Hiddink Gagal Depak Gaal dari Old Trafford

Penulis: Darmansyah

Selasa, 29 Desember 2015 | 09:58 WIB

Dibaca: 0 kali

Guss Hiddink gagal mengusir seteru “abadi”nya Louis van Gaal dari Old Trafford usai kedua tim, Chelsea dan Manchester United, bermain seri, tanpa gol di sesi “boxing day,” Selasa dinihari WIB, 29 Desember 2015.

Sehari sebelumnya, Hiddink memiliki peran besar untuk mengenyahkan van Gaal dari Manchester United bila mampu mengalah klub elitis Premier League setelah manajemen klub mengultimatum akan memecatnya bila kalah dari Chelsea.

Hiddink dengan tawa kecil kepada wartawan usai pertandingan hanya berkata singkat, “Tak ada yang terusir dari Old Trafford. “

“Saya tidak datang sebagai pendepak. Semuanya baik-baik-baik saja,” ujar Hiddink yang dikenal sangat tidak bersahabat dengan van Gaal walau pun sama-sama berasal dari Belanda.

Dengan laga melawan Chelsea, sudah dua pertandingan yang dilakoni Guus Hiddink sebagai manajer interim Chelsea.

Kedua pertandingan itu dilalui Chelsea dengan skor imbang.

Setelah imbang dengan Watford pada akhir pekan lalu, Kini Chelsea bermain imbang tanpa gol dengan tuan rumah Manchester United, Selasa dini hari WIB.

Namun, Hiddink tak mau berkecil hati.

Sebaliknya, manajer asal Belanda itu mengaku puas.

“Secara taktik cukup baik, organisasi pertahanan kami juga baik,” tukas Hiddink seperti dikutip Reuters dalam jumpa pers usai laga di Old Trafford.

“Kami tidak memiliki kekuatan penuh untuk menyakiti United… Kami memiliki beberapa masalah dalam posisi penyerang karena akumulasi dan cedera, jadi kami harus mencari cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.”

Berlaga di kandang MU, Hiddink tak bermain dengan pemain yang memiliki posisi alami sebagai penyerang.

Penyerang asal Spanyol Diego Costa tak bisa bermain karena akumulasi kartu, selain itu Loic Remy dan Radamel Falcao terbelit cedera.

Walhasil, Hiddink mematok winger asal Belgia Eden Hazard sebagai sosok sentral di lini serangan. Ia disokong Pedro Rodriguez yang membantunya di lini kedua.

“Hazard pernah melakukan ini sebelumnya dan dia mampu untuk melakukannya karena dia adalah seorang pemain yang serba guna,” kata Hiddink yang menjadi manajer interim Chelsea setelah Jose Mourinho dipecat sang pemilik, Roman Abramovich bulan ini.

“Saya senang karena kami memiliki beberapa peluang bagus di babak kedua,” kata Hiddink.

Salah satu peluang terbaik Chelsea diperoleh Nemanja Matic pada babak kedua. Matic berhasil menembus barisan pertahanan dan berhadap-hadapan dengan kiper ManUtd David De Gea. Sayang, peluang dalam situasi satu lawan satu itu dilewatkan Matic.

“Para pemain ini memiliki pengalaman yang sangat buruk dalam setengah tahun terakhir. Mereka harus mengangkatnya dan itulah yang menjadi pembicaraan kami di ruang ganti,” ujar Hiddink.

Hal itu, lanjut pria yang mundur dari jabatan pelatih timnas Belanda pada tengah tahun ini, setiap orang di Chelsea setuju itu dan ingin bangkit–setidaknya ditunjukkan dalam tiga laga terakhir.

“Saya hanya akan lebih khawatir jika ada kekurangan kepercayaan diri atau ambisi tetapi saya tidak melihat dua hal itu saat ini di dalam tim,” tukasnya.

Sebelum laga dengan Chelsea semua mata memandang Louis van Gaal.

Posisinya sebagai manajer Manchester United tengah dalam pertaruhan besar. Pertandingan melawan Chelsea, diyakini menjadi kiprah terakhirnya di Old Trafford.

Ironisnya, manajer lawan yang dihadapi adalah kolega senegaranya, Guus Hiddink.

Bagaimana hubungan keduanya?

