Erick: ”Saya Tidak Tinggal di Milan”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 27 November 2013 | 11:03 WIB

Dibaca: 0 kali

Pemilik Inter Milan, Erick Thohir, mengaku enggan tinggal dan menetap di Italia walaupun dirinya kini menjadi Presiden Inter Milan, walau pun ia punya target mengembalikan stabilitas perekonomian klub , yang memerlukan intensitas kerja tinggi.

“Saya tetap orang Indonesia dan saya akan tinggal di Indonesia,” ujar Thohir saat bertemu dengan sejumlah wartawan di hotel Holiday Inn, Bandung. Untuk menjalankan peran sebagai orang nomor satu di klub elite Eropa tersebut, Erick telah berkomitmen penuh untuk terus mengawasi pasang surutnya Inter setiap saat.

“Sebagai Presiden Inter Milan saya punya komitmen untuk port meeting dalam satu tahun empat kali,” ujarnya.

Meski tetap memutuskan untuk tinggal di Indonesia, Erick juga akan terus hadir dalam rapat mingguan yang selalu digelar setiap hari Jumat dengan memanfaatkan video conference.

“Kami ada meeting setiap Jumat. Sekarang kan, ada video conference, skype dan macam-macam. Jadi tidak perlu repot,” bebernya.

Sebagai salah satu bisnis yang menjadi sorotan dunia, konglomerat Indonesia ini yakin di bawah kepemimpinannya, ekonomi Inter akan membaik sedikit demi sedikit.

“Namanya bisnis harus pakai hati. Artinya, meski saya tidak di Milan setiap minggu, bukan berarti saya tidak nonton pertandingannya ataupun meeting,” jelasnya.

Tentang tur Asianya Inter Milan yang dijadwalkan tahun depan, Erick Thohir mengungkapkan, akan berlangsung tahun depan usai kompetisi.. Namun begitu, Nerazzurri tidak menjadwalkan singgah di Indonesia karena situasi politik pada 2014.

Thohir menjawab beberapa pertanyaan tentang Inter, dari tur Asia hingga hubungannya dengan pemain Inter

Apakah Inter Milan bakal anda bawa ke Indonesia lagi dalam tur akhir musim nanti?

Kami tur setiap tahun. Nanti apakah ke Amerika atau Asia, bisa saja. Kemarin kan ke Amerika. Tahun ini ( akhir musim) kemungkinan ke Asia. Tapi saya rasa Indonesia dengan situasi politik 2014, saya rasa susah. Izinnya, dan segala macamnya jadi susah. Mungkin ke Asia tapi tidak ke Indonesia.

Tapi kalau tidak salah Inter Forever, yang isinya pemain legenda Inter, akan ke sini awal tahun depan. Tapi, itu bukan saya yang bawa. Sudah lama rencananya, sebelum saya masuk, sudah ada pembicaraannya.

Punya rencana untuk mendirikan sekolah sepakbola Inter Milan di Indonesia?

Kemungkinan itu tidak tertutup. Tapi kami lagi pelajari bentuk sekolah apa yang cocok. Kan ada sekolah yang sukses dan gagal. Saya tidak mau sebut klub, ya. Makanya kami harus pelajari juga sekolah yang sukses.

Ini bagian strategi anda?

Pasti. (Erick kemudian bercerita soal dipilihnya dia menjadi presiden Inter)… seperti bagaimana saya jadi presiden Inter. Saya enggak tahu, enggak kebayang awalnya. Keputusannya saat itu, presidennya tetap keluarga Morrati, saya CEO-nya. Tapi pada menit-menit akhir, dia (Moratti) bilang, “Jangan kalau CEO dan presiden beda pendapat, enggak bagus buat klub. Lebih baik kamu saja.”

Itu jadi beban. Karena saya presiden klub Italia pertama yang orang asing. Dan namanya Erick Thohir, orang Indonesia, berarti enggak hanya bawa nama pribadi, bawa nama Indonesia juga. Jadi ada tekanan. Bukan takut, tapi beban itu membuat saya harus kerja keras, dan buktikan orang indonesia itu bagus. Iya dong.

Sejauh mana orang-orang Italia mengenal Indonesia?

Mereka tahu Indonesia, tapi mereka tidak mendalam seperti tahu Amerika atau Inggris. Ini bagus bagaimana hubungan kedua negara harus dimaksimalkan bukan hanya dari turisme, tapi sharing culture. Contoh topeng Venice salah satu yang top di dunia. Di sini juga banyak bikin topeng, jadi bisa dimanfaatkan, bagimana industri, atau ahli teknologi, ahli market saling belajar.

Ngomong-ngomong sudah akrab dengan pemain Inter?

Saya baru bertemu Zanetti. Ada fotonya kami ngobrol. Saya rasa dia contoh yang bagus untuk pemain muda tidak hanya di luar negeri tapi Indonesia. Di usia 40 tahun dia masih displin, masih latihan luar biasa. Pola makannya dijaga, tidak aneh-aneh, tidak clubbing, drugs, minuman keras. Dia disiplin, makanya 40 tahun masih bisa main seperti pemain 30 tahun.

Apa ada manfaat seperti berbagi keahlian dari Inter untuk persepakbolaan Indonesia?

Pasti. Ini kan baru empat atau lima hari, masih nguuuung..ha ha ha.. (“pusing”.red). Pasti ada dong manfaatnya buat Indonesia. Selama Indonesianya terbuka. Contoh seperti tadi, Apakah pemainnya sendiri mau maju?

Komentar