“Marca” Menulis untuk Spanyol, “The End”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 19 Juni 2014 | 15:14 WIB

Dibaca: 0 kali

“Marca” edisi bahasa Inggrisnya dengan, Kamis pagi, di “cover”nya menulis dengan pedih dua kata untuk Spanyol. “The End.” Tak ada komentar lain. Hanya ada latar hijau lapangan dengan Iker Casillas yang melangkah terseok.

Itulah bagian paling dramatis sebuah surat kabar yang selama enam tahun terakhir memberi porsi riang bagi tim Spanyol di setiap laganya. Bahkan ketika kalah di Piala Konfedarasi dari Brasil, setahun lalu, “Marca” masih bisa berdamai dan menghibur Iniesta.

Tapi, kali ini, ketika kalah dari Belanda, dan di “pulang”kan oleh Chile, apalagi di Estadio Maracana, Rio de Janeiro, “Marca,” yang mewakili media Spanyol, tak bisa menerima kenyataan itu.

“Ini sebuah simbolisasi betapa Spanyol hanya sebuah tim yang lunglai. Kalah dari dari Belanda lima banding satu dan dua gol tanpa balas dari Chile sangat memalukan,” tulis “Marca” dengan nada berang.

Untuk tim “sehebat” Spanyol, yang dalam beberapa tahun terakhir amat dominan, ini jadi hantaman yang cukup telak dan memancing emosi, seperti tercermin dari reaksi media-media di Spanyol.

Entah mengapa, seperti ditulis “Marca”, sepakbola selalu dikait-kaitkan dengan kegembiraan. Bahkan Piala Dunia yang cuma ada empat tahun sekali pun dianggap sebagai pesta besar. Padahal tak selamanya sepakbola menyisakan kegembiraan dan pesta meriah.

Ambil contoh bagaimana Piala Dunia 2014 diawali oleh kisah-kisah tidak menyenangkan; mulai dari stadion yang tak selesai-selesai dibangun, pekerja yang meninggal dalam pembangunannya, hingga demonstrasi yang tidak kunjung berhenti –bahkan sampai beberapa jam sebelum Piala Dunia 2014 melakukan kick-off.

Demonstrasi tersebut bisa diartikan sebagai jeritan dan rasa frustrasi. Bagi mereka yang mengikuti perkembangan di Brasil sana, sudah barang tentu mengetahui bahwa Piala Dunia di Brasil ini dihelat di atas kondisi ekonomi yang serba-sulit. Pesta sepakbola tersebut membuat Brasil tampak seperti orang yang sibuk bersolek, sementara tubuhnya sedang digerogoti sakit keras.

Tentu, kita akan melihat bagaimana pesta bola tersebut tetap berjalan meriah. Yang diunjukkan kamera televisi di dalam stadion adalah bagaimana warna-warni dan kegembiraan memeriahkan tiap pertandingan; bagaimana tiap pemain merayakan golnya, bagaimana para suporter menggambar-gambari wajahnya dengan bendera negara sendiri, sampai menghias badan dengan atribut yang “wah”. Sungguh menyenangkan.

Di sisi lain, kamera televisi akan memperlihatkan wajah-wajah suporter yang sedang muram. Entah mereka sedang berharap-harap cemas karena waktu pertandingan sudah tinggal sedikit, namun tim mereka sedang tertinggal atau pertandingan sudah selesai dan mereka sedang memikirkan bagaimana menghadapi keesokan hari dengan fakta bahwa negara sudah tersingkir.

Wajah muram dari para suporter yang timnya tersingkir ini bukannya tidak mungkin akan diikuti oleh tangisan kemudian.

Tangisan-tangisan suporter di dalam stadion tersebut tidak ubahnya jeritan-jeritan demonstran yang tidak menyetujui digelarnya Piala Dunia. Pesta macam apa yang menyisakan tangisan kalau bukan pesta sepakbola?

Fakta bahwa Spanyol berangkat ke Brasil dengan label favorit dan diprediksi bisa kembali memperpanjang dominasi, setelah sebelumnya menjuarai Piala Dunia empat tahun lalu dan memenangi dua gelaran Piala Eropa terakhir, semakin menambah pahit kenyataan tersebut.

Apalagi dari dua pertandingannya sejauh ini Spanyol bahkan baru bisa bikin satu gol dan sebaliknya sudah kebobolan sebanyak tujuh gol.

Menyakitkannya kenyataan tersebut membuat media-media Spanyol pun bereaksi dengan penuh emosi, sebagaimana diberitakan oleh International Business Times.

Suratkabar terkemuka Marca, misalnya, yang cuma memasang tulisan “Tersingkir!” di halaman mukanya disertai foto nelangsa kapten dan kiper Spanyol Iker Casillas. Tapi kritik dan kekecewaan lantas mengisi artikelnya.

“Ini merupakan perpisahan yang menyedihkan,” tulis Marca seraya menyebut bahwa tim Vicente del Bosque sudah memberikan “citra yang amat buruk” dan betapa skuat membutuhkan peremajaan.

“Selesai sudah, seperti segala sesuatunya dalam hidup,” sebut Marca merujuk pada dominasi Spanyol dalam dunia sepakbola sekian tahun terakhir.

Sementara itu surat kabar top lain di Spanyol, El Pais, bereaksi dengan lebih tenang dengan memperlihatkan halaman muka pada situs web-nya dengan tulisan, “Spanyol tersingkir dari Piala Dunia setelah kalah dari Chile.”

Namun, El Pais tetap tak bisa menghindari permainan kata-kata mengenai betapa hasil itu memberi pukulan amat telak. “Sebuah bencana”, “mimpi buruk di Brasil”, dan juga “olok-olok paling komplet.”

Kiper tim Matador Iker Casillas juga dikutip suratkabar tersebut dengan menyatakan, “Aku memohon maaf kepada semua orang.”

Sementara Rafael Pineda, jurnalis yang menjadi komentator liveblogging di suratkabar tersebut, memberikan komentar yang mungkin bisa mencerminkan kesimpulan umum saat ini.

“Malam yang menyedihkan, tapi Anda harus bangkit dan memikirkan masa depan. Hidup berjalan terus. Peluk untuk semuanya,” tulisnya.

Spanyol boleh jadi akan sanggup mengangkat dirinya dari kekecewaan suatu hari nanti, tapi saat ini selubung duka masih dan sedang menyelubungi.

Komentar