close
Nuga Bola

Drama di Ujung Laga Miliknya Rodgers

Sembilan menit “injury time” di Anfield, Minggu malam WIB, 21 Desember 2014, merupakan drama “happy end” untuk Brendan Rodger ketika Martin Skrtel, yang kepalanya berbalut perban, melakukan lompatan dan menanduk bola umpan silang Lallana yang menjadikan pertandingan Liverpool dan Arsenal berakhir seri. Dua gol berbanding dua.

“Dramatis,” tulis “Daily Mail,” dalam edisi Senin, 22 Desember 2014. Seakan “berteriak,” dalam tulisannya itu “Daily Mail” menggerakkan pembaca lewat detil yang komperehensif tentang latar belakang lahirnya gol Skrtel.

Bermula dari pergerakan Stevan Gerrard dari garis tengah yang mengikuti arus bola “one-two”nya dengan Lallana, Skrtel sepertinya tahu kemana harus mengisi ruang. Lewat akurasi pergerakannya, Lallana membuat “touching” untuk menghentikan bola dan kemudian mengirm umpang silang ke kotak penalty.

Skrtel tahu apa yang ia lakukan. Melompat sembari menghadang bola dengan sisi kiri kepalanya. Dan gol.

Itulah drama di ujung laga “big match” Premier League pekan ketujuh belas antara Liverpool dengan Arsenal. Sebelum gol Skrtel terjadi Arsenal unggul dua gol berbanding satu berkat aksi Olivier Giroud.

Nnamun pemberian waktu tambahan mencapai sembilan menit menjadi krusial. Dan di “injury time” itu
Martin Skrtel di dua menit terakhir membatalkan kekalahan keempat The Reds dari tim-tim besar Premier League Arsenal.

Satu poin didapat Liverpool di Anfield cukup untuk menyelamatkan Brendan Rodgers, dan kini “The Reds” menempati urutan ke-sepuluh, sedangkan Arsenal berada di peringkat keenam.

Seperti biasa, atmosfer luar biasa terasa di Anfield menjelang kick off. Para Liverpudlian yang hadir serempak menyanyikan chants andalan mereka, You’ll Never Walk Alone.

Dalam laga ini pelatih Brendan Rodgers membuat perubahan besar pada formasi dengan menggunakan pola tiga bek.

Sedangkan Arsene Wenger menggunakan pola empat- satu-empat-satu yang terkenal dengan fleksibilitasnya karena dapat bermain sama efektifnya baik dalam menyerang dan bertahan.

The Gunners mengandalkan Olivier Giroud sebagai penyerang tunggal.

Dalam laga itu, Brendan Rodgers, masih saja mengatakan bahwa penampilan timnya kian membaik dari pekan ke pekan. Tapi statistik memperlihatkan masalah ‘Si Merah’ musim ini belum tuntas, bolong di belakang dan tumpul di depan.

Tengok saja statistik yang disajikan oleh ESPN di tiga pertandingan terakhir Liverpool di Premier League, saat melawan Sunderland, Manchester United, dan Arsenal.

“Penyakit” di lbelakang saat laga kontra MU pekan lalu, muncul lagi di laga melawan Arsenal di Anfield. Dua gol yang dibuat The Gunners, dari dua shot on target tim itu sepanjang permainan, murni kesalahan lini belakang ‘Si Merah’.

Gol Mathieu Debuchy seharusnya bisa diantisipasi lebih awal mengingat bola berawal dari situasi free kick. Skrtel kalah saat duel di udara dengan Debuchy yang notabene lebih pendek darinya

Sementara di gol kedua yang dibuat Olivier Giroud, terlihat betapa rapuhnya backfour Liverpool saat Giroud dan Santi Cazorla dengan mulus memainkan umpan satu banding dua, sebelum cutback Cazorla dituntaskan oleh Giroud yang sama sekali tak terkawal.

Padahal dari momen Giroud melepas umpan ke Cazorla ada waktu untuk bek-bek Liverpool melihat Giroud dan mengawal striker asal Prancis itu.

Dua gol Arsenal itu semakin memperburuk kinerja lini belakang Liverpool yang hanya mampu empat kali clean sheet dari dua puluh laga terakhir di Premier League. Musim ini pun gawang The Anfield Gang sudah kebobolan dua puluh empat gol dan hanya bikin dua puluh satu gol.

“Saya puas dengan performa kami sepekan ini saat melawan Manchester United, Bournemouth, dan Arsenal, itu memperlihatkan bahwa kami perlahan kembali ke bentuk terbaik kami,” ujar Rodgers di BBC.

“Saat jeda babak pertama saya meminta tim untuk terus mempertahankan penampilan dan kami memperlihatkan karakter hebat untuk bangkit dari ketertinggalan , dengan hanya sepuluh pemain,” lanjutnya.

“Saya tidak berpikir bahwa kami sudah bisa kembali ke level terbaik kami. Sebagai manajer Anda harus berpikir kreatif untuk menemukan sistem yang bisa membawa ke sana.”
Secara statistik Arsenal kalah jauh dalam penguasaan bola saat melakoni laga di markas Liverpool. Arsene Wenger menyebut bahwa The Gunners terlalu cepat kehilangan bola di babak pertama.

Dalam pertandingan itu, Arsenal dicatat oleh Soccernet cuma mencatatkan 36 persen penguasaan bola. Bahkan, pada sepuluh menit pertama pertandingan, mereka sempat dicatat cuma melakukan dua puluh persen ball possession.

Hasilnya, Peluang Arsenal pun minim. Mereka cuma tujuh kali melakukan percobaan, tiga di antaranya tepat sasaran. Sedangkan Liverpool membukukan 27 tendangan ke arah gawang, sepuluh tepat sasaran. Wenger pun merasa frustrasi dengan cara bermain Arsenal.

“Kami kehilangan bola terlalu cepat di babak pertama –saat Anda tak terbiasa dengan sebuah hal, itu membuat frustrasi,” kata Wenger di BBC.

“Untuk gol mereka, kami mempunyai banyak pemain belakang di lapangan,. Mengecewakan bahwa kami tidak melompat. Anda pasti menginginkan semua orang fokus saat tendangan sudut,” imbuhnya.

Tags : slide