Palace Gagalkan Liverpool Juara Liga

Penulis: Darmansyah

Selasa, 6 Mei 2014 | 08:15 WIB

Dibaca: 0 kali

Drama Premier League, di ujung laga musim ini, menggagalkan Liverpool menjadi juara setelah gagal mendaki jalan terjal lewat pertandingan krusialnya dengan Crystal Palace berakhir seri, tiga banding tiga, di Selhurst Park, Selasa dinihari WIB, 06 Mei 2014.

Hasil seri ini, dengan tambahan satu angka untuk “The Reds,” membuat klub Anfield ini naik lagi ke puncak klasemen dengan unggul satu angka dari Manchester City, dan menyisakan satu laga di ujung pekan nanti.

Keunggulan satu angka ini menyebabkan Liverpool sangat tergantung dengan dua laga sisa “The Citizen.”

Jika Manchester City bisa memenangkan kedua laga itu, atau salah satunya berakhir seri, kerena memiliki selisih gol lebih baik, maka punahlah harapan Liverpool untuk meraih trofi Premier League setelah duapuluh tujuh tahun tak pernah mendapatkannya.

Kegagalan menang dari Crystal Palace, klub ditubir jurang degradasi, semakin menyakitkan bagi Liverpool, mengingat mereka mendominasi pertandingan dan unggul tiga gol sebelum disamakan Palace.

Tidak itu saja, kegagalan menang atas Palace juga mengikis asa Liverpool menjuarai Premier League.

Dengan satu laga tersisa, Liverpool memang berada di puncak klasemen, atau hanya unggul satu angka dari pesaing terdekat, Manchester City yang masih punya dua pertandingan.

Mengingat materi skuad City dan lawan yang akan City hadapi, Aston Villa dan West Ham, Liverpool memang harus siap untuk kemungkinan terburuk.

Dengan begitu, wajar Luis Suarez kecewa dan langsung menangis ketika peluit berbunyi panjang. Masuk lapangan sebagai pemain terbaik versi Asosiasi Jurnalis Sepak Bola Inggris, Football Writers’ Association, Suarez melepaskan sejumlah tembakan, yang seharusnya bisa membuahkan lebih dari satu gol dan membawa The Reds menang.

Suarez begitu kecewa hingga pelukan Steven Gerrard tak membuatnya menurunkan kaus yang ditutupkannya ke wajahnya. Padahal, jika ada pemain yang paling menginginkan gelar juara Premier League, itu adalah Gerrard. Selama dua puluh tujuh tahun menjadi pemain Anfield, Gerrard telah meraih segalanya kecuali gelar Premier League.

Sementara Liverpool kecewa karena tak lagi bergantung pada diri sendiri, Crystal Palace layak mendapatkan apresiasi. Mereka memang tidak bermain se-atraktif dan se-eksplosif Liverpool, tetapi mereka menunjukkan mental layaknya juara.

“Kami sudah mencetak sembilan puluh sembilan gol, sebuah pencapaian yang fenomenal untuk sebuah tim. Tapi, kami gagal dalam bertahan,” ujar Rodgers dengan wajah di tekuk, usai laga menggemaskan itu kepada “BBC.”

“Tidak ada gunanya mencetak gol sebanyak itu, jika kami bertahan seperti malam ini.”

Tertinggal tiga gol dari Liverpool, Palace tetap fokus dan tenang dan terus mencari kesempatan memangkas jarak. Mereka berkali-kali tertekan, tetapi selalu berusaha keluar ketika menguasai bola.

Usaha mereka akhirnya membuahkan gol dari Delaney. Gol ini boleh jadi merupakan keberuntungan, mengingat tembakan jarak jauh Damien Delaney melesat ke gawang Simon Mignolet setelah mengenai Glen Johnson. Namun, gol kedua dan ketiga merupakan hasil pergerakan yang diperhitungkan.

Gol kedua berawal dari pergerakan Yannick Bolasie. Setelah menyisir sektor kiri pertahanan Liverpool dan mengecoh sejumlah pemain, ia melepaskan umpan terobosan yang tak terbaca tim tamu. Dalam situasi dikelilingi pemain lawan, Gayle menyambut bola dengan tendangan kaki kanan yang terukur ke sudut kiri bawah gawang.

Kualitas Palace semakin terlihat pada gol ketiga. Hanya dengan tiga sentuhan, mereka membuyarkan asa tiga angka The Reds. Sebuah umpan panjang dari tengah lapangan, diteruskan oleh Glenn Murray kepada Gayle. Gayle sempat mengontrol bola sebelum meloloskannya ke sudut kanan bawah gawang dengan tendangan kaki kiri dari tengah kotak penalti.

Keberhasilan Palace menghindari kekalahan jelas tak lepas dari peran pelatih Tony Pulis, mengingat Gayle dan Murray adalah pemain pengganti. Permainan Palace meningkat setelah kedua pemain itu masuk.

Sejumlah suporter memberikan apresiasi kepada Pulis. Salah satunya ditunjukkan dengan membuat spanduk bertuliskan “Crystal Pulis FC”.

Keberhasilan Palace menahan Liverpool menunjukkan bahwa di Premier League, siapa pun bisa menang melawan siapa pun. Dengan begitu, drama Premier League belum berakhir.

City mungkin kehilangan poin pada dua laga terakhir dan Liverpool masih bisa berharap nasib mereka tidak tragis seperti Arsenal yang terpaksa puas finis di peringkat keempat, padahal sempat menguasai klasemen selama dua puluh pekan.

sumber : bbc, skysports dan mirror

Komentar