Laga Menggiurkan Belanda v Meksiko

Penulis: Darmansyah

Minggu, 29 Juni 2014 | 17:34 WIB

Dibaca: 0 kali

Laga Belanda melawan Meksiko adalah pertandingan pertama yang mempertemukan tim Eropa dan Amerika Selatan di babak enam belas besar setelah empat “latino” saling bunuh di pertandingan awal.
Dalam laga Brasil versus Cile dan Kolombia melawan Uruguay, dua tim “latino” telah tercampak. Cile kalah di adu penalti lawan Brasil dan Uruguay menangis di tending Kolombia.

Kini “Oranje,” yang dinominasikan sebagai salah satu kandidat juara, harus melawan tim penuh sensasi, Meksiko yang akrab di sapa “El Tri.” Belanda harus ingat, Meksiko sudah merepotkan Brasil di pertandingan grup lewat aksi kiper tanpa klub Guillermo Ochoa.

Guillermo Ochoa dengan percaya diri besar mengungkapkan timnya sudah sangat siap untuk melakoni laga kontra Belanda di Estadio Fortaleza, Minngu malam WIB, 29 Juni 2014.

Kiper yang tampil heroik di babak penyisihan grup itu, membeberkan rekannya tidak akan memfokuskan upaya untuk menjaga ketat Arjen Robben.

”Belanda adalah tim yang bermain seperti komputer, sangat cerdas, dengan banyak pemain yang berkualitas, dan kami harus berhati-hati dari semua itu. Namun kami tidak bisa hanya berkonsentrasi pada Robben, tidak peduli seberapa hebat dia,” tegas Ochoa, seperti dilansir Sky Sport, Minggu 29 Juni 2014.

”Kami telah banyak menyaksikan pertandingan mereka (Belanda) dan melihat bahwa mereka memiliki pemain yang bisa membuat perbedaan, begitu juga kami. Kami menyadari kekuatan mereka, tapi mereka juga perlu menyadari kekuatan kami,” lanjutnya.

Der Oranje, sejatinya memang menjadi salah satu tim yang paling mengesankan sejauh ini di Piala Dunia Brasil. Skuad Louis van Gaal, mampu meraih poin sempurna di Grup B yang dihuni Spanyol, Cile dan Australia. Alhasil, Belanda meraih sembilan poin dan menjadi juara grup.

”Garis pertahanan kami kuat, dan itu yang paling penting dalam turnamen sebesar ini. Pertahanan yang kuat adalah kekuatan yang membantu anda mendapatkan hasil yang baik,” sambungnya

Pola permainan dan raihan poin yang didapat Meksiko pada babak grup – mengemas tujuh poin serta menahan imbang Brasil tanpa gol— menjadi penegas bahwa mereka bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng.

Namun Belanda juga datang sebagai salah satu tim Eropa kuat, kendati mendapatkan cibiran karena pola defensif ala Luis Van Gaal.

Pada fase grup, Belanda pun tampil mengejutkan, mendepak tim juara bertahan Spanyol dan selalu menang dalam tiga pertandingan. Meski bermain defensif, Belanda juga mampu meraih sepuluh gol dan jadi tim tersubur selama fase grup.

Laga Belanda melawan Meksiko sendiri adalah laga antara dua tim yang sedang “berganti kulit”. Dahulu menggunakan pola menyerang, kini keduanya mengandalkan skema serangan balik untuk menjebol gawang lawan.

Meksiko di era Miguel Herrera adalah Meksiko yang tampil beda. Dia adalah seorang pelatih yang berani menanggalkan status kebintangan para pemainnya dan memaksa mereka bermain sebagai sebuah tim. Tak ada lagi upaya untuk menang dengan hanya mengandalkan satu dua pemain.

Hal ini berbeda jauh dengan pendahulunya, Jose Manuel de la Torre, yang bergantung pada Javier Hernandez sebagai tukang gedor, dan Rafael Marquez sebagai palang pintu pertahanan.

Pada wartawan, Herrera juga berucap bahwa filosofi yang ia emban mirip-mirip total football – bertahan sama-sama dan menyerang sama-sama.

Yang patut disoroti dari Hererra adalah pola Meksiko yang memainkan tiga orang di garis pertahanan. Tak hanya itu, lini tengah mereka pun lebih memiliki kecenderungan untuk bertahan. Maka wajar saja jika Meksiko menjadi salah satu tim dengan pertahanan terbaik, dan baru kebobolan satu gol.

Satu hal yang mesti diwaspadai Belanda adalah tim asuhan Van Gaal ini sama seperti Brasil. Keduanya sama-sama tidak memiliki deep lying midfielder. Faktor ini yang jadi penyebab Brasil kala itu kesulitan menembus barisan tengah Meksiko.

Hal sama mungkin ditemui Belanda, mengingat dua orang gelandang mereka, yakni Nigel De Jong dan Jonathan De Guzman, bukan pemain bertipikal metronom.

Lantas, untuk mematikan serangan Belanda, Meksiko tak usah capek-capek menghentikan Arjen Robben dan Robin van Persie. Anak asuh Hererra ini cukup membuat De Jong dan De Guzman memiliki jarak jauh dengan lini barisan depan. Apalagi jika mereka bisa menahan sang gelandang serang, Wesley Sneijder, untuk bermain lebih dalam.

Pada barisan penyerang, van Gaal mesti mengantisipasi Giovani dos Santos. Pemain ini diplot sebagai second striker dan diberi kebebasan ruang di tengah. Dos Santos akan jadi momok bagi Belanda, jika Van Gaal tetap mengitruksikan Bruno Martins Indi untuk man to man marking kepada Dos Santos.

Pasalnya, pemain Villareal ini pandai memancing bek untuk keluar dari posisinya, untuk memberi ruang bagi Chicharito atau Hererra masuk mengisi kekosongan itu.

Setelah absen melawan Chile akibat akumulasi kartu kuning, Robbie Van Persie akhirnya kembali membela panji-panji tim Oranje. Meksiko mesti mewaspadai pemain Manchester United ini.

Pada dasarnya, saat menyerang Belanda bermain melebar. Ada setidaknya enam pemain yang akan merentangkan batas permainan, yakni Blind – De Jong – Sneijder – De Guzman – Van Persie dan Janmaat .

Peran penting diemban bek kiri, Blind. Ia akan menjadi awal serangan untuk menyalurkan bola kepada Sneijder – yang cenderung bergerak ke sisi kiri.

Tapi kehadiran Sneijder di sayap kiri sendiri berarti Blind tak perlu terlampau naik ke depan. Ini berbeda dengan Janmaat yang cenderung lebih ofensif untuk membantu Van Persie. Andaikan ingin menyerang dari sisi sayap, maka Meksiko dapat mengeksploitasi sisi Janmaat.

Menilik permainan Belanda dan Meksiko di babak penyisihan grup, permainan akan berlangsung ketat dan mungkin akan terasa membosankan jika salah satu dari kedua tim tak mencetak gol lebih dulu hingga babak pertama usai.

Jumlah passing di final third lawan pun mungkin akan cenderung minim. Bahkan, jika Belanda bisa menembus lini pertahanan Meksiko pun mereka akan berhadapan dengan kiper yang sedang berada pada performa terbaiknya, Guillermo Ochoa.

Namun, yang jelas, laga Belanda melawan Meksiko adalah salah satu babak 16 besar yang paling sengit dan berimbang dibandingkan dengan laga-laga lainnya. Sulit untuk ditebak!

Komentar