Hiddink dan van Gaal yang pernah menjadi guru pendidikan jasmani sebelum berkecimpung sebagai praktisi kepelatihan sepakbola.

Mereka tumbuh sebagai anak keluarga Katolik yang konservatif, disiplin sangat mengakar dalam diri
Meski demikian, keterkaitan itu sungguh kentara.

Awal musim ini, Van Gaal membekukan status Victor Valdes di dalam skuat United. Kiper yang baru awal tahun ini didatangkan itu diminta berlatih bersama skuat junior.

Valdes tidak diperkenankan ada di lapangan latihan ketima skuat utama berlatih. Di mata publik, Van Gaal adalah seorang guru penindas yang menuntut kepatuhan dari para pemain sebagai subordinat.

Bagaimana dengan Hiddink?

Sebagai juga van Gaal ia mengikuti jejak ayahnya sebagai guru pendidikan jasmani.

Selain guru, ayah Hiddink juga dikenal sebagai pahlawan Belanda saat Perang Dunia Kedua. Latar belakang Hiddink sebagai anak ketiga dari enam bersaudara mungkin menjadikannya lebih moderat daripada Van Gaal.

“Saya sering merasa saya bekerja untuk membesarkan anak-anak yang sulit dewasa,” guraunya.

“Di sekolah saya harus berurusan dengan anak-anak dengan latar belakang yang pelik, terkadang terlibat kriminalisme. Memang memungkinkan untuk menerjemahkan pekerjaan itu saat menangani pesepakbola profesional.”

Tapi, sama halnya seperti kompatriotnya itu, Hiddink tak segan mengungkapkan kejujuran.

Saat menangani Valencia, Hiddink pernah mengancam menarik keluar para pemainnya dari atas lapangan karena melihat spanduk bernada rasis di Stadion Mestalla.

Di Real Madrid, Hiddink kehilangan jabatan karena kerap mengkritik kebijakan direksi yang menghambur-hamburkan uang.

Media, fans, dan pemain memandang Hiddink sebagai figur yang lebih rileks.

Dia juga dikenal sebagai motivator handal seperti saat menangani timnas Korea Selatan dan Australia. Publik dan kolega menjulukinya “Lucky Guus”.

Jika Van Gaal adalah figur guru yang sangat disiplin, sebut Wesley Sneijder, Hiddink adalah seorang paman idaman.

Bukan kali ini saja dua guru sohor sepakbola Belanda itu berjumpa. Sepanjang karier mereka sebagai pelatih, Van Gaal dan Hiddink lima kali berjumpa. Dua pertemuan pertama kiranya langsung menggetarkan jiwa karena terjadi di ajang El Clasico. Pada periode ini, Van Gaal mengungguli Hiddink.

Pertemuan pertama terjadi ketika Madrid menjamu Barcelona tujuh belas tahun lalu Santiago Bernabeu tak hanya menjadi saksi pertandingan yang berakhir sama kuat, tetapi juga perang dingin kedua pelatih.

Van Gaal dan Hiddink tak saling bertegur sapa karena keduanya memang bukan teman baik.

Seorang jurnalis bergurau, satu-satunya kesamaan keduanya adalah memiliki jawaban yang sama atas pertanyaan, “Dari negara mana Anda berasal?”

Chelsea menjadi sarana Hiddink mengembalikan reputasi sebagai salah satu pelatih top di dunia sepakbola.
Dengan demikian laga di Old Trafford dicatat menjadi duel reputasi dua singa tua Belanda.

Van Gaal, yang berusia lima tahun lebih muda, juga tengah berjuang menyelamatkan reputasi. United terpendam dalam rentetan kekalahan dan jabatannya dipertaruhkan.

Kalau pun harus tersingkir, Van Gaal memilih melakukannya dengan cara sendiri. Keluar lapangan sebagai pemenang, baik dalam pertandingan maupun menentukan nasib.

“Tidak mesti selalu terjadi sebuah klub memecat saya. Terkadang saya melakukannya sendiri. Saya tidak bisa bilang saya mempertimbangkannya, tapi ini sesuatu yang pernah saya katakan sebelumnya,” ujar Van Gaal usai dikalahkan Stoke City, akhir pekan lalu.

Komentar