Derby Manchester, Laga Konsistensi dan Juara

Penulis: Darmansyah

Kamis, 30 Oktober 2014 | 08:27 WIB

Dibaca: 0 kali

Laga derby Manchester di ujung pekan ini, Minggu, 02 Nopember 2014, di Etihad Stadium, antara United melawan Citizens, akan mempertaruhkan “kebesaran” Manchester “Biru” sekaligus menguji konsistensi Manchester “Merah” dalam dua musim terakhir.

Manchester City, oleh pengamat, seperti mantan kiper legendaris MU, Peter Scheimechel, secara totalitas sudah berada di atas United karena sudah dua kali dalam empat musim terakhir menjuarai Premier League.

City juga sedang berada di “on treck” untuk mengulang sukses sebagai juara bertahan dengan impresfitas yang ganas setelah dilatih oleh Manuel Pellegrini. “Masa kebesaran Manchester United sebagai tim paling seksi telah lewat. Kondisi rivalitas telah berubah, mengingat The Citizens meraih hasil lebih baik akhir-akhir ini,” kata Scheimechel

Schmeichel pernah delapan musim memperkuat MU di tahun sembilan puluhan.

Mantan kiper internasional Denmark itu jadi bagian sukses ‘Setan Merah’ dalam periode tersebut, dengan meraih lima gelar Premier League, tiga Piala FA, satu Piala Liga, satu gelar Liga Champions, dan satu trofi Piala Super Eropa.

Sebaliknya, di periode yang sama City malah berkutat dengan degradasi dan susah payah bertahan di Premier League. Mereka bahkan sempat terlempar ke divisi tiga..

Maka tak mengherankan jika MU selalu dianggap tim yang lebih besar ketimbang tetangga sekotanya di kala itu. Setidaknya sampai masa Sir Alex Ferguson berakhir dan City mulai menjadi tim kaya setelah dibeli grup Abu Dhabi.

Kenyataannya kini situasi berbalik, City mulai meraih sukses sementara MU mengalami penurunan. Dalam tiga musim terakhir, City sudah meraih dua gelar Premier League, satu titel Piala FA, dan satu trofi Piala Liga Inggris.

Sebaliknya, MU memang menjuarai Premier League 2012-2013, tapi musim lalu jeblok dengan hanya finis di urutan ketujuh.

Musim ini, membandingkan performa keduanya, City juga masih lebih baik. Anak asuh Manuel Pellegrini sementara menempati posisi tiga klasemen, sedangkah MU di urutan delapan tertinggal empat angka.

Akhir pekan ini, keduanya akan berduel di Etihad Stadium.

“Di tahun-tahun pertama saya di MU, saya tidak mengerti rivalitas dengan City. Rivalitas dengan Liverpool dan Leeds jauh lebih besar,” kata Schmeichel kepada BBC.

“Sekarang situasinya berbeda. Manchester City adalah tim juara, mereka mendapatkan gelar Premier League kedua musim lalu dan mungkin pada saat ini mereka adalah klub yang lebih besar daripada Manchester United dalam hal hasil. Jadi kepentingannya sudah berubah,” demikian pria yang juga sempat memperkuat City itu.

Sementara itu Manchester United pada laga di stadion tetangga sekotanya nanti, sedang berada di ambang konsistensi permainan setelah berhasil menahan imbang Chelsea akhir pekan kemarin.

Kini mereka dinanti laga derby kontra Manchester City, mampukah mempertahankan performa oke?

Start MU musim ini memang tak mulus. Total sudah sepuluh pertandingan dilalui, baru tiga kemenangan diraih sementara tiga lainnya berujung dengan kekalahan.

Jika dilihat lebih saksama, anak asuh Louis van Gaal bahkan kerap kesulitan kala menghadapi tim-tim non unggulan.

Dua kekalahan di Premier League misalnya, dipetik dari Swansea City dan tim promosi Leicester City. Sementara satu kekalahan lain malah lebih memalukan, yakni dari Milton Keynes Dons yang merupakan tim divisi tiga di ajang Piala Liga Inggris .

Menghadapi tim-tim sekelas Burnley, Sunderland, dan West Bromwich Albion saja Wayne Rooney dkk. cuma berhasil memetik hasil imbang.

Maka pujian pun berdatangan kala berhasil menahan imbang Chelsea di Premier League. Chelsea, yang saat ini memuncaki klasemen dan belum terkalahkan Performa MU saat itu disebut sebagai yang terbaik sepanjang musim.

MU masih perlu membuktikan diri. Laga derby kontra City di Etihad Stadium, Minggu malam WIB jadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa performa mereka mulai konsisten.

“Derby ini adalah satu laga yang tricky untuk Manchester United karena inkonsistensi mereka. Ketika Anda melihat bagaimana musim lalu akan berjalan untuk tim-tim, Anda akan berkata Manchester City adalah favoritnya,” kata pengamat sepakbola Premier league martin Keown dalam tulisannya di “Daily Mail,” Kamis, 30 Oktober 2014.

“Mereka bertahan dengan buruk dan kemudian tampil baik, mencetak banyak gol lalu tidak lagi membuat banyak gol berikutnya. Laga melawan Leicester adalah contoh terbaik,” tulis Keown tentang turun naiknya grafik permainan MU.

‘Kita tidak tahu apa yang akan didapatkan MU pada Minggu nanti,” tulis Keown.

Komentar