Pertarungan Hingga “The Last Minute”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 3 April 2013 | 08:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Pertarungan “the last minute.” Pertandingan hingga menit-menit terakhir. Sebuah laga emosional, laga keras dan lega prestise. Itulah tontonan yang diperagakan Paris Sain-Germain dan Barcelona di Stade Parc des Prince Rabu dinihari WIB, yang harus dibayar dengan skor 2-2. Skor yang pantas untuk harga perkelahian yang menggeletakkan Lionel Messi dan Mascherano disertai dua belas kartu kuning untuk pemain kedua tim.

Jamuan Parc des Prince, stadion yang terletak persis di jantung kota Paris itu, tak pelak pantas disebut sebagai “grand final” yang “premature.”  Final yang terjadi lebih awal. Final  menyajikan sepak bola menyerang dari satu kutub pola 4-3-3 yang dimodifikasi oleh kedua pelatih, Tito Vilanova dan Carlo “Don” Ancelotti dengan sangat apik. Dua pelatih yang tak perlu diragukan lagi posisinya di lingkungan elite sepak bola Europa.

Sebutlah “Don” Ancelotti yang sangat dingin  profilnya, khas “baron” mafia, tapi jangan anggap enteng karir sepak bolanya. Ekspresinya yang tenang dan hanya bereaksi ringan ketika timnya dipecundangi dan menghasilkan kemenangan, merupakan “prototype”nya sejak bermain sebagai gelandang AC Milan hingga manajer di klub yang sama dan mempersembahkan trofi  Lega Calcio dan Champions untuk klubnya.

Reaksi yang sama,  tak kalah dipertontonkan Tito Vilanova, yang malam itu dibalut syal tebal dilehernya, berdiri macam “spink” dengan pandangan tajam ke lapangan serta mencatat di memorinya bagaimana mengatasi keuletan Paris Saint-Germain. Vila, begitu sang pelatih yang sebelumnya menjadi asisten Pep Guardiola di Barca, baru saja mengakhiri terapi usai operasi kanker di New York.

Baik Barcelona maupun PSG tidak melakukan intermediasi begitu “kick off” di mulai. Keduanya bergerak simultan secara silih berganti merangsek pertahanan lawan untuk menguji ketangguhan masing-masing. Barca memang melakukan serangan “tiki taka” lebih awal.

Ada kesan Barca akan mendiktekan permainan umpan pendek dalam bangunan permainan “one-two” atau atau pun mengubahnya dengan jalinan “wallpass” yang rumit tapi enteng dimainkan Messi, Iniesta, Alves dan Alba. Kesan ini terlihat dari keberanian Tito menempatkan bek sayapnya Alba dan Alves melakukan swing. Bahkan Alves terlihat lebih banyak berperan sebagai gelandang ke timbang bek kanan yang “overlapping.”

Paling tidak “swing position” yang dimainkan Tito untuk Dani Alves tidak hanya mengejut PSG, tetapi juga menuai lahirnya gol pertama untuk Barcelona. Dari umpan Alves di  sentral “second line”  PSG  yang akurasinya sangat tinggi di songsong dengan pergerakan di rusuk kanan gawang Sirigu. Dengan sekali kontrol dadanya Messi menjinakkan bola dalam sepersekian detak dan melesatkannya  melalui tendangan permukaan kakinya, dan Sirigu tak mampu menghempangnya.

Sebuah gol, seperti biasanya,  bernuansa “masterpiece” yang lembut khas Messi. Dan Barca unggul 1-0 di menit ke 37 itu. Gol yang menghentak dan membuat sorak elegent Parc des Prince yang memberi dukungan kepada klub kaya kota Paris itu tersedak dalam diam.

Petualangan Barca tidak terhenti dengan gol Messi itu. Mereka terus mengejar kemenangan. Tapi, hingga tutup babak pertama PSG harus melakukan revisi untuk mementahkan cabikan kekalahan. Lionel Messi memang telah  membuka keunggulan Barca.

Gol Messi itu bukan akhir  pertandingan. Pada paruh babak  kedua  pertandingan, sontekan Zlatan Ibrahimovic menyetarakan kedudukan menjadi 1-1. Ibrahimovic memang tampil menerjang. Ia melakukan sebuah tendanggan lembut dari bola “rebound” . dalam posisi yang sangat sulit dan sempit.

Blaugrana yang ditinggal Messi karena ditarik keluar lapangan di babak kedua karena cedera otot “hamstring”nya dan  digantikan oleh Cec Fabregas masih mampu  menciptakan gol keduanya semenit jelang waktu normal usai, melalui eksekusi penalti Xavi Hernandez. Penggantian Messi ini memang mengurangi pekerjaan bek PSG. Dan Barca melakukan serangan dari kedua lewat umpan terobosan.

Ketinggalan satu gol itu  tidak berhenti PSG  memburu gol. Ketika pengamat, penonton dan memirsa televisi yang menyaksikan tayangan langsung pertandingan mengeluh lewat kata akhir, PSG kalah,  Matuidi memberi kejutan  saat injury time tinggal setengah menit lewat gol spektakulernya dari sebuah “assis” Zlatan Ibrahimovic.

Gol ini menghindarkan Les Parisiens dari kekalahan di depan publik sendiri. Tim yang dibangun secara instant lewat gelontoran uang “petro dollar” Pangeran Qatar itu  bisa menegakkan kepala sebagai sebuah legion  yang telah mengisyaratkan ancaman bagi kemapanan klub yang telah duluan mendominasi Liga Champions.

PSG  sepanjang pertandingan bukan seperti AC Milan atau pun Celtic yang mengalahkan Barca dengan permainan “grendel” dan mengandalkan serangan balik. PSG tak pernah takut dengan “tiki taka.” Mereka tidak hanya menyalin permainan Madrid, yang bulan lalu dua kali mengalahkan “blaugrana,” tapi juga menghadirkan nuansa  baru dalam gaya PSG yang melayani seluruh “gertakan” dan “goyangan” klub Catalan itgu.

Bahkan dimenit-menit awal sebuah  peluang membukukan gol ketika tendangan keras Ezeiquel Lavezzi memperdaya kiper Barcelona Victor Valdes.  Namun, bola masih mengenai tiang kiri gawang Blaugrana.

“Kami bermain dengan fantastis. Kami tak beruntung mencetak gol pertama pada paruh perdana, Lavezzi punya kesempatan bagus. Pertandingan pun seketika berubah saat lawan mencetak golnya,” tutur  Ibrahimovic kepada wartawan surat kabar “Parisien”  seusai pertandingan.

Walau pun menguasaii 35 persen pertandingan, kubu Carlo Ancelotti sanggup membukukan tujuh tembakan ke gawang. Sementara Barca yang menguasai bola 65 persen, hanya membukukan delapan peluang yang mengarah ke sasaran.

Salah satu peluang PSG akhirnya mampu dimaksimalkan Matuidi. Gelandang tim nasional  Perancis itu menyambut umpan sundulan Ibrahimovic dan bola hasil tembakannya berbelok arah setelah mengenai bek pengganti Barca, Marc Bartra. Kiper Victor Valdes punn terpedaya, setelah telanjur bergerak ke sebelah kirinya, sementara bola meluncur ke arah sebaliknya. Valdes sempat menepis bola, namun saking kencangnya bola tetap melampaui garis gawangnya.

“Kami senang dengan apa yang kami hasilkan saat melawan tim terbaik dunia. Kami menunjukkan Paris yang tampil hebat. Laga tandang telah menanti. Kami akan lakukan segalanya, tetapi kami senang dengan hasil pertandingan ini,” cetus Matuidi.

Hasil imbang dari pertandingan tandang  bagi barca masih dianggap bagus. “Tapi kami harus membayar mahal ketika Messi ditarik ke luar lapangan di babak kedua.  Messi bermasalah dengan otot hamstring-nya dan (Javier) Mascherano mempunyai problem pada lututnya,” keluh Asisten Pelatih Barcelona, Jordi Roura, seusai pertandingan.

Belum dirinci seberapa parah cedera kedua pemain itu. Tak pelak, Barca pun kemungkinan harus mengistirahatkan kedua dengan mengandalkan pemain lainnya dalam laga kedua yang akan dilangsungkan di Stadion Camp Nou, Rabu  depan.
Sebenarnya, Barcelona sempat memimpin 2-1 hingga semenit sebelum waktu normal usai, melalui eksekusi penalti Xavi Hernandez. Namun, semenit sebelum injury time pungkas pada menit keempat, Blaise Matuidi menyamakan kedudukan dengan tembakan dari luar kotak penaltinya. Wasit Wolfgang Stark pun langsung mengakhiri pertandingan, begitu bola ditendang pemain Barcelona di tengah lapangan.

“Sungguh sayang kami harus mengakhiri pertandingan seperti itu, ibarat kebobolan pada saat-saat mematikan. Rasanya sangat tak enak, tetapi itulah pertandingan knock-out dan hasil tandangnya tak begitu buruk. Kami menguasai pertandingan dan bermain dengan bagus,” ulas Iniesta.

Komentar