Louis van Gaal Kelebihan Mimpi Besar

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 14 Juni 2014 | 12:46 WIB

Dibaca: 0 kali

Mimpi pelatih “de Oranye” Netherland, Belanda, Louis van Gaal, mengalami kelebihan usai timnya membantai juara bertahan Spanyol lima gol banding satu gol di laga pembuka Grup B Piala Dunia 2014 Brasil, Sabtu malam WIB, 14 Juni 2014, di Arena Fonte Nova, Salvador.

Buat Louis van Gaal, kepada surat kabar “de Telegraff” terbitan Amsterdam, usai laga di ruang wartawan, mengungkapkan, bahwa dalam mimpi dia tak pernah membayangkan bisa meraih hasil segemilang itu.

“Saya, ketiga gol penalti Xabi Alonso, sudah menerawang bahwa kami akan kembali kalah oleh Spanyol. Saya langsung mengingat episode kekalahan di Soccer Arena, Afrika Selatan, empat tahun lalu,” kata pelatih Mancester United untuk musim Premier League mendatang.

Namun apa yang terjadi, kata van Gaal. Kami berhasil membalikkan kisah sedih di final Piala Dunia 2010 lalu. Ternyata kejadian itu tidak terulang, Belanda malah meraih kemenangan gemilang.

“Momen terbaiknya ada di atas lapangan. Semua pemain merasa gembira. Tak seorang pun yang berani memimpikan hal seperti ini,” seru Van Gaal dalam konferensi pers usai pertandingan.

“Saya tidak pernah membayangkan akan seperti ini. Setelah gol penalti Spanyol saya berpikir, ‘Apakah malam akan berakhir seperti ini? Bahwa sang juara dunia akan meraih kemenangan dengan cara seperti itu?’,” lanjut Van Gaal di Marca.

“Saya sudah berpikir apa yang harus saya lakukan di jeda pertandingan. Jika kondisinya masih kosong satu saya akan memainkan 4-3-3 untuk terus memberikan tekanan.”

“ Tapi Robin kemudian bikin gol. Dia menyundul bola itu dengan penuh perasaan. Dia sudah tahu sebelumnya. Dia melihat penjaga gawang berdiri terlalu jauh. Itu gol yang indah,” Van Gaal menambahkan.

Atas kemenangan besar Belanda itu, Robin van Persie, sang kapten van Gaal, mengaku tak kaget. Dia juga berujar bahwa tim ‘Oranye’ tak mau berhenti mencetak gol kendati sudah unggul dua atau tiga gol.

“Pertandingan berjalan tepat seperti bagaimana diprediksikan oleh staf pelatih,” kata Van Persie di NOS yang dilansir Football Espana.

“Seringkali, Anda sudah menyerah setelah dua atau tiga gol. Tapi, kami terus berusaha, berusaha, dan berusaha,” ujarnya.

Selain van Persie, gelandang serang Belanda Arjen Robben juga menjadi sebuah cerita yang menarik pada laga malam itu. Dia berhasil keluar dari “trauma” Afirika Selatan karena berdosa tak mampu menaklukkan Iker Casillas.

Kali ini, di Arena Fonte Nova, ia bisa sangat hebat, begitu dibutuhkan tim, tapi juga bisa menyebalkan lantaran ego yang tinggi saat keasyikan bermain.

Kelemahan Robben yang paling kasat mata ada tiga: rentan cedera, tak punya kaki kanan, dan sering “kemaruk”. Di waktu-waktu itu, setiap kali Robben ditebas pemain lawan, dan kemudian memegangi lututnya, setiap penonton langsung merasa cemas.

Tapi, betapapun dia ringkih, Robben sudah diakui sebagai winger yang luar biasa. Ditaruh di kiri maupun kanan, ia selalu punya gaya: cepat, gerakannya sulit diikuti. Dia pengumpan yang bagus, shooter yang piawai pula. Dia adalah attacking midfielder sejati: bermain di tengah dan mampu mencetak banyak gol –ya gelandang, ya penyerang.

Keunikan terbesar Robben adalah dia seperti tidak punya kaki kanan. Orang ini jelas-jelas dari “haluan” kiri. Tahun lalu ditemukan data bahwa Robben telah membuat 10.000 cutting inside dan melepaskan tembakan dengan kaki kidalnya. “Gampang ditebak,” tulis Reuters.

Seorang Johan Cruyff sampai meledek dengan melabeli kaki kanannya “dibikin dari cokelat”. Lembek. Tak efektif. Dicatat Prozone, ia menggunakan kaki kirinya saat bermain sebanyak hampir delapan puluh persen.

Tapi, jika dengan satu kakinya saja Robben bisa seperti sekarang, maka meminta dia juga bisa menggunakan kaki kanannya adalah sebuah tuntutan yang “tidak tahu diri”. Kalau Robben masih dituntut seperti itu, dia pantas-pantas saja untuk mengutip Kimi Raikkonen: “leave me alone!”

Pemain Bayern Munich ini tahu betul kemampuannya seperti apa –dan kelasnya di mana. Itulah satu hal yang paling sering dikritik dari dirinya: begitu percaya diri sekaligus serakah saat menggiring bola, sehingga lupa (atau tak berkehendak) untuk mengoper kepada rekannya.

Spanyol yang terjebak sebagai tim yang diunggulkan justru menderita kekalahan telak saat. La Furia Roja, yang berduka, langsung membidik kemenangan di dua laga sisa, namun skor 1-5 tak akan mudah dilupakan siapapun.

Tunduk dengan skor besar belum menutup langkah Spanyol lolos ke enam belas besar, namun perjuangan masuk fase knock out dipastikan tidak akan mudah. Satu-satunya syarat Spanyol lolos adalah memenangi dua laga sisa yakni menghadapi Chile dan Australia.

“Kami harus menang di dua laga tersisa,” seru Andres Iniesta pada Football Espana.

Terlepas dari lolos atau tidaknya Spanyol nanti, gelandang asal Barcelona itu menyebut kalau malam yang baru saja dijalani tidak akan mudah dilupakan. Itu disebutnya jadi malam yang buruk buat Spanyol.

“Ada detil-detil kecil yang mempengaruhi keseimbangan tim. Tapi itu semua sulit buat kami malam ini. Kami siap untuk apapun yang akan datang. Kami akan bekerja keras, tapi kami tidak akan bisa melupakan soal hal ini,” lanjutnya.

Komentar