Laudrup: “Saya Tidak Akan Ke Madrid”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 26 Februari 2013 | 11:33 WIB

Dibaca: 0 kali

* Inilah Tokoh “Trending Topic” Sepakbola Dunia

 MICHAEL  Laudrup. Ya. Dialah yang kini menjadi “trending topic” sepakbola dunia usai mengantar “The Swan” meraih Piala Liga.  Dan itulah satu dari tiga piala  kompetisi yang digulirkan Football Asociation. “PSSI”nya Inggris. Dua lainnya, Piala FA dan Piala Premier League. Dan Swansea City, klub “kecil”  yang merangkak dari Wales Selatan, yang akrab di sapa dengan “Si Angsa,”  di  laga final, Minggu malam lalu,  meraihnya setelah mengalahkan Bradford City 5-0.

Laudrup lah yang menjadi “otak” dan arsitek kemenangan  “Si Angsa.”  Kemenangan yang “spektakuler” untuk ukuran klub “kampung,”  miskin dan terlunta-lunta selama  100 tahun di kompetisi kelas tiga dan nyaris tak pernah diberitakan layak MU, Liverpool. Nottinghams Forest atau pun Arsenal.

“The Swan”  melata sepanjang sejarahnya tanpa pernah meraih “setengah” gelar pun dan hanya pernah sampai di perdelapan final Piala Liga. Itu pun mereka sudah lima puluh tahun lalu dan mereka rayakan bagaikan meraih juara.

Kini klub “miskin” itu  mendapat sentuhan Laudrup. Dia  datang dengan tangan “midas”nya dan mengantarkan klub ini sebagai “penantang” sekaligus pecundang di kompetisi  Piala Liga dan menjadi juara. Dan Laudrup pulalah yang memoles Michu menjadi “goalgeter”  di kompetisi Premier League  dan membawa  Swansea meniti “papan tengah” liga paling hebat di dunia itu.

Laudrup bukan nama yang jatuh dari langit. Ia seorang “playmaker” untuk tim Denmark yang memenangkan Piala Eropa. Ia juga gelandang serang elegan Madrid, Barcelona dan Juventus. Tiga klub, yang tak usah di ulas bagaimana kiprahnya di sepakbola sejagad.. Yang paling penting lagi, Laudrup yang berwajah keras dan berpostur kokoh memanjakan anak-anak “Swan” dengan senyum dan selalu mengatakan ia adalah bagian dari klub. “Bukan bos,” tiru Michu “starter yang membunuh Chelsea atau pun Arsenal.

Laudrup memang pengecualian aroganitas pelatih yang selalu mengumbar retorika klubnya dan menuding wasit di lapangan. Ia hanya duduk manis di bangku pemain cadangan ketika timnya menggulung Bradford 5-0. Ia tidak melakukan “diving” menyambut gol Michu seperto Mourinho untuk Madrid. Ia juga mendatangi pelatih lawan dan mengulurkan tangan dan merangkul dengan ikhlas.

Dan Laudrup pula yang berani mengatakan tidak kepada klub besar atau mantan klubnya ketika diajak bergabung untuk asisten pelatiih atau pun pelatih. Kata tidak, yang ia katakan dengan jujur, sebagai watak aslinya. Dan mungkin juga ia akan mengatakan  “tidak”  kepada Real Madrid ketika surat kabar Spanyol “AS” merilis hasil jajak pendapatnya di komunitas “madridista,”  dan menempatkan Micahel Laudrup sebagai pilihan utama, 78 persen,  untuk  “berumah” di Barnebeu menggantikan Jose Mourinho.

Sampai dengan hari kemenangan Swansea di Wembley, Laudrup  masih mengatakan “tidak” untuk melatih klub besar sekelas “Los Blancos.” Ia menegaskan ingin bersama “Si Angsa.” Melatih dengan hati, kesabaran dan menunggu hasilnya tanpa menuding kesana kemari.

Lelaki Denmark yang baru “belajar” melatih di klub kecil Swansea setahun terakhir, hanya tersenyum santun ketika ia di ayunkan keudara oleh pemainnya usai kemenangan “hebat” itu. Ia menyembunyikan kegembiraannya. Ia dengan kalem cuma mengangkat ibu jarinya pertanda sebuah kemenangan. Selebihnya ia Cuma tersenyum.

Kepada “Sky Sport” jaringan televisi berbayar yang mewawancarainya dengan kikuk tentang karirnya kedepan, Laudrup dengan tertawa kecil mengatakan,”Saya tidak ingin melatih dalam tekanan. Saya ingin melatih dengan gembira. Saya juga tidak ingin hanya berada tiga bulan di sebuah klub untuk kemudian di tendang. Tidak manusiawi,” katanya mencibir ke pemilik klub yang mengganti manajernya sesuka hati.

Memang banyak godaan yang datang kepadanya. Seperti dikatakan agennya, Bayram Tutumlu. Tapi ia sudah mengatakan, “no.” Bahkan pemilik Swansea  Jenkins telah mengisyaratkan, Laudrup akan bertahan di klub Wales itu. “Saya sudah ia beritahu ingin memperpanjang kontraknya,” kata Jenkins.

Menurut Jenkins, Laudrup mengatakan Swansea bisa tampil di Liga Eropa musim depan. Ia ingin sebuah klub “medioker”  seperti Swansea hadir ditengah elite Eropa. Dan ini sejarah. Laudrup ingin mengukir sejarah itu tanpa menjadi ambisius. “Saya ingin mengejar mimpi lewat proses,” katanya.

Swansea yang tahun ini genap berumur 100 tahun, dibentuk  tahun 1912, kini berada di papan tengah Premier League dan sedang berjuang mendapatkan tiket ke Liga Eropa. Di tangan Laudrup klub ini mampu bermain atraktif. Menyerang secara konsisten. “Hanya satu kata yang saya tanamkan ke kepala para pemain, konsisten. Tanpa itu nonsen kita akan menang,” katanya. Filospfi sederhana inilah yang disalinkannya kepada Michu. Ia juga mengatakan, tidak ada yang mungkin dari sebuah kerja keras. Kegagalan jangan ditangisi. “Saya belajar dari Denmark ketika di sepelekan di Piala Eropa. Kami menghantam Jerman, membunuh Belanda dan menyingkir Ingris. Kami juara,” katanya dengan kalem.

Laudrup memang “ikon” sepakbola Denmark. Ia pengatur serangan dan palang pintu pertama menghempang serangan lawan. Ia telah merasakan selama sepuluh tahun di klub besar. Ia bermain untuk Juventus di Lega Calcio. Ia merasakan aroma Nou Camp kala di Barcelona. Dan ia tahu betapa magisnya Barnebeu. Ia juga tahu bagaimana nikmatnya melatih klub kecil, seperti Swansea tanpa di “pressure” untuk sebuah kemenangan setiap tampil.

Komentar