Erick Thohir: Soal Inter? “No Coment”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 5 Juni 2013 | 16:35 WIB

Dibaca: 0 kali

Pengusaha media Eric Thohir bungkam tentang rencana akuisisinya terhadap klub Lega Calcio, Inter Milan. Sikap Erick ini merupakan cara dia meredam sentimentilitas keluarga Massimo Moratti yang merasa tersinggung dengan “rumor” media yang memberitakan telah terjadi “deal” penjualan 80 persen saham Inter kepada pengusaha Indonesia, Erick Thohir.

Ketersinggungan keluarga Moratti yang memiliki seratus persen saham Inter dinilai wajar karena sebagai “klan” terkaya di Italia, Inter Milan bagi Moratti ada prestise karena klub itu warisan darai sang ayah.
Erick yang memiliki Viva Tbk bersama keluarga Bakrie memang bermaksud untuk mengakuisisi Inter dan telah menyediakan dana sebesar hampir Rp 5 trliun. Dana itu akan digunakan membeli 80 persen saham inter dan untuk mendanai transfer pemain.

Walaupun santer diberitakan oleh media baik di Indonesia maupun Italia, pengusaha Indonesia Erick Thohir enggan berkomentar tentang kabar dirinya akan membeli klub Inter Milan.

Ditemui wartawan seusai Rapat Umum Pemegang Saham Viva Grup di Komplek Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Rabu, Erick menolak memberi pernyataan apapun soal itu tersebut.

“Soal Inter saya tak mau jawab. Deal atau tidak, saya tak bisa jawab,” ucapnya pendek.
“Apakah ada kompetitor, Pak?” tanya wartawan lagi.
“Saya tak bisa jawab,” jawab Erick.
“Apakah ada deadline tertentu?”
“Kita bisa lihat, proses masih berjalan, dalam satu bulan, akan jadi atau tidak.”
“Apakah sudah bertemu Massimo Moratti?”
“Saya tak bisa jawab,” tutup pria yang juga menjadi Chief de Mission kontingen Indonesia di Olimpiade 2012 itu.

Rumor yang beredar di Italia, Erick mengincar saham mayoritas dari Moratti, yang telah memimpin Inter sejak 1995. Konon, pria yang juga memiliki klub bola basket Satria Muda dan Indonesia Warriors, serta klub MLS DC United itu siap menggelontorkan 300 juta euro atau sekitar Rp 3,8 triliun ditambah 100 juta euro untuk mendanai transfer pemain untuk menguasai mayoritas saham La Beneamata.

Akan tetapi, dalam pernyataan terakhirnya Moratti mengatakan bahwa “90% isu tersebut” tidak benar. “Menjual saham mayoritas klub? Tidak. Kami sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat berbeda. Bukan sesuatu yang menentukan. Itu hanya akan terjadi jika Inter diuntungkan. Jika tidak, kami tidak mau,” cetus Moratti melalui situs resmi klubnya.

Sementara itu perusahaan Viva Tbk yand dikendalikan Erick akan meluncurkan televisi berbayar yang bernama “VIVA Sky” pada akhir tahun ini. “ VIVA Sky” ini adalah tayangan Piala Dunia 2014, dan diharapkan mampu meraup 300.000 pelanggan di semester I-2014. Jumlah tersebut akan naik menjadi 1 juta pelanggan jika “VIVA Sky” mampu mengakuisisi pelanggan dari televisi berbayar lain dan menayangkan acara yang tidak disiarkan oleh televisi lain.

Selain konten berupa Piala Dunia yang menjadi tayangan unggulan, VIVA Sky akan menggaet perusahaan global untuk mengisi tayangannya. “Kalau soal membuka partner global ada News Corp, yang punya saham 6 persen di VIVA. Kita terbuka bekerjasama dengan mereka,” katanya. Untuk keperluan itu, perseroan menganggarkan dana sebesar sekitar 40 juta dollar AS. Dari dana itu, sebesar 30 juta dollar AS di antaranya untuk keperluan belanja modal.

Dana tersebut diperoleh dari fasilitas pinjaman Deutsche Bank beberapa waktu lalu sebesar 80 juta dollar AS. Dana sebesar itu dinilai cukup untuk mengembangkan bisnis media Grup Bakrie.
Dalam kesempatan itu, Eric Tohir juga menjelaskan bahwa penjualan VIVA ke MNC kemungkinannya sangat kecil. Hal ini karena bisnis media yang dijalankan berkinerja baik.

Komentar