PSG Tumbangkan Tradisi Keperkasaan Valencia

Penulis: Darmansyah

Rabu, 13 Februari 2013 | 12:04 WIB

Dibaca: 0 kali

* Ibrahimovich Diusir Wasit

KLUB “super “kaya Paris Saint-Germain  mengakhiri rekor buruk tim Perancis, dalam   tujuh belas laga terakhir di  Mestalla  Stadion,  dengan  membunuh ambisi  Valencia, tim “kelelawar” yang di “baptis” dengan nama “Los Che,” untuk melanjutkan tradisi keperkasaan tak terkalah di rumahnya,   lewat kemenangan  tim  asuhan “Don” Ancelotti itu  2-1 di pertandingan paling dramatis  leg pertama 16 Besar Liga Champions, Rabu dinihari WIB.

Carlo Ancelotti, yang terkenal dingin dan santun itu, mengangkat tangan, meninju angina serta meneriakkan kata “yes” begitu kemenangan betul-betul sudah berada digenggamannya. Mantan pelatih AC Milan dan Chelsea itu bergegas menuju kamar ganti dan mengusap satu persatu pemainnya. “Ia tampil dengan watak aslinya sebagai “don mafioso” yang menjunjung setinggi langit pengabdian pemain untuk mati di lapangan meraih sukses,” tulis surat kabar Spanyol, “Marca” dalam edisi terbarunya setelah kemenangan PSG.

Valencia, yang malam itu kelihatan gugup, memang tidak tampil dalam “form” terbaiknya. Tim yang berjulukan “Kelelawar Mestalla”  itu,  yang baru saja sembuh dari “under estimate”nya usai ditangani pelatih Mauricio Peleggrino, terlambat “start” ketika PSG sudah melakukan “attacking scrimmage.”  Klub yang dalam tujuh penampilannya terakhirnya  hanya sekali  kalah itu, mencoba konsisten untuk meredam klub  dari Stade de Franc itu.

PSG yang dihadapi Valencia malam itu memang bukan klub Paris, yang dulunya, tertatih di kompetisi liga local dan tak pernah bisa terangkat ke elite Eropa. PSG malam itu adalah sebuah klub kaya bertabur bintang dan ditukangi seorang “Don” Carlo yang pernah menabur ketakutan bagi klub-klub di pelataran kompetisi Erpa ketika masih mengasuh Milan

Berlainan dengan PSG yang memiliki dana tak terbatas untuk mengisi skuadnya dengan pemain bintang, Valencia justru sedang dibelit utang yang menyebabkan mereka berada di tepi jurang bangkrut. Untuk menyelamatkan eksistensi Valencia beberapa tahun ini justru menjual para bintangnya. Sebut saja David Villa, David Silva, dan Juan Mata.

Valencia kini terpaksa dikelola pemerinta daerah Valencia. Sebab, yayasan Valencia yang sebelumnya menangani klub ini gagal menyediakan garansi keuangan sebagai syarat mengikuti kompetisi. Bahkan, klub berjuluk El Che (kelelawar) ini masih terbelit utang  yang sangat besar,  400 juta euro (sekitar Rp 5,1 triliun) pada musim 2010-2011.

Menurut laporan transfer terakhir yang dimuat Prime Time Sport, PSG telah menghabiskan dana 249 juta euro (sekitar Rp 3,2 triliun untuk membeli pemain. Sehingga, PSG pun kini menjadi tim elit, karena Pelatih Carlo Ancelotti dimanja dengan banyak bintang.

Maka, secara materi Valencia memang kalah dibanding PSG. Defender Valencia, Joao Pereira mengatakan, PSG tak hanya Zlatan Ibrahimovic. Namun, 10 pemain lainnya juga berkualitas tinggi.  Namun, sering kali sepak bola mendatangkan anomali. Tim besar tak selalu menang. Apalagi, Valencia punya kelebihan sebagai tuan rumah yang tentu akan tampil habis-habisan

Dalam pertandingan PSG melawan Valencia, yang oleh pengamat dikatakan sebagai salah satu laga terbaik,  pendukung Valencia di Mestalla membuat koreografi lampion yang bertuliskan, “Buatlah impian kami jadi kenyataan”. Sebelum pertandingan ini, Valencia tak terkalahkan di Liga Champions, dengan mengantongi 6 kemenangan plus 3 kali imbang, dan  itulah yang membuat Mestalla dipadati 55.000  lebih penonton.

Tapi harapan “El Che”  tidak kesampaian. Dalam  10 menit pertama dan puncaknya kolaborasi  “one – two”  Javier Pastore dengan Ezequiel Lavezzi diakhiri dengan indah. Sepakan melengkung Lavezzi gagal diantisipasi Vicente Guaita. PSG unggul 1-0.

Kelelawar Mestalla baru keluar dari tekanan lawan di menit ke-20. Dengan memanfaatkan sundulan tak terarah Christophe Jallet, Ever Banega menguasai bola. Ia pun mengeksekusi dari ujung kotak penalti PSG. Hasilnya, bola melambung di sebelah kiri gawang Salvatore Sirigu.

Dua menit jelang turun minum, Les Parisiens memperbesar keunggulan. Berawal dari sayatan Lucas Moura dari sayap kanan, gelandang serang Brasil itu beringsut dari sergapan lawan. Lucas kemudian memberi umpan matang dan tanpa ampun Pastore melesakkan bola tanpa mampu dimentahkan Guaita.
Tujuh menit setelah jeda, Valencia mendapatkan peluang melalui pemain penggantinya. Tembakan Nelson Haedo Valdes sempat mengenai pemain PSG, bola berbelok. Namun, Sirigu masih dapat mencegahnya masuk ke jalanya.

Pada menit ke-61, Zlatan Ibrahimovic hampir menambah gol PSG, menyusul serangan kilat timnya. Namun, Guaita masih dapat mementahkannya, dan bola liar masih menghampiri Lavezzi. Sayang, sontekan akhirnya masih melebar.

Meski menguasai bola sebanyak 62 persen hingga menit ke-82, Valencia nyaris tak berkutik menilik dari minimnya peluang yang ada.  Pada menit ke-90, Valencia sukses memperkecil kekalahan. Bermula dari umpan matang Tino Costa, Adil Rami mengeksekusi bola dari jarak dekat dan menaklukkan Sirigu.
Petaka datang pada injury time menit kedua, saat Zlatan Ibrahimovic dikeluarkan dari lapangan. Wasit Tagliavento menilai bomber Swedia itu melakukan pelanggaran berat terhadap Andres Guardado dan langsung menghadiahkannya kartu merahnya secara  langsung.

Meski akhirnya berhasil mempertahankan kemenangan 2-1, PSG harus kehilangan Ibrahimovic dalam laga kedua di kandangnya nanti. Bek Paris Saint-Germain (PSG), Mamadou Sakho, usai pertandingan kepada “BBC Sports” mengatakan, menyesali dikeluarkannya Zlatan dan lahirnya gol hiburan dari Valencia. yang dicetak Adil Rami.

“Kami sangat kecewa kebobolan gol seperti itu. Terutama, gol itu terjadi tepat jelang pertandingan usai,” kata bek asal Perancis tersebut. Kendati demikian, Sakho cukup mensyukuri hasil yang didapat PSG. Pasalnya, kemenangan ini menjadi modal penting saat Les Parisens gantian menjamu Valencia di Stadion Parc des Princess, 6 Maret mendatang.

Komentar