Petaka MU Dari White Hart Lane

Penulis: Darmansyah

Senin, 21 Januari 2013 | 14:19 WIB

Dibaca: 2 kali

ALEX Ferguson meradang di suhu udara yang menggigit di White Hart Lane  ketika wasit mengibaskan kedua tangannya usai bek Tottenham, Steven Caulker, menjatuhkan Wayne Rooney  di menit ke-66. Sambil melumat dengan kencang permen karet di mulut dan menuding hakim garis yang tidak mengangkat bendera kuning, ia berkata dengan ketus,”buta. Lihat itu. Ronney dijatuhkan. Kami dipecundangi.”

Bagi Fergie, begitu si gaek Old Trafford itu di sapa, mulut tajamnya memang sudah jadi hapalan media untuk menghujat wasit dan hakim garis. “Malam itu Ronney memang dijengkangkan Steven Caulker. Tapi masih harus diperdebatkan apakah harus penalti?” tulis “Asocciated Press Sport” tentang pelanggaran itu.

Pertandingan di White Hart Lane adalah laga tandang yang cukup berat dari “The Reds Devils” karena “back factor”  yang menghantui mereka sepanjang musim  belum selesai pembenahannya. MU masih berkutat dengan tumpang tindihnya cedera pemain belakangnya selama musim ini sehingga harus melakukan rotasi terus menerus.

Rotasi ini sedikit lebih mudah untuk “line” depan karena kehadiran van Persie dan solidnya Si Chicaritto. Sehingga begitu Wayne Ronney, yang sering cedera, absen mereka tetap produktif menghasilkan gol.  Produktifitas pemain depan MU ini berbanding terbalik dengan pemain belakang yang jumlah gol kemasukan juga sangat besar.

Perimbangannya terlihat dari jumlah memasukkan dan kemasukan yang 57 gol berbanding 30 gol. Padahal City dan Chelsea, peringkat dua dan tiga klasemen Premier League selisih memasukkan dan kemasukan  jauh lebih baik perbandingan, sehingga menimbulkan kegusaran Fergie karena pada musim lalu mereka hanya  kalah selisih gol dari City untuk merebut juara.

Pertandingan tanda di markas Tottenham tidak hanya penting bagi MU untuk memelihara jarak tujuh angka dengan klub sekotanya Manchester City, tetapi juga menjadi ajang uji coba soliditas pemain bertahannya dalam melewati hadangan berat di pertandingan sisa liga. MU masih harus berhadapan dengan Chelsea, Arsenal dan City untuk membuktikan  trek “record”nya masih layak jadi juara.

Ujian di White Lane hanya mendapat setengah hasil setelah mereka dihadang oleh Tottenham bermain seri, 1-1. Memang, secara kekuatan Spurs bukan tim enteng setelah ditangani pelatih muda asal Portugal,  Villas Boas yang di sapa dengan AVB di lingkungan Liga Primer. Boas, sebelum kedatangan Reds Devils sudah mencanangkan akan membuat tim Old Trafford itu untuk berhitung dengan cermat tentang kesolidan mereka di musim ini.

“Kami akan mempertahankan posisi Liga Champions. Urutan empat tidak terlalu jelek. Tapi kami ingin lebih dari itu,” kata Boas menantang Fergie. Pelatih MU itu mengakui Spurs bukan lawan kacangan. Ia menunjuk  Gareth Bale yang sangat ambisius dalam merobek jala lawan. “Mereka memang tim yang bagus,” aku Fergie dengan jujur.

Pertandingan kedua tim berlangsung seimbang dengan pola yangt berbeda. MU mengandalkan serangan balik terorganisir yang sangat cepat khas “Setan Merah.” Sedangkan Tottenham lebih taktis dan menekan terus menerus untuk menciptakan peluang lahirnya gol.

MU yang susah dijinakkan  ketika pemainnya merangsek  ke  kotak penalti, mengharus pemain belakang Spurs menghempang dengan keras. Pelanggaran demi pelanggaran memang terjadi di luar garis gawang Spurs. Tapi Micahels Dawson dan Kylie  Walker “mengambil” dengan “tackling” sempurna. Upaya membunuh pergerakan MU lebih banyak di lakukan di “second line” pertahanan Spurs untuk menghindari penalti. Hal itu sudah diwantiwanti oleh AVB. “Tidak mudah untuk mematikan van Persie dan Ronney di garis gawang,” katanya mengingatkan.

Kecepatan MU memang dibuktikan dari gol yang dijebloskan van Persie pada menit ke-25 dengan sundulan setelah memotong umpan Clevery. MU memang tidak banyak melakukan utak atik umpan. Mereka mengambil garis tegas dengan melakukan serangan begitu menguasai bola.

Berlainan dengan Spurs yang sabar, menekan dan membuat kemelut di blok pertahanan MU. Aaron Lennon, Jerman Defoe dan Gareth Bale secara bergantian melakukan tendangan keras yang kalau tidak menyamping atau melewati mistar dapat di blok kiper David Gea.

Spurs tak putus asa ketika MU, sepertinya, akan membawa pulang angka penuh dari laga tandangnya di White Hart Lane  ketika menit ke-90  klub Manchester itu masih unggul 1-0,  dan mempertahankan selisih tujuh angka dari klub sekotanya Manchester  City.

Tapi malapetaka itu akhirnya datang juga bagi Fergie ketika Clint Dempsey menyempurnakan umpan Aaron Lennon di “injuri time”  dan mematikan reaksi David Gea untuk menyamakan kedudukan 1-1. Gol Dempsey itu memuramkan wajah Fergie dan ia hanya ngoceh tentang hakim garis yang tidak adil. Tapi Fergie lupa tentang kesabaran AVB menunggu gol dari tekanan yang terus menerus dilakukan oleh pemainnya

 

Komentar