MU? “Nonsen,” Leicester “Superheroic”

Penulis: Darmansyah

Senin, 22 September 2014 | 08:33 WIB

Dibaca: 0 kali

Leicester City menghancurkan Manchester United lima gol banding tiga, pada laga pekan kelima Premier League, di King Power Stadium, Minggu malam WIB, 21 September 2014, lewat semangat tanpa menghiraukan elitisme pemain tim dan pemain yang dimiliki “Iblis Merah” itu.

Martin Keown, analis sepakbola Premier League, di “Daily Mail,” edisi 22 September 2014, usai laga kedua tim menulis dengan tajam tentang “power spirit” dari sebuah tim promosi, Leicester City, yang tidak pernah menutup kata “menyerah” ketika tertinggal tiga gol banding satu dari tim “sebesar” Manchester United.

“Mereka tahu di United ada Di Maria, Rooney, Falcao atau pun Persie. Mereka menghapus semua nama itu dengan satu kata, kalahkan,” tulis Keown dengan nada menghasut.

Menurut Keown, manajer MU Louis van Gaal memang sudah memainkan sepakbola inspiratif dengan style impresif dan membuka ruang bagi aliran bola menyerang.

“Tapi itu tidak cukup. Leicester memburu dan menutup serta membuat gerakan selaras sepanjang laga. MU panik. Van Gaal tahu apa artinya itu. Satu kata untuk untuk MU, Leicester telah mengajarkan bagaimana permainan bisa berkembang dengan “fighting spirit,” tulisnya dengan menggebrak.

Keown mengatakan, beberapa faktor menjadi penyebab MU mengalami start yang sulit, termasuk lemahnya lini pertahanan tidak seimbang dengan daya serang tim menyusul direkrutnya Angel Di Maria dan Radamel Falcao.

“Tidak memerlukan kemampuan taktis yang besar dan merekrut Radamel Falcao dan Angel Di Maria. Suporter Man United manapun bisa saja melakukannya,” ungkap Keown, analis paling diseganai di Inggris itu dikolomn “Daily Mail.”

“Itu bukan sesuatu yang sulit dimengerti tapi memperbaiki pertahanan United adalah masalah yang lain. Sekarang kita akan melihat apakah Louis van Gaal adalah orang yang benar-benar jenius.”

“Setiap orang bisa melihat bahwa United masih jauh dari level mereka yang seharusnya. Mereka sangat terlihat jelas kekurangan bek yang top dan itu memberi mereka sebuah masalah besar dengan tidak merekrut bek tengah yang mumpuni,” sambung Keown.

“Mereka tidak menjalani Liga Champions di tengah pekan dan punya banyak waktu untuk memperbaiki sistem pertahann mereka. Tidak ada alasan dan kebobolan lima gol melawan tim promosi adalah hal yang mengerikan,” tuntas dia.

Memberi jawaban atas tulisan Keown di “Daily Mail,” Louis van Gaal kepada “Sky Sports,” membenarkan kalau Leicester City i menunjukkan karakter kuat, saat menghadapi timnya, pada laga Premier League.

“Leicester memberi pelajaran kepada timnya untuk menurunkan intensitas dengan memainkan penguasaan bola, ketika dalam posisi unggul,” ujar van Gaal

MU juga mengalami masalah pada laga itu. Pada menit ketiga puluh Jonny Evans mengalami cedera sehingga digantikan Chris Smalling. Kemudian, pada menit kedelapan puluh tiga, Tyler Blackett diganjar kartu merah oleh wasit Mark Clattenburg karena dinilai melanggar Vardy.

“Bagaimana mungkin kami kehilangan pertandingan ini? Kami “memberikan” kemenangan ini kepada Leicester. Leicester telah menunjukkan dalam empat pertandingan bahwa mereka memiliki karakter kuat dan bahwa ketika mereka tertinggal satu tiga, Anda bisa memainkan penguasaan bola, tetapi Anda tak boleh melakukan itu,” ulas Van Gaal.

“Tidak menyenangkan ketika pemain mengalami cedera atau diganjar kartu merah. Namun, kami bisa mengatasi hal itu. Menurut saya, ini bukan kelemahan pertahanan kami. Ini adalah kelemahan organisasi pertahanan dari sudut pandang tim.”

“Kami harus lebih baik. Anda harus tahu, ketika Anda bisa melepas umpan dan ketika Anda harus membuang bola. Dalam pertandingan ini, ketika unggul 3-1, kami merasa telah bermain fantastis, tetapi kemudian Anda tak boleh melakukan kesalahan seperti yang kami lakukan.”

“Kami harus menatap ke depan dan berkembang. Kami menciptakan banyak peluang, gol-gol yang luar biasa. Itu adalah nilai plus, tetapi kami kalah dan itulah hal terpenting,” tutur Van Gaal.

Tentang blok pertahanan yang lemah, van Gaal menolak anggapan tersebut. Pria asal Belanda itu menjelaskan kalau kesalahan sebenarnya terletak pada ketidakmampuan para pemain mendominasi penguasaan bola.

“Saya tak akan mengkritik kesalahan secara personal karena itu selalu terjadi dalam pertandingan. Tapi tim membuat kesalahan karena gagal menguasi bola dan itulah problem utamanya,” kata Van Gaal.

“Saya juga tak menganggap itu kelemahan barisan pertahanan. Itu adalah kelemahan oraganisasi bertahan tim secara keseluruhan,” sambungnya.

Kekalahan Manchester United dari Leicester City berimbas buruk kepada Mario Balotelli, bekas pemain Manchester City yang hijrah ke AC Milan dan kini bermain di Liverpool. Usai pertandingan itu dia dicaci maki oleh sejumlah pendukung setia ‘Setan Merah’.

Semua memang bermuara pada tindakan Balotelli sendiri. Penyerang Liverpool tersebut mengejek hasil buruk yang didapat tim asuhan Louis van Gaal di akun twitter-nya.

Hanya dua kata yang dia tuliskan, yakni “Man Utd … LOL”. Tapi ternyata itu sudah cukup untuk membakar emosi pemuja Wayne Rooney cs.

Bahkan saking kesalnya, ada yang sampai melontarkan kalimat bernada rasisme. “Mario brengsek, dasar negro. Pergi makan pisang dan urusi penyakit ebola,” tulis akun @CraigSainsbury.

Menariknya, usai menghina Balotelli dengan kalimat tersebut, akun si pengicau lansung menghilang dari jagad twitter.

Balotelli selama ini memang kerap menjadi korban tindakan rasisme baik ketika masih membela Inter Milan, Manchester City maupun AC Milan.

Komentar