“Long Ball United” Bikin van Gaal Rikuh

Penulis: Darmansyah

Jumat, 20 Februari 2015 | 16:39 WIB

Dibaca: 0 kali

Ditengah “kegaduhan” yang disulut media tentang isu controversial “fergie time” dan “long ball united,” Manchester United akan memulai kembali laga Premier League-nya ke kandang Swansea City, usai mengalahkan Preston North End di babak kelima Piala FA pertengahan pekan ini.

Laga tandang ke Swansea ini kembali dikipas oleh “hasutan” media terhadap United tentang catatan buruknya menjalani laga “away.”

Media terkenal Inggris, seperti “Mirror” dan “Daily Mail,” bahkan mempertanyakan kembali apakah Louis van Gaal akan menjadikan pertandingan ini untuk bermain “long ball united” yang sekaligus memanfaatkan “fergie time.”

Dalam dua laga Premier League sebelumnya, melawan West Ham United pada laga tandang dan Burnley di laga kandang, Manchester United memainkan dua strategi itu secara bersamaan.

Bahkan keriuhan terhadap “long ball united” dan “fergie time” diributkan secara gaduh ke media oleh Big Sam, pelatih West Ham ketika timnya gagal meraihkan kemenangan di “injuri time” karena “The Red Devils” memaksakan permainan “long ball united “ di “fergie time.”

Swansea, tim yang dihadapi Manchester United, Sabtu malam besok, 21 Februari 2015, tidak pernah menang. Sementara sang lawan, Manchester United, punya catatan tidak bagus dalam laga tandang musim ini.

Dalam tiga laga kandang terakhir di Premier League, Swansea selalu gagal meraih kemenangan.

Kemenangan terakhir Swansea di Liberty Stadium pada pertandingan Premier League terjadi hampir dua bulan lalu. Ketika itu, pada 26 Desember 2014, Swansea menang atas Aston Villa.

United, si calon tamu punya catatan yang juga tidak terlalu bagus dalam laga tandang musim ini. Tercatat, United baru menang tiga kali di laga tandang musim ini.

Sisanya, tim besutan Louis van Gaal itu imbang tujuh kali, dan kalah dua kali. Khusus untuk United, tidak ada alasan laga melawan Swansea kali ini berakhir tanpa kemenangan.

Selain untuk memperbaiki catatan tandang, United juga butuh kemenangan untuk mempertahankan posisi mereka di zona Liga Champions. Kendati kini berada di posisi ketiga, jarak United dengan tim-tim di belakang mereka tidaklah jauh.

Belakangan, United belum bisa lepas dari sorotan lantaran permainan mereka di lapangan tampak tidak meyakinkan. Meski demikian, gelandang United, Ashley Young, menyebut bahwa suasana di ruang ganti pemain tetap bagus.

“Itu adalah salah satu kualitas yang kami miliki sebagai sebuah tim. Kami selalu masuk lapangan dan bermain sebagai sebuah kesatuan,” ujar Young kepada MUTV.

“Kami sudah menunjukkannya pada Senin kemarin sejak menit pertama sampai menit akhir. Kami sukses membalikkan keadaan dan menang,” lanjut Young.

Yang dimaksud Young adalah pertandingan babak kelima Piala FA melawan Preston North-End. Pada laga tersebut, United tertinggal lebih dulu sebelum akhirnya membalikkan keadaan dan menang

Tentang “fergie time” sendiri yang diributkan media Manchester memang memainkannya sepanjang kepelatihan Sir Alex Ferguson di Manchester United

Untuk musim ini Fergie Time sepertinya benar-benar sudah tinggal jadi sejarah buat MU.

Istilah Fergie Time merujuk pada gol, yang acapkali berarti penting, dari MU di menit-menit akhir pertandingan.
Salah satu contoh terbesar adalah sepasang gol injury time di final Liga Champions enam belas tahun lalu saat The Red Devils berbalik menangThe Red Devils dua gol banding satu atas Bayern Munich.

Ada yang menyebut bahwa ini merupakan bukti betapa para pemain ‘Setan Merah’ punya semangat pantang menyerah dalam situasi terburuk sekali pun.

Tapi ada pula yang mencibir bahwa itu tak lepas dari akal-akalan Sir Alex, khususnya di Premier League, akibat besarnya pengaruh yang dimiliki si pria Skotlandia guna menambah waktu agar timnya diuntungkan.

Apapun, semua “sepakat” dengan istilah Fergie Time.

Era Sir Alex di MU, yang dimulai pada dua puluh sembilan tahun lalu, dan berakhir musim panas 2013.

Kini saat MU ditangani oleh Louis van Gaal, setelah musim lalu dibesut oleh David Moyes, gol-gol menit akhir justru tak lagi identik dengan klub tersebut.

Dalam catatan Manchester Evening News, musim ini MU cuma mampu membuat enam gol dalam periode lima belas menit akhir di kancah Premier League dari total empat puluh tiga gol yang telah dibuat Wayne Rooney cs di ajang tersebut.

Bukan cuma itu MU bahkan dicatat membuat lebih sedikit gol di babak kedua dibandingkan produktivitasnya pada babak pertama

Menariknya rival sekota MU, Manchester City, kini malah jadi spesialis gol-gol menit akhir. Sejauh ini tim besutan Manuel Pellegrini tersebut sudah membuat paling banyak gol di menit akhir di antara tim-tim lain

Komentar