MU, Kritik Formasi dan “Long Ball United”

Penulis: Darmansyah

Jumat, 13 Februari 2015 | 15:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Manchester United, tak pelak, adalah daya tarik sepak bola Premier League.

Daya tarik dari eksistensinya sebagai tim penuh pesona dengan titel juara terbanyak, dua puluh kali, dan sejarahnya yang kontradiktif dengan Liverpool yang menyebabkan terjadinya perang emosional dua kota paling elitis di Inggris itu.

Tak banyak orang tahu bagaimana “dahsyatnya” laga emosional Manchester dan Liverpool yang berbasis pada kasus sepakbola. Bagaimana Manchester membangun pelabuhan dan kota dengan satu tujuan, mengalahkan Liverpool.

Ya. Kalau kita bicara Manchester itu berarti United. Manchester “Merah.” Bukan Manchester yang “City” atau Manchester “Biru Hambar.”

Dan ketika tahun ini Manchester “Merah” ketiban pelatih baru, Louis van Gaal, rumor berkembang cepat di setiap langkah klub Old Trfafford itu. MU dijalari gosip di sepanjang laganya.

Ketika van Gaal membawa timnya ke “Tour American,” dan memenangkan laga-laga pramusim, semuanya terpesona. Dan ketika “Iblis Merah” memasuki laga-laga riel di Premier League, tertatih-tatih, dan didatangi “hantu” cedera pemain semua media “bersorak” mengabarkan tentang derita mereka.

Maanchester United memang terseoak di awal musim. Terlempar ke papan tengah untuk kemuidan merangsek ke Zona Champions dan gonjang ganjing di posisi tiga-empat dan lima, nampak derita MU bersama van Gaal belum juga selesai.

Kini, setelah heboh dengan bongkar pasang formasi, Manchester United di “hujani” berita tentang jumlah umpan panjang yang mereka mainkan di Liga Inggris.

Berasal dari kritik “Big” Sam, pelatih West Ham, kala kedua tim bertemu di Boleyn Park, di pekan kedua puluh empat Premier League, bahwa Manchester United telash kembali ke “long ball united” khas Alex Ferguson untuk mendapatkan gol di “fergie time,” semua media mengejar spekulasi ini.

Semua pengamat dan analis sepakbola Premier League masuk dalam arus perdebatan panjang yang tak pernah selesai itu.

Lantas muncul pertanyaan apakah ukuran total umpan panjang semata untuk mengatakan Man United sebagai “long ball United?”

Jika melihat data statistik operan panjang dengan jumlahtotal, persentase United sebenarnya tidak terlalu besar. Cuma empat belas persen. Terlebih lagi bola-bola panjang mereka diimbangi dengan akurasi yang cukup tinggi.

Dengan rasio operan sukses United, hanya kalah dari Manchester City, Setan Merah terlihat cukup lihai dalam memainkan taktik tersebut.

Selain itu, permainan operan panjang ini tampaknya merupakan pilihan yang tepat saat mereka menemui kebuntuan.

Hal ini juga terlihat pada laga melawan West Ham United. Dengan menggunakan umpan panjang ke arah Marouane Fellaini, Setan Merah mampu mencetak gol penyama kedudukan.

Dalam sesi jumpa wartawan, hal ini juga ditegaskan sendiri oleh van Gaal. Mantan manajer Bayern Munich itu berkata bahwa strateginya menguasai bola selama tujuh puluh menit belum berhasil sehingga ia mencoba cara lain yaitu dengan memasukkan Fellaini untuk memindahkan bola secara cepat ke depan.

“Lalu kami mencetak gol dengan cara itu, jadi ini keputusan yang tepat.”

Ketatnya persaingan di Liga Primer sendiri membuat setiap tim berusaha untuk mendapatkan tiga poin dengan cara atau taktik apapun.

Sejauh ini ‘Long Ball United’ juga masih berada dalam perburuan menuju Liga Champions, meski pola permainan van Gaal ini mungkin akan semakin mendapatkan kritik andai mereka gagal lolos Liga Champions di akhir musim ini.

Gerah karena disebut sebagai tim yang suka memainkan bola-bola panjang, manajer Manchester United, Louis van Gaal sempat menantang para jurnalis untuk membuktikan bahwa timnya bukanlah kesebelasan yang mengandalkan bola-bola panjang.

“Jika Anda memiiki penguasaan bola sebanyak enam puluh persen, apakah Anda bisa melakukannya dengan menggunakan bola-bola panjang?” kata van Gaal sebagaimana dikutip dari Sky Sports.

Ucapan manajer asal Belanda itu sebenarnya cukup beralasan, terlebih mengingat United memang mendominasi sekitar enam puluh persen penguasaan bola, saat menghadapi West Ham United.

Selain itu, dalam analisis statistik yang dikeluarkan oleh Van Gaal terlihat United ‘hanya’ melepaskan delapan puluh tiga umpan panjang, sementara West Ham United melakukan empat puluh lima.

Statistik versi Van Gaal sendiri memiliki perbedaan dengan statistik versi situs Whoscored.

Namun terlepas dari dua statistik yang berbeda tersebut, suka tidak suka Manchester United memang lebih sering memainkan bola panjang di era Van Gaal.

Berdasarkan statistik Opta, United rata-rata melepaskan dua puluh operan bola panjang pada setiap pertandingannya setelah ditangani van Gaal.

Jumlah tersebut melampaui era Sir Alex Ferguson dan David Moyes.

Memiliki barisan penyerang yang jika harganya dikombinasi mencapai lebih dari seratus lima puluh juta poundsterling, United justru kembali ke pendekatan paling dasar di sepakbola, yaitu dengan memainkan umpan panjang.

Hal tersebut cukup mengejutkan, karena dilakukan oleh manajer yang berasal dari negara yang dikenal dengan Total Voetbal, Belanda.

Berbeda dengan era Ferguson, yang mungkin akan terus ‘berjudi’ dengan taktiknya hingga menit terakhir, Van Gaal memilih kembali ke permainan sederhana yang mengandalkan bola panjang — yang menghasilkan gol penyama kedudukan saat melawan West Ham.

“Anda mungkin mengkritik Louis van Gaal karena memainkan umpan panjang sebagaimana saya sering dikritik karena memainkan cara yang sama,” ujar manajer West Ham, Sam Allerdyce.

“Tapi, pada akhirnya, taktik itu berhasil. Anda tidak dapat mempermasalahkan itu.”

Komentar