“Les Bleus” Membalikkan Kemustahilan

Penulis: Darmansyah

Rabu, 20 November 2013 | 09:42 WIB

Dibaca: 0 kali

“Les Bleus” membalikkan kemustahilan semua prediksi pengamat dan insan bola dunia lewat keberhasilan Didier Deschamps memupuk optmisme bahwa Perancis akan bisa mengatasi Ukraina di laga kedua “ply off” Piala Dunia Brasil 2014.

Di Stade de France, “Les Bleus” menukangi Ukraina, yang di kandangnya, Kiev, pekan lalu, bermain “impresif”, melalui internalisasi lapangan ekspolosif dengan paduan determinasi ekselen “power attack” yang sangat proporsional.

Perancis tidak hanya memenangkan laga dengan tiga gol tanpa balas, yang berarti lolos ke Brasil lewat “goal average 3-2, setelah kalah 0-2 di Kiev, tapi juga menutup semua celah bagi akselerasi serangan Ukraina.

Kemenangan ini, seperti dikatakan Deschamps, adalah sebuah interaksi Perancis yang tidak ingin menjadi penonton di Brasil 2014. “Perancis sebuah monumen sepakbola dunia. Dari sini dulu sepakbola modern
dipertandingkan untuk dunia. Kami gemetar mendengar sebuah kata bagi Perncais, gagal,” ujar mantan pemain yang pernah bersama Zidan mengantarkan “Les Bleus” menjadi sumbu kekuatan utama sepakbola global.

Perancis memang menang telak di Stade de France. 3-0 . Sebuah angka kemenangan yang memastikannya datang ke Brasil setelah menyingkirkan Ukraina pada leg kedua play-off Piala Dunia 2014.

Bermain di hadapan publiknya, Perancis langsung bermain agresif sejak peluit kick-off berbunyi. Tim “Ayam Jantan” ini terus membombardir pertahanan tim tamu, yang praktis hanya bertahan untuk mengamankan gawangnya.

Lewat tiga gol, yang salah satu menjadi tanda tanya, dan lawan yang bermain dengan sepuluh orang, Prancis sukses membalikkan keadaan. Penuh kontroversi, laga ini harus berani kita katakana menjadi milik Prancis. Mereka tampil relatif dominan.

Ada 23 “attempts” yang mereka lepaskan sepanjang pertandingan, dan sembilan di antaranya tepat sasaran. Sementara Ukraina hanya punya delapan “attempts” sepanjang laga.

Prancis juga tercatat mendominasi tujuh puluh persen penguasaan bola, dan tim asuhan Didier Deschamps itu akhirnya menang 3-0.

Stade de France, Rabu, 20 November 2013dinihari WIB, oleh “Sky Sports,” dinyatakan sebagai mistik bagi Prancis, yang sebelumnya tak satu pun prediksi yang “memegang”nya.

Bahkan, seperti dikatakan Robert Alert, yang memandu pertandingan, seluruh media telah memberi tinta hitam sebagai perkabungan atas absennya “Les Bleus’ di Brasil.

“Kami sudah membuat prediksi dan tulisan kekalahan dengan polesan tinta hitam untuk ‘rest and peace’ sebuah tim yang pernah menjadi sorotan dunia,” kata Alert.

Ya, Perancis akhirnya menaklukkan opini dunia lewat permainan dengan durasi berensi tinggi sejak tertinggal dua gol secara aggregat dari Ukraina.

“Legiun Asing” ini, begitu Perancis sering disapa karena warna-warni ras pemainnya yang “african look, itu langsung menekan sejak awal pertandingan. Mereka beberapa kali menciptakan kemelut di depan gawang Ukraina, namun beberapa kali pula kiper Ukraina, Andriy Pyatov, melakukan penyelamatan bagus.

Paul Pogba dan Karim Benzema mendapatkan peluang di sepuluh menit pertama pertandingan. Namun, sundulan keduanya masih melambung di atas mistar gawang Ukraina.

Prancis akhirnya unggul ketika pertandingan memasuki menit ke-22. Berawal dari sebuah tendangan bebas, bola masih bisa dihalau oleh pertahanan Ukraina. Namun, bola muntah langsung disambar oleh Franck Ribery. Sial bagi Ribery, tendangannya masih bisa dihalau oleh Pyatov

Bola yang ditepis Pyatov tidak bergulir jauh dan Mamadou Sakho yang berdiri tidak jauh dari bola itu langsung menyambarnya.

Unggul satu gol, Prancis kian trengginas. Pogba sempat mencoba peruntungannya dengan melepaskan tendangan dari luar kotak penalti pada menit ke-26. Namun, tendangannya melambung.

Ukraina membalas. Pada menit ke-29, Yevhen Konoplyanka mendapatkan sebuah kans lewat tendangan dari dalam kotak penalti. Tetapi, tendangannya melenceng tipis.

Prancis kemudian sempat menciptakan gol lewat Karim Benzema. Namun, gol tersebut dianulir lantaran hakim garis menilai Benzema sudah berada dalam posisi offside. Padahal dari tayangan ulang, Benzema onside.

Yang unik, pada menit ke-34 Benzema benar-benar mencetak gol. Dia berdiri di dalam kotak penalti dan menyambar tendangan Patrice Evra yang terbentur bek Ukraina. Tendangan Benzema dari jarak dekat itu tidak mampu dihalau Pyatov.

Di sinilah kontroversi terjadi. Siaran ulang kemudian menunjukkan bahwa Benzema sudah berada dalam posisi offside sebelum menceploskan bola ke dalam gawang.

Pada babak kedua, tepatnya di menit ke-47, Ukraina harus bermain dengan 10 orang setelah Yevhen Khacheridi mendapatkan kartu merah akibat melakukan pelanggaran terhadap Ribery.

Kendati bermain dengan 10 orang, Ukraina sempat mendapatkan beberapa peluang bagus. Satu gol dari mereka akan cukup untuk memberikan tekanan pada Prancis. Namun, peluang-peluang Ukraina mentah di tangan kiper Hugo Lloris.

Prancis kemudian memperbesar keunggulan mereka menjadi 3-0 lewat gol bunuh diri Oleg Gusev di menit ke-73. Gol bermula dari umpan silang Mathieu Debuchy dari sisi kanan yang salah diantisipasi oleh Gusev. Alih-alih membuang, bola malah meluncur ke dalam gawangnya sendiri.

Sampai wasit meniupkan peluit panjang, tak ada lagi gol tambahan. Dan Saint-Denis pun bersorak.

Komentar