Pelatih Barca: Saya Dikalahkan Lagi di San Siro

Penulis: Darmansyah

Kamis, 21 Februari 2013 | 11:17 WIB

Dibaca: 0 kali

PELATIH pengganti Barca, Jordi Roura hanya bisa bersungut ketika harus menerima kekalahan “Blaugrana” di San Siro, Kamis dinihari, dengan skor 2-0. Bukan hanya kekalahan itu saja yang harus disesalinya dengan amat menyakitkan. Ia juga harus “mendendam” kesakitan yang pernah ia alami di San Siro 24 tahun lalu, ketika ia sedang mekar di skuad Barcelona dalam usia 22 tahun, dan mengakhiri karirnya sebagai pemain setelah dalam satu tabrakan dengan Marco van Basten urat ligamennya pecah.

Roura, ketika menunduk di kamar ganti lewat topangan tangannya di dagu,  hanya bergumam menatap Lionel Messi yang lesu, Iniesta salah tingkah dan Fabregas yang meneteskan air mata.  Roura yang kala itu baru pertama kali dipercaya pelatih Johan Cruyff sebagai “starter” di pertandingan putaran kedua Piala Super Eropa, harus ditandu keluar lapangan. Karirnya tamat dalam pergulatan yang tak habis-habisnya dengan cedera yang ia alami.

Roura memang harus bersedih. Hanya sembilan menit ia bisa bermain dengan bintang besar Milan, Basten, Rijkaard dan Gullit. Sesudah itu tamat. Roura empat tahu setelah itu memang gantung sepatu.

Kamis dinihari WIB, ketika ia  datang kembali sebagai asisten pelatih, karena Tito Villanova sedang menjalani terapi penyembuhan di New York,  Roura membawa Messi, Iniesta, Fabregas, Puyol yang sedang merajai kancah persepakbolaan dunia. Tak terbetik selentingan pun “forecast” kekalahan yang akan datang ke timnya. Semua media meneriakkan suara pengamat dan publik bola, Barca lah yang akan membawa pulang kemenangan.

Dengan skema permainan “tiki taka” pola 4-3-3 yang menyerang, Roura tidak mengubah formasi tim. Ia memang sudah mendiskusikan susunan tim dengan Tito lewat pembicaraan jarak jauh dan menempatkan Alves di posisi mautnya sebagai bek menyerang.

Hasilnya! Barca memang sangat dominant. Menguasai sepanjang pertandingan. Menyerang dengan gedoran tendangan beruntun. Tapi tak ada gol yang lahir. “Menyakitkan,” ujar Roura kepada Tito yang juga menyaksikan pertandingan dari tempat pembaringannya.

San Siro, malam itu bagi Roura memang kuburan. Ia datang dengan satu impian sebagai pelatih, menaklukkan stadion megah Milano itu. Ia tidak ingin kenangan buruknya terulang kembali. Tapi impian Roura kandas. Ia harus meratap dengan kepedihan yang sangat dalam. “hari ini saya dikalahkan oleh San Siro. Mungkin kekalahan ini untuk selamanya,” kata Roura.

Roura,  ketika hadir di ruang wartawan mengaku kecewa dengan kekalahan itu. Ia sedikit kusut dan mengatakan, “Kami akan bikin perhitungan baru di  Nou Camp dalam leg kedua.” “Kami yakin dengan tim ini dan kami optimistis bermain di stadion sendiri. Cerita akan berbeda ketika kami bermain pada leg kedua. Kami sangat yakin bisa membalikkan keadaan,” ujar Roura.

“Ini bukan pertandingan terbaik kami. Meski kami punya masalah, hasil akhirnya saya pikir berlebihan. Lawan mendapatkan beberapa kesempatan dan gol-gol mereka sekarang sangat menyulitkan keadaan kami,” keluh Roura.

Dengan nada menghibur gelandang serang  Barcelona, Andres Iniesta, mengatakan kepada Roura tentang tidak  kreatif tim mereka.”Kami kurang segar dalam hal ide. Mereka menempatkan diri dengan baik di lapangan. Akan ada leg kedua dan kami harus yakin kami bisa bangkit. Ceritanya akan berbeda di stadion kami. Dari menit pertama di Camp Nou, kami akan berusaha mencetak gol,” ujar pemain terbaik ketiga dunia itu.

“Ketika Anda tak menampilkan performa terbaik, inilah yang terjadi. Ini sebuah hasil buruk. Inilah AC Milan. Inilah Liga Champions. Anda tahu segalanya mungkin terjadi. Kami melihat hasil yang sangat buruk dari pertandingan malam ini,” tuturnya. Pertandingan leg kedua akan berlangsung di Camp Nou pada 12 Maret 2013.

Komentar