Kemenangan Rafa di Stamford Bridge

Penulis: Darmansyah

Senin, 21 Januari 2013 | 11:54 WIB

Dibaca: 0 kali

“KEMENANGAN Rafa,” komentar “BBC Sport”  usai “The Blues” Chelsea menjengkangkan rival “londones”nya “The Gunners” Arsenal  2-1, dalam pertarungan “derby” yang  saling “membunuh,” Minggu malam Wib,  untuk mengukuhkan satu diantara keduanya sebagai penguasa ibukota.

“BBC Sport” membuat narasi panjang yang emosional tentang pertandingan, yang dikatakannya, sangat emosional di tengah hujan lebat sepanjang permainan. Pertandingan, yang juga mereka komentari sebagai kebangkitan dua tim yang terluka. Pertandingan yang mengeksploitasi kemampuan Arsene Wenger dan Rafael “Rafa” Benitez sebagai dua “ikon” pelatih  dari dua “mazhab” yang berbeda.

“Pertandingan hebat. Arsenal tak perlu menyesali kekalahannya karena Theo Walcott telah memberikan pengabdian terbaiknya. Mereka hanya dikalahkan oleh  campur tangan wasit yang memberikan penalti  keliru atas hadangan Szczesny atas Ramirez. Padahal sebelumnya ada pelanggaran lain yang dialpakan wasit.”

Sebelum Chelsea  turun ke lapangan, Benitez yang sedang mengejar status pelatih permanen di Stamford Bridge,  bersumpah di kamar ganti untuk memberikan kemenangan kepada pengiritiknya. “Sekarang atau tidak,” katanya bergumam. Dan gumam itu pula yang ditanamkannya kepada Lampard, Mata maupun Carlos. Gumam yang dihentakkannya dengan pertanyaan,”apakah kalian ingin kembali ke persaingan juara?”

Benitez hanya meminta skuadnya untuk menelan satu kata,”konsistensi.” Dan itu yang dicamkan oleh Juan Mata ketika “fight” di menit-menit awal. Menit-menit yang menegangkan ketika aliran bola dari Lampard dan Carlos membuat Torres mengangkangi Signa dan Vermaellen, dua pemain belakang yang menguntit pergerakan  pemain asal Spanyol itu.

Dengan tiga pemain tengah dengan fungsi “play maker, defender” dan “second striker” dari Lampard, Carlos dan Mata, permainan Chelsea nyaris “perfect” dengan polarisasi fungsi keseimbangan lapangan tengah. Torres hanya bekerja memprovokasi dan menarik Signa untuk membuat celah masuknnya Mata.

Distribusi fungsi ini yang menjadi ciri kepelatihan Benitez selama enam musim di Liverpool dan  sangat mudah  dicerna untuk dikomentari oleh pengamat. Komentator yang dihadirkan oleh MNC TV, yang menyiarkan langsung pertandingan ini, Anton Sanyoto di waktu jeda bisa mengupas bagaimana strategi babak pertama Benietz dan kemungkinannya di babak kedua.

Benitez, seperti dikatakan Anton, di babak kedua tidak lagi harus ngotot. Chelsea harus mengonsilidasikan pertahanannya dengan menarik Lampard dan menempat Mata dalam “double function.” Itu memang terjadi ketika Arsenal bangkit dengan mengubah starting permainannya untuk lebih taktis.  Arsenal hanya mendapat satu gol berkat terkonsilidasinya pertahanan Chelsea yang malam itu belum menurunkan John Terry yang masih belum sembuh betul dari cedera “hamstring”nya.

Benitez sejak awal kepelatihannya di Chelsea memang dipusingkan oleh ketiadaan “jenderal” di pertahanan. Terry yang sejak Roberto Di Matteo di pecat sudah bermasalah dengan FA dan mengalami skorsing karena kasus “rasial”nya. Setelah kepelatihan beralih ke Rafael Benitez, yang sebelumnya nganggur usai di usir dari Inter Milan,  masalah Terry masih mengganjal hingga ia cedera dan absen dalam lanjutan Premier League dan Piala FA.

Malam itu, ketika harus bertarung dengan ketat dengan Arsenal, Chelsea memang merasakan ketimpangan tanpa Terry. Tapi Benitez berhasil memompa Mata, Carlos dan Lampard untuk berani mengambil inisiatif serangan di menit-menit awal. Itu mereka lakukan tanpa peduli dengan serangan balik Arsenal. Pokoknya ganjal di lapangan tengah,” instruksi Rafa.

Hasilnya menit ke-6 dan ke-16  lahir dua gol beruntun dari  kecermatan akselerasi Mata yang melakukan “standing passing” dari umpan Cesar dan menaklukkan Szczesny. Sedangkan gol kedua dicetak Lampard dari titik penalti akibat Szczesny menebas Ramires yang tinggal menjebloskan bola.

Stamford Bridge memang bersorak. Tapi bukan untuk Benitez. Mereka masih sakit hati dengan sang pelatih yang datang ketika anak kesayangan mereka Matteo di usir Baron Abramovich. “Saya datang dalam kemelut yang rumit. Tapi saya datang untuk mengangkat klub ini,” kata Rafa.

Di babak kedua Wenger mengubah strateginya ketika Benitez lebih memberi tekanan pada blok pertahanan. Wenger memberi kebebasan ruang pada Coquelin dan menyuruh Theo Walcott untuk lebih ketengah dalam fungsi “striker.” Sebuah fungsi yang memang diidam-idamkan Walcott. Hasilnya memang nampak. Gol Walcott yang lahir dari kematangan sebagai ujung tombak.

Babak kedua yang masih disiram hujan lebat itu hanya memberi Arsenal satu gol setelah mengambil alih lendali permainan. Chelsea telah lebih dahulu memasang perangkap, biarkan Arsenal mengambil alih permainan tapi jangan biarkan ia mendikte.

Sampai peluit akhir ditiup hasilnya tetap 2-1. Dengan kemenangan ini posisi Chelsea sudah mengoleksi angka 45 makin merapat ke “runner up” klasemen City, yang mengantongi poin 51, dengan selisih enam angka dan sebelas angka dari  MU yang berada di puncak dengan 55 angka. The Blues juga makin merenggang  jaraknya dengan Tottenham yang  menguntitnya dengan empat angka, setelah dalam pertandingan lainnya klub asuhan Andree Villas Boas itu   bermain seri dengan Manchester United di Old Traford.

Dengan kemenangan itu Chelsea sudah berada di jalur persaingan juara dengan kemungkinan tersandungnya City dan MU dalam pekan-pekan mendatang. Arsenal sendiri tidak berubah posisinya di peringkat enam

Komentar