“Kegilaan” Leicester Jadi Trending Topic

Penulis: Darmansyah

Selasa, 28 Februari 2017 | 14:28 WIB

Dibaca: 1 kali

“Kegilaan” Leicester City lewat kemenangan tiga gol berbanding satu di King Power ketika menjamu Liverpool dalam lanjutan laga Liga Primer masih saja menjadi “trending topic” media di Inggris.

Pembahasan atas kemenangan ini menjadi sangat menarik karena mereka “hanya” dilatih Craig Shakespeare, yang sebelumnya adalah asisten dari Claudio Ranierei yang baru saja di pecat akhir pekan lalu.

Dan dengarlah kata-kata Craig yang sentimental untuk mengomentari kemenangan itu.

‘Kami telah banyak dikritik dalam beberapa hari terakhir, namun saya melihat malam ini kami siap untuk bertarung.’

Barisan kata itu keluar dari mulut Craig Shakespeare di ruang ganti sebelum laga Leicester City menjamu Liverpool.

Shakespeare yang kini menjadi caretaker manajer Leicester paham situasi sulit yang dialami timnya usai pemecatan Claudio Ranieri pekan lalu.

Kritik demi kritik–bahkan dari suporter Leicester–ditujukan kepada manajemen akibat pemecatan sosok yang membawa tim itu juara Liga Inggris untuk kali pertama musim lalu.

Bagaimana dengan hasil laga menjamu Liverpool?

Tim Merseyside itu ditekuk dengan skor tiga gol berbanding satu

Bahkan, Jamie Vardy dan kawan-kawan unggul tiga gol lebih dulu.

Lantas muncul pertanyaan, pantaskah dibesar-besarkan kemenangan Leicester tersebut, mengingat rekam jejak Liverpool saat melawan tim-tim semenjana?

Shakespeare yang merupakan asisten Ranieri sebelumnya itu sepertinya memahami kelemahan dari taktik agresif Liverpool di bawah asuhan Juergen Klopp.

Dua bek sayap yang terlalu melebar dan kerap terlambat turun serta pasangan bek sentral–Lucas Leiva dan Joel Matip–yang sedikit lambat dan terbuka karena minim lapisan.

tu terlihat saat Leicester mencetak gol pertama lewat Jamie Vardy pada menit kedua puluh delapan.

Leiva telat untuk memotong umpan terobosan menyilang Marc Albrighton kepada Vardy.

Ketelatan Leiva itu harus dibayar mahal karena posisi Vardy tinggal berhadap-hadapan dengan Simon Mignolet.

Dan, Vardy berhasil memanfaatkan momentum itu untuk mencetak gol.

Kelimpungannya Leiva mengawal Vardy pun terlihat pada menit ketiga puluh empat.

Pria yang sebelumnya kerap beroperasi sebagai gelandang bertahan itu kesulitan mengimbangi langkah Vardy yang menusuk ke dalam kotak penalti.

Vardy pun dengan cerdik melepaskan umpan dengan tumit kepada Onyinye Ndidi yang bebas di belakang dia. Liverpool beruntung karena tembakan Ndidi melebar dari gawang Mignolet.

Setelah diselingi gol jarak jauh Daniel Drinkwater pada menit ke-39, Vardy kembali hampir mencetak gol pada babak kedua.

Memasuki menit kelima puluhb sembilan, Vardy menerima umpan sundulan Shinji Okazaki.

Vardy berlari di belakang Leiva dan berhadap-hadapan dengan Mignolet kembali. Namun wasit meniupkan peluit tanda offside.

Dalam tayangan ulang tampak posisi offside Vardy bukan karena kecerdikan Leiva melainkan langkah telat pria asal Brasil tersebut.

Dan akhirnya, Vardy mencetak gol ketiga memanfaatkan umpan silang Christian Fuchs satu menit kemudian.

Emre Can yang seharusnya bisa membuang bola tersebut, melompat terlalu cepat sehingga teradang Vardy lebih dulu yang kemudian menyundul bola untuk menggetarkan gawang Mignolet.

Apa yang terjadi di Stadion King Power itu menjadi peringatan keras bagi Klopp. Dia harus memikirkan keregangan pertahanan timnya dalam menghadapi serangan kilat para penyerang di Liga Inggris yang umumnya memiliki lari cepat.

Seperti yang diungkap mantan kapten sekaligus bek sayap Manchester United, Gary Neville, “Liverpool terlalu membuka pertahanan mereka yang seharusnya tak dilakukan saat melawan Leicester.”

Sejumlah fakta menarik pun tersaji dalam laga ini

Fakta menarik duel Leicester melawan Liverpool dikutip dari BBC Sport, pertama adalah  Leicester sukses memenangi enam pertandingan Liga Primer ketika sanggup mencetak gol lebih dulu pada musim

The Foxes menjadi satu-satunya tim Liga Primer yang mencatat rekor kemenangan seratus persen ketika unggul lebih dulu dari tim lawan.

Lasinnya, empat dari lima kekalahan Liverpool musim ini terjadi saat menghadapi tim yang pernah masuk dalam jurang degradasi, termasuk takluk dari Burnley, Swansea, dan Hull City.

Jamie Vardy sukses mencetak gol bagi Leicester sejak tahun ini

Terakhir kali, pemain asal Inggris ini mencetak gol ketika The Foxes menghadapi Manchester City, 10 Desember 2016 lalu.

Sama halnya dengan Vardy, gelandang serang Liverpool Philippe Coutinho juga berhasil membuka keran gol di tahun ini

Gol terakhir pemain asal Brasil itu terjadi ketika melawan Watford pada November.

Wilfred Ndidi mencatat sebelas tekel sempurna pada duel ini.

Sejauh ini hanya mantan pemain Leicester N’Golo Kante yang kini pindah ke Chelsea yang memiliki catatan tekel tertinggi dengan empat belas tekel sukses ketika melawan Liverpool pada Januari lalu

Komentar