Brasil Akhiri Era Spanyol

Penulis: Darmansyah

Senin, 1 Juli 2013 | 09:