Ketika Manchester United Kembali “Payah”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 4 Januari 2018 | 09:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Sekali lagi Manchester United.

Sempat luar biasa di awal musim, tim arahan Jose Mourinho itu kini justru tertinggal jauh dari persaingan di liga, terutama jarak poin yang semakin renggang dari Manchester Ciity

Ya, di awal musim, Manchester United mencanangkan target besar.

Hal itu juga didukung dengan dewan direksi yang memenuhi tuntutan Jose Mourinho untuk mendatangkan pemain baru.

Di musim panas, manajer asal Portugal tersebut meminta empat pemain namun hanya tiga yang bisa didatangkan.

Ketiga pemain itu adalah Romelu Lukaku, Nemanja Matic dan Victor Lindelof, selagi Ivan Perisic yang masuk dalam incaran gagal mereka angkut.

Meski begitu, Mourinho mengaku puas dengan kegiatan belanja timnya di musim panas dan performa pasukannya menanjak di awal musim.

United bahkan mampu mendulang sepuluh kemenangan dari dua belas laga perdana di semua kompetisi, namun kini mereka justru tertinggal jauh dari rival sekota Manchester City yang berada di puncak.

United untuk sementra menempati urutan kedua di tabel klasemen liga dengan selisih lima belas poin dari City.

Jarak tersebut terbilang besar dan peluang mereka untuk menjuarai liga tentu menipis mengingat City pimpinan Pep Guardiola dalam performa luar biasa dan belum terkalahkan di kasta teratas Inggris musim ini.

Mourinho lantas mengeluh. Ia menilai “United kurang membelanjakan banyak uang” demi memenuhi tuntutannya.

Benarkah demikian?

Sepertinya tidak. Mourinho hanya mencari alasan dan kurang bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini.

Di musim panas kemarin, kita boleh akui bahwa rekrutan United justru lebih diagung-agungkan ketimbang para pemain yang dibeli City.

Skuat yang ada di United bahkan lebih difavoritkan ketimbang deretan pemain yang berada di skuat The Citizens.

Sebenarnya, inti dari permasalahan ini semua adalah Mourinho, dan mantan bek Liverpool Jamie Carragher sependapat. Ia menilai United bisa saja memenangkan liga andai mereka ditangani oleh Guardiola.

“Ada kecacatan dalam argumen Jose Mourinho bahwa yang menjadi pembeda antara Manchester United dan Manchester City adalah uang,” ungkap Carragher lewat kolomnya di The Telegraph.

“Di awal musim dan saat menilai kualitas head-to-head dari skuat United dan City, pemain ke pemain, siapa yang Anda nilai lebih superior?”

“Apakah Ederson lebih baik ketimbang David de Gea? Apakah bek sentral City semacam Nicolas Otamendi dan John Stones lebih baik ketimbang Eric Bailly dan Phil Jones?”

Apakah fans United menginginkan Fernandinho atau Nemanja Matic?

“United bahkan memecahkan rekor transfer dunia untuk mendatangkan Paul Pogba, dan kemudian menjadikan Romelu Lukaku sebagai pemain termahal Liga Primer di musim panas. Klub Inggris mana yang membuat pernyataan lebih besar soal keseriusan mereka?

“Meski dia didatangkan sebelum penunjukan Mourinho, Luke Shaw merupakan fullback seharga tiga puluh juta pounsterling – lebih mahal ketimbang penyerang City Gabriel Jesus. Manajer United justru mengeluhkan nilai skuatnya yang tidak ditambah.”

Carragher menambahkan: “City lebih unggul musim ini karena Guardiola mampu mengembangkan pemainnya di luar perkiraan. Sulit dipercaya bahwa Guardiola mampu menangani De Bruyne sehari-hari di usianya yang masih muda.”

Senada dengan pernyataan Carragher, yang menjadi inti persoalan dari ini adalah Mourinho.

Sang manajer kurang mampu memaksimalkan potensi yang ada di timnya selagi faktor cedera dan jadwal padat juga patut disalahkan.

Selain itu, United terlihat kurang kreatif ketika Pogba absen karena cedera atau terkena suspensi — hampir tidak ada pemain yang sanggup mengisi kekosongannya dan itu diperparah dengan Lukaku yang jarang bersinar di pertandingan melawan klub besar.

Yang menjadi pertentangan lain adalah Mourinho lebih memilih bermain pragmatis untuk mendulang hasil, sekalipun itu dilakukan di kandang dengan bertahan begitu dalam dan melancarkan serangan balik ketika melawan tim papan atas, yang tentu terkadang berhasil namun beberapa gagal seperti saat menjamu City.

Pola pikir tampaknya menjadi penghalang bagi Mourinho untuk mengalahkan Guardiola beserta City arahannya.

Sebagai manajer yang mengklaim diri dengan julukan “The Special One”, Mourinho tidak lagi bisa dikatakan spesial andai tidak mampu mencari solusi mengalahkan rivalnya tersebut.

Sanggupkah Mourinho menghadirkan keajaiban di musim ini dengan mentalitas dan gaya berpikirnya?

Komentar