close
Nuga Bola

“Jangan Tangisi Kekalahan Itu “de Oranye”

Dramatis!! Itu “koop” berita satu kata dari “de Telegraff,” surat kabar terbitan Amsterdam, edisi Kamis, 10 Juli 2014, memberi judul “headline”nya, tentang kekalahan Belanda atas Argentina di babak adu penalti setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol, di waktu normal dan perpanjang waktu, pada semi final Piala Dunia 2014, Kamis dinihari WIB, 10 Juli 2014, di Arena Corinthians, Sao Paulo, Brasil.

Bagi “de telegraff,” kegagalan Belanda ini tidak perlu diprovokasi dengan menuduh ketidak mapanan permainan mereka. “”Oranye sudah memberikan apa yang mereka miliki. Segalanya,” tulis Daniel Kuyt, analis sepakbola paling tajam di Europa.

Dan, dengan nada satire dalam tulisan bergaya “esai” itu, “de Telegraff,” menutup tulisannya dengan kalimat “Jangan tangisi kekalahan itu Oranye.”

Belanda memang gagal ke final Piala Dunia 2014 setelah dihentikan oleh Argentina lewat adu penalti di Arena Corinthians, Kamis dinihari WIB tadi. Ini artinya pupus juga kesempatan mereka untuk meraih titel juara dunia yang pertama kalinya.

Pelatih hebat Louis van Gaal tidak emosional dengan kekalahan itu. Ia mengaku senang dengan apa yang berhasil diraih Belanda sejauh ini di Piala Dunia 2014. Hal ini sebenarnya bukan target Federasi Sepak Bola Belanda jika melihat materi pemain yang dimiliki.

Van Gaal pun masih dengan nada sangat intim, di ruang wartawan, mengaku tidak menyangka mampu membawa Belanda mencapai babak semifinal dan harus kalah dari Argentina melalui drama adu penalti. “Saya bangga Oranje disingkirkan Argentina yang merupakan tim kelas dunia berdasarkan materi pemainnya.”

“Kami memainkan turnamen yang luar biasa. Tidak ada yang membayangkan kami akan sampai sejauh ini,” kata Van Gaal kepada wartawan dikutip dari Football Italia.

“Argentina adalah tim kelas dunia dengan pemain kelas dunia. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sebenarnya kami tidak kalah dengan mereka,” lanjutnya.

Dalam lagi melelahkan dan nyaris kedua tim kehilangan “touch,” Belanda kembali i harus menghadapi babak adu penalti. Namun, tidak seperti laga perempatfinal, Louis van Gaal memutuskan untuk tidak mengganti kiper.

Kala bertemu dengan Kosta Rika di babak perempatfinal, Van Gaal memutuskan untuk mengganti Jasper Cillessen dengan Tim Krul menjelang berakhirnya babak kedua extra time. Keputusan ini terbukti tepat setelah Krul dua kali menggagalkan eksekusi pemain Kosta Rika, yakni Bryan Ruiz dan Michael Umana.

Setelah laga tersebut, Van Gaal mengakui bahwa Krul sudah dipersiapkan khusus untuk adu penalti. Wajar kalau kemudian, Van Gaal akan mengambil langkah serupa jika Belanda menghadapi adu penalti lagi di kemudian hari.

Namun, ketika menghadapi Argentina di semifinal, Van Gaal tidak mengambil langkah serupa. Dia sudah menghabiskan jatah pergantian pemainnya sebelum bisa memasukkan Krul.

Setelah memasukkan Darryl Janmaat dan Jordy Clasie, Van Gaal menggunakan kesempatan terakhir untuk mengganti Robin van Persie dengan Klaas-Jan Huntelaar di babak extra time.

Van Gaal beralasan, Van Persie sudah kelelahan dan dia lebih memilih untuk mencari gol di babak extra time ketimbang melalui babak adu penalti.

“Jika saya punya kesempatan untuk mengganti Jasper, pasti saya sudah melakukannya. Tapi, saya sudah melakukan tiga pergantian sehingga saya tidak bisa lagi,” ujarnya seperti dilansir Reuters.

“Saya kira, sangat penting mengganti Van Persie karena dia sudah kelelahan. Awalnya saya merasa bahwa Huntelaar pasti akan menciptakan gol,” ujarnya..

Di babak adu penalti, dua pemain Belanda, yakni Ron Vlaar dan Wesley Sneijder, gagal mengeksekusi tendangan dengan baik. Tendangan keduanya diblok oleh kiper Argentina, Sergio Romero.

Ini merupakan hal yang ironis, mengingat Van Gaal ikut berperan dalam karier Romero. Tujuh tahun lalu dia membeli Romero untuk memperkuat AZ Alkmaar dan ikut melatihnya untuk menghadapi tendangan penalti.

“Adu penalti selalu soal keberuntungan. Tentu saja, saya pernah melatih Romero untuk beradu penalti dan itu menyakitkan,” kata Van Gaal.

Arjen Robben , pemain ekslusif Belanda, menilai bahwa keberhasilan timnya melangkah hingga semifinal sudah merupakan capaian yang bagus. Apalagi sejak awal mereka memang tak dijadikan unggulan, menempati posisi di belakang tim-tim seperti Brasil, Jerman, Spanyol, Argentina, Portugal, bahkan Belgia.

Oleh karena itu, Robben menuntut rekan-rekannya untuk tetap mengangkat kepala tegak-tegak. Apalagi masih ada satu laga yang perlu di jalani yakni perebutan tempat ketiga kontra Brasil di Estadio Nacional Mane Garrincha, Minggu dinihari WIB mendatang.

“Dari lubuk hati yang paling dalam, saya bisa berkata sejujurnya bahwa Anda bisa melihat bagaimana semua orang telah mendukung tim ini. Saya pikir kita semua boleh merasa sangat bangga dengan para pemain ini,” kata Robben kepada NOS dikutip Football Italia.

“Saya pikir kami harus mengubah mindset kami dengan segera. Kami telah bekerja dengan luar biasa bagus hingga di titik ini. Tentu saja sekarang saya merasa kecewa, tapi kami telah melakukan yang terbaik,” demikian penyerang Bayern Munich ini.

Sedangkan bagi Wesley Sneijder kegagalan Belanda melangkah ke final Piala Dunia 2014 merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Sneijder pun mengaku sangat membenci adu tendangan penalti.

“Ini sulit bagi kami. Kami layak mendapatkan sesuatu yang lebih. Mungkin kami seharusnya sudah mengakhiri pertandingan lebih awal,” kata Sneijder.

“Saya pikir hanya ada satu tim yang menginginkan adu tendangan penalti dan itu adalah Argentina. Itu benar-benar menyakitkan, namun inilah sepak bola,” ucap dia.

Belanda kalah dalam adu tendangan penalti setelah Ron Vlaar dan Sneijder gagal dalam mengeksekusi tendangan penalti. “Saya ikut bertanggung jawab. Terkadang terjadi kesalahan. Saya sangat membenci adu tendangan penalti,” tambahnya.

sumber : de telegraff, football italia dan daily mail

Tags : slide