasri, Edin Dzek, Kolo Toure, Demba Ba, Papiss Cisse, Hatem Ben Arfa dan dan Bacary Sagna ialah beberapa pemain muslim yang berkarier di kompetisi paling elite di Inggris.

Meski terkenal sebagai liga yang tidak mengenal libur, namun para pemain muslim di atas tetap berusaha menjalankan ibadah saat memasuki bulan Ramadhan, yakni berpuasa.

Memang, sempat terjadi pro-kontra lantaran di sisi lain klub menuntut komitmen mereka untuk memberikan yang terbaik. Sementara di sisi lain, para pemain yang berpuasa tak bisa mengelak apabila kondisi kebugaran mereka tidak seperti biasanya.

Demba Ba pernah mengalami hal ini saat masih memperkuat Newcastle. Kala itu, dia sempat berujar, “dirinya siap digantikan apabila pelatih menilai dirinya tidak tampil maksimal karena dia berpuasa.”

Di Newcastle para pemain muslim merupakan yang terbanyak. Di skuad utamanya saja ada enam pemain, yang berarti hampir setengah anggota tim,, yang muslim. Selain Dem Ba, yang hijrah ke Chelsea, masih ada enam nama lain seperti, Papiss Cisse, Hatem Ben Arfa, Moussa Sissoko, Cheick Tiote dan Harris Vuckic serta
Mehdi Abeid,

Di Madrid ada Karim Benzema, Sami Khedira, Sulley Muntari dan Mesuth Ozil. Bahkan Selley Muntari dikritik pelatih Jose Mourinho yang menyebut, “Muntari tidak bermain baik karena berpuasa.”

Akan tetapi, pada akhirnya pihak klub mengerti, bahkan memfasilitasi kebutuhan ibadah mereka. Bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa, para pelatih memberikan kelonggaran dengan tidak mengurangi porsi latihan.

Untuk kebutuhan lain, seperti salat atau sebagainya, beberapa klub bahkan membuatkan sebuah ruang khusus, seperti yang dilakukan manajemen klub Newcastle United yang membuatkan Musala untuk para pemain muslimnya.

Selain itu, bentuk toleransi lainnya ialah peniadaan seremoni pemberian sampanye kepada pemain yang menyandang predikat man of the match dalam satu laga Premier League. Hal ini, menyusul penolakan Yaya Toure untuk menerima sampanye usai jadi pemain terbaik. Mulai dari situ, seremonial sampanye diganti dengan penyerahan trofi kecil untuk man of the match.

Untuk musim ini, para pesepakbola muslim tampaknya bisa menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk. Pasalnya, bulan Ramadan tahun ini jatuh pada saat kompetisi tengah libur, dan roda kompetisi di Eropa baru akan kembali digelar pada medio Agustus, atau setelah hari raya Idul Fitri.

Komentar