close
Nuga Bola

Liga Primer, “Kuno!”

“Sepakbola Inggris kuno!” tulis majalah Time  dengan nada nyeleneh di sebuah judul tulisannya. Bukan sembarangan Time menyimpulkan analisisnya ini. Dan bukan sembarangan pula Time menurunkan tulisan sepakbola sebagai laporan utamanya, yang biasanya didominasi oleh persoalan politik, ekonomi dengan  angle semantik baik untuk isu domestik maupun global.

Momentum laput itu  dipergunakan Time usai Piala Eropa, ketika Inggris tersungkur di babak kedua,  dan sekaligus untuk menjawab pertanyaan krusial yang lama mengganjal  kenapa sebuah liga paling menggairahkan penonton dunia tidak menghasilkan prestasi yang setara dengan kompetisi primernya.

Time memang gerah mengikuti perkembangan Liga Primer yang tak berujung pada prestasi Three Lions di pentas sepakbola Dunia dan Euro. “Mereka boleh menguasai  babak perempat final Euro Liga. Tapi, coba tanyakan kontribusinya terhadap tim nasional. Tanyakan juga kepada Svend Goran Erriccson atau Fabio Capello apa yang bisa mereka lakukan dengan materi pemain seperti John Terry, Lampard, Gerrad atau Ronney. Nonsens,” tulis majalah itu.

Untuk mendukung penulisan itu Time melibatkan empat perguruan tinggi sangat bergengsi mulai dari Oxford, Cambridge, London Economic School sampai Manchester dan mengumpulkan puluhan pakar serta pengamat sepakbola dalam beberapa kali panel untuk menelisik sepakbola Inggris di dekade terakhir. Hasil kesimpulannya tak bergerak dari kata “kuno”.

Betulkah sepakbola Inggris, kuno? Tema ini memang mengundang perdebatan yang tak pernah habis-habisnya. Perdebatan yang juga  dikomentari ketika Sir Alex Ferguson mengenyampingkan pola 4-4-2  atau pola moderen 4-1-2-1-2  khas Setan Merah ketika melawan Chelsea di Stamford Bridge, dua pekan lalu, dan hasilnya? Manchester United memenangkan pertandingan dengan skor 2-3.

Fergie, di pertandingan tandang  MU sore itu, waktu Inggris,  di Stamford Bridge kembali ke  pakem awalnya,  memainkan pola 4-2-2  “murni” dengan memasang Ashley Young dan  Antonio Valencia di dua sayap atas saran seorang nenek usia 80 tahun, Margareth, asal Rochdale yang sehari sebelumnya mengumpat Sir Alex  sebagai seorang manajer “bodoh” di jaringan televisi MUTV pada program acara Focus yang menghadirkan dua veteran The Red Devils,  David May dan Quinton Fortune.

“Saya mendukung United lebih lama dari dia (Fergie). Tolong jangan mainkan pola berlian di Chelsea. Kalau Anda menyambungkan pembicaraan ini dengan dia, saya akan katakan hentikan permainan bodoh itu.”

Tiga hari sebelumnya, ketika MU menjalani pertandingan melawan Braga di Liga Champions, Ferguson telah mencoba pola permainan itu  secara variatif walau pun tidak sempurna.  The Red Devils  memenangkan laga itu. ”Kita harus mengadakan revolusi permainan. Jangan pernah lagi membiarkan lawan menghitung langkah kuda Ronney atau van Persie. Itu tidak menarik,” jawab Fergie mengiyakan  saran Margareth dan menerima kritik Time.

Bahkan ketika MU menjungkal Arsenal pekan lalu sebagai langkah mengudeta Chelsea di puncak klasemen liga, Nenek Margareth yang kembali dihubungi MUTV mengatakan dengan berseloroh, ”Siapa yang hebat. Apa saya atau dia (Ferguson). Sampaikan pesan saya untuknya, jangan pernah membutakan hati dan terjebak dalam pesona sanjungan bahwa dia  yang paling hebat.”

Sepakbola Inggris yang sejak lama memang mengadopsi permainan Liverpool dan Manchester United. Mereka  tak pernah belajar dari revitalisasi pola ketika Chelsea ditangani Jose Mourinho dan Arsenal ditukangi Arsene Wenger. Bahkan ketika Roberto Mancini datang ke City dan Di Matteo mengambil alih The Blues warna Italia bercampur aduk dengan individual Latin, kick and rush dan stylish  Espana di petandingan liga.

Tapi tak Three Lions tak bisa melepaskan dari permainan ortodoknya ejek Time dalam satu judul laporan utamanya yang sempat menggelisahkan Football Asossiation (FA) dan mempercepat hengkangnya Fabio Capello sebagai manajer Inggris untuk digantikan Hodgson sebagai pelatih.

Time memberi jawaban terhadap ketertinggalan sepakbola Inggris di jajaran elite Eropa dengan satu kata, ”no creative.” Ia menuding pemain muda Inggris yang lahir dari akademi klub tidak pernah diberi kekebasan memainkan sepakbola imajinatif. Mereka dipatronkan dalam satu pola permainan yang diadopsi dari gaya Bryan Robson, Gary Lineker, Kevin Kegan, hingga generasi Wayne Ronney yang hanya berotasi dari satu klub ke klub lain di Premeir League. Sehingga begitu keluar dari sangkarnya, selesai.

Lihat David Beckham yang ditransfer ke La Liga oleh  Manchester United  dan bermain dengan kagok di Real Madrid yang menempatkan kebebasan sebagai sumbu permainan Espana. Eksistensinya hanya bisa terselamatkan oleh tendangan bola matinya. Dan begitu permainan dihidupkan  dengan mengutamakan  akselerasi dan mutasi peran yang saling mengisi di antara pemain, Beckham sering bengong yang menyebabkan dia lama diinapkan  dalam daftar line up Los Blancos.

Frustrasi Beckham ini baru berakhir setelah Madrid “mengusir”-nya ke LA Galaxy, dan sejak itu karirnya di daratan klub Eropa berakhir. Kasus Beckham, yang ketika di MU menjadi seleb number one menjadi pembuktian betapa sepakbola Inggris menjadi “kuno”.

Iklim sepakbola Inggris di pelataran Eropa memang sempat pause usai tragedi Heyssel, Brussel, Belgia. Tragedi yang memilukan ketika holliganisme Liverpool membunuh tifosi Juventus di laga final Piala Champions yang menyebabkan klub-klub Inggris dilarang bermain di kejuaraan UEFA. Masa ini, oleh Time dikatakan sebagai lorong hitam yang menjadikan kompetisi Inggris terlunta-lunta di tengah maraknya Lega Calcio, La Liga dan Bundesliga.

Ketika mereka datang ke daratan Eropa dan berlaga dengan klub seperti Juventus, Milan, Bayern Muenchen, Real Madrid mau pun Barcelona klub-klub Inggris itu terseok-seok di babak awal. Untung ada Manchester, yang ketika itu ditangani Fergie mencuri perhatian. Selebihnya, mereka dianggap figuran.

Iklim sepakbola Inggris, terutama di tingkat liga, memang pernah dihebohkan oleh Jose Mourinho ketika ia ditransfer dari Porto ke Chelsea dan memberi landasan yang sangat kuat kepada John Terry, Frank Lampard, Didier Drogba, Micheil Essien  dan lainnya, yang pernah didatangkan sang pelatih menyebalkan itu,  dengan memberikan mereka kebebasan imajinasi yang hasilnya, dua musim The Blues menyabet juara Premeirship.

Mou memang tidak memberikan The Blues Piala Champions selama baktinya di Stamford Bridge. Tapi kemenangan mereka atas Bayern Munchen di Allianz Arena Stadion dalam  final laga Champions, yang  di asuh pelaksana tugas manajer Di Matteo, membuktikan landasan tim yang diletakkan The Special One tak bisa dilepaskan.

Untuk itulah Time dalam artikel lainnya di laporan utama yang sama  mengatakan, kontribusi Premeir League tidak paralel dan berkontribusi dengan kesebelasan nasional Inggris.

Itu yang membedakan sepakbola Premeir League dengan La Liga yang kreatif. Sepakbola La Liga yang berkontribusi langsung dengan tim  Spanyol hasil adaptasi dua klub besarnya, Madrid dan Barca. Dua klub yang dilatih oleh manajer dengan pakem mengedapankan permainan imajinatif. Pakem sepakbola menyerang yang mengembangkan pola 4-3-3 khas Brazil lewat kreatifitas yang merangsang lahirnya sepakbola menyerang.

Sepakbola yang dimulai dari akademi yang berotasi dan beradaptasi dengan Samba mau pun Tango yang bagaikan tarian yang meliukkan bakat pemain, seperti Messi, Puyol, Iniesta, Fernando Torres dan lainnya. Mereka bermain dengan ruh tika tiki atau pun pola menyerang yang sangat ranggi ala El Real.

Bukan patron kick and rush yang membosankan, mengandalkan long passing serta berlari tanpa lelah sepanjang pertandingan. “Kuno!” []

Tags : slide