Pesona van Gaal dan Ryan Giggs di MU

Penulis: Darmansyah

Rabu, 26 November 2014 | 06:22 WIB

Dibaca: 0 kali

“Ryan Giggs dan Louis van Gaal dua simbol Manchester Baru.” Atau “New United.” Itu yang ditulis oleh pengamat sepakbola Inggris Martin Keown di “Daily Mail” tentang peran Giggs terhadap kepelatihan Louis van Gaal.

Tak percaya? Saksikanlah betapa saling membutuhkan kedua tokoh itu ketika United bertanding. Tidak hanya di old Trafford. Tapi juga di Etihad maupun Emirates ketika “The Red Devils” menjalani laga tandang.

“Asik,” begitu tulis Keown, yang terpesona dengan keakraban keduanya di “bench” United. “Mereka merupakan perpaduan paling asik untuk disaksikan di setiap laga MU. Kita juga bisa menyaksikan betapa kompaknya mereka kala mengawasi latihan pemain. Saling mengingat dan saling diskusi,” tulis Keown dengan emosianal.

Ryan Giggs, yang gantung sepatu pemain pertengahan Mei 2014 lalu, langsung melanjutkan kariernya sebagai pelatih sepakbola. Pria Wales itu memulainya sebagai asisten pelatih Manchester United di periode David Moyes dan melanjutkannya di kepelatihan Louis van Gaal.

Di ujung musim lalu sempat mencicipi jabatan manajer interim United, setelah manajemen memecat Moyes di empat laga penutup. Dan setelah beberapa bulan musim ini menjadi asisten pelatih Van Gaal.

Giggs mengakui banyak belajar dari manajer berjuluk “Si Tulip Besi” asal Belanda yang dijuluki sebagai “monster” pelatih.

Apakah, hanya Giggs yang belajar dari van Gaal?

“Tidak,” kata van Gaal disebuah kesempatan. “Saya juga belajar dari Giggs bagaimana kompetisi Premier League berjalan. Dia lebih tahu dari saya tentang liga dan United,” kata van Gaal kepada “Mirror.”

Bagaimana hubungan keduanya? Bak simbiosis mutualisme. Kkarena keduanya dapat bertukar informasi yang menguntungkan. Van Gaal dengan segudang pengalamannya melatih klub-klub besar Eropa, dan Giggs yang paham betul kultur The Red Devils karena merupakan legenda klub sejak dua puluh empat tahun lalu.

“Hubungan kami baik. Ia sangat baik kepada saya dan ia memberikan saya banyak tanggung jawab. Ia tidak mengenal saya sebelum saya bertemu dengannya dan pramusim sangat membantu karena Anda bersama selama tiga pekan dan Anda kenal satu sama lain,” terang Giggs memberi kesan tentang van Gaal kepada “Daily Mail,” Rabu, 26 November 2014.

“Cukup cepat bagaimana perkenalan terjadi, tak hanya bagi manajer, tapi juga seluruh staff. Saya mengenal klub, saya tahu kulturnya dan saya mencoba membantu manajer dengah hal tersebut. Tapi jelas ia orang yang berpengalaman dan ia pernah menangani berbagai klub,” lanjutnya.

“Kami mencoba dan belajar sebisa mungkin satu sama lain. Saya tahu beberapa pemain lawan yang kami lawan karena saya bermain melawan mereka. Kami hanya membantu sama lain, tapi dialah manajernya dan ia yang membuat keputusan. Saya mencoba banyak belajar darinya,” tuntas mantan pesepakbola berkaki kidal itu.

Giggs memberi satu kesan ketika van Gaal sempat panik dalam menghadapi laga yang diadakan di Emirates Stadium itu, lantaran dirinya harus menurunkan beberapa pemain muda yang belum memiliki jam terbang tinggi.

Namun Giggs memberitahu bahwa kinerja para pemain muda bisa membantu tim. Dan hasilnya Setan Merah menang dan sukses menapak ke posisi empat klasemen sementara

Tentang ini, van Gaal mengatakan,“Saya yakin jika kami sudah melakukan keputusan terbaik. Ini adalah kehidupan pelatih. Hasil akan membuat Anda tahu alasan di balik memanggil pemain atau tidak. Saya tidak bisa melakukan hal lain karena saya tidak memiliki banyak pemain,” kata Van Gaal seperti dilansir “Sportmole.”

“Saya rasa para pemain sudah melakukan hal fantastis. Tyler Blackett, Paddy McNair and Luke Shaw, berapa umur mereka? Jadi saat Anda berlaga melawan tim seperti Arsenal, tim yang selalu mengubah posisi, kalian harus memiliki komunikasi yang baik. Saya rasa ini hal yang baik, tapi saya tidak senang dengan performa secara keseluruhan,” sambungnya.

Belum lama ini sebuah film dokumenter mengangkat kisah Ryan Giggs saat diangkat menjadi manajer dadakan Manchester United musim lalu itu. Giggs bercerita mengenai kisahnya saat diangkat menjadi manajer interim Setan Merah, menggantikan David Moyes.

Kepala Eksekutif MU, Ed Woodward meminta Giggs menjadi manajer sementara, musim lalu. Kisah pria asal Wales itu terangkum dalam film dokumenter, ‘Life of Ryan’ berdurasi satu jam dua puluh satu menit.

“Kami kalah dalam pertandingan melawan Everton. Hari Senin, kami memiliki waktu istirahat. Saya mendapatkan banyak telepon dan juga SMS,” ujar Giggs dalam ‘Life of Ryan’ seperti dikutip The Sports Review.

“Beberapa orang yang berbeda bertanya pada saya apakah saya mendengar sesuatu. Saya tak menggunakan media sosial atau membaca koran jadi tak tahu apa yang terjadi. Rupanya ini mengenai rumor bahwa manajer akan pergi,” lanjut Giggs.

Giggs menuturkan, saat itu Woodward mengatakan Moyes akan dipecat. Giggs merasa sedih karena tak ingin ada orang yang kehilangan pekerjaan.

Setelah itu, Woodward bertanya apakah Giggs siap menangani MU dalam 4 pertandingan sisa Premier League. Pria asal Wales ini pun tak ragu mengambil kesempatan tersebut.

“Saya senang melakukan ini. Ini merupakan hari yang gila. Saya tak pernah punya waktu untuk duduk dan memikirkan ini. Mungkin saya akan memukul diri saya akhir pekan ini, atau saat saya hadir di konferensi pers, atau masuk dalam stadion untuk pertandingan,” ucap Giggs.

“Saya keluar dari zona nyaman saya. Ini merupakan pengalaman yang aneh. Saya mungkin bukan orang yang tepat, atau mungkin belum siap,” tambahnya.

Komentar