close
Nuga Bola

Nama Pelatih untuk Gantikan Ranieri

Leicester City baru saja memecat Claudio Ranieri.

Soal siapa pengganti Ranieri, Roberto Mancini ditempatkan di posisi teratas bursa taruhan.

Ranieri diberhentikan dari posisinya sebagai manajer Leicester menyusul performa buruk tim musim ini.

Padahal Ranieri sembilan bulan lalu berhasil mempersembahkan gelar juara Premier League.

Namun, tersingkir dari dua kompetisi lokal plus berada di posisi ketujuh belas klasemen Premier dan hanya selisih satu poin dari zona degradasi, rupanya sudah cukup untuk membuat surat PHK Ranieri.

Untuk sementara Leicester akan ditangani asisten manajer Craig Shakespeare dan pelatih tim utama Mike Stowell sampai adanya manajer baru.

Nah, untuk siapa calon pengganti Ranieri di King Power Stadium, sudah ada beberapa nama yang muncul di publik. Sky Bet sendiri menjagokan Mancini sebagai manajer baru Leicester.

Eks manajer Manchester City yang tengah menggangur itu diberi koefisien tinggi oleh Sky Bet.

Pengalamannya membawa City juara Premier League dan Piala FA serta suksesnya di Inter Milan dianggap cukup untuk menyelamatkan Leicester dari jeratan degradasi.

Mancini tengah mengganggur usai dipecat Inter pada sesi pramusim lalu.

Di bawah Mancini ada Alan Pardew .

Eks manajer Leicester lainnya, Martin O’Neill, juga disebut-sebut sebaga

Mantan pelatih Ajax Amsterdam dan Inter Milan, Frank de Boer, juga masuk bursa

Ya, sembilan bulan usai memberi gelar Premier League, Claudio Ranieri dipecat Leicester City. Leicester beralasan butuh perubahan demi bertahan di Premier League.

Bersama Ranieri, Leicester membuat kejutan besar dengan menjuarai Premier League musim  lalu. Itu merupakan gelar juara Premier League pertama di sepanjang sejarah The Foxes.

Tapi Leicester justru tertatih-tatih di musim ini..

Hari Kamis  waktu setempat, Leicester kemudian mengumumkan pemecatan Ranieri.

Dalam pernyataan di situs resminya, keputusan ini dilatarbelakangi hasil buruk yang didapat Leicester di kompetisi domestik.

“Ini sudah menjadi keputusan paling sulit yang harus kami ambil selama hampir tujuh tujuh tahun sejak King Power mengambil alih kepemilikan Leicester City.

”Tapi kami berkewajiban untuk mengutamakan kepentingan jangka panjang klub di atas sentimen pribadi, tak peduli seberapa kuatnya,” ujar Wakil Chairman Leicester, Aiyawatt Srivaddhanaprabha, seperti dikutip dari situs resmi klub.

Untuk sementara, Leicester akan ditangani oleh Asisten Manajer Craig Shakespeare dan pelatih tim utama Mike Stowell sampai manajer baru direkrut.

Menyelematkan Leicester dari jerat degradasi akan jadi tugas utama manajer baru nantinya.

“Mengulang prestasi luar biasa musim lalu tak pernah jadi harapan kami. Sesungguhnya, bertahan di Premier League adalah target kami yang utama dan satu-satunya di awal musim,” ucap Srivaddhanaprabha.

“Tapi sekarang kami harus bertarung untuk mencapai target itu dan merasa perubahan diperlukan untuk memaksimalkan kesempatan yang akan hadir dalam tiga belas3 pertandingan terakhir,” katanya.

Kesuksesan Leicester City di musim lalu membuat banyak orang bersimpati kepada mereka. Tapi pemecatan Claudio Ranieri dinilai akan mengubah pandangan itu.

Leicester menorehkan kisah bak dongeng di Premier League musim lalu. Mematahkan segala prediksi, The Foxes tampil sebagai juara untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Keputusan itu diambil tak lepas dari hasil buruk yang didapat Leicester di Premier League musim ini. Jamie Vardy dkk. saat ini memang berada di ambang jurang degradasi, hanya berjarak satu angka dari zona merah.

Jamie Carragher menilai pemecatan Ranieri akan membuat Leicester kehilangan simpati dari suporter yang netral.

ereka yang bukan pendukung Leicester disebutnya tak akan terlalu sedih jika Leicester nantinya benar-benar terdegradasi.

“Saya pikir banyak orang tidak akan mau melihat Leicester terdegradasi dengan Ranieri sebagai manajer tapi saya pikir banyak simpati itu sekarang akan hilang,” ujar Carragher seperti dikutip dari Sky Sports.

“Akan ada simpati lebih banyak dengan tim ada di papan bawah dan saya pikir tidak akan ada banyak air mata di luar Leicester jika mereka terdegradasi, karena keputusan ini.”

“Mereka akan tim kedua semua orang tapi sekarang sudah tidak lagi,” lanjutnya.

Carragher juga menilai degradasi bukanlah bencana besar seperti yang dibayangkan hanya karena mereka jadi juara di musim lalu.

Menurutnya, Leicester memang punya reputasi sebagai klub ‘yoyo’ yang naik turun di dua divisi teratas Liga Inggris.

“Jika terdegradasi, orang-orang menganggap itu sebagai bencana, tapi Leicester adalah tim yang memang naik-turun. Mereka selalu seperti itu dan ini tidak akan berubah karena mereka juara. Apa yang mereka harapkan ketika merekrut Ranieri?” ucap Carragher.

“Jika seseorang bilang mereka akan jadi juara dan kemudian terdegradasi, setiap suporter Leicester akan mengiyakan,” katanya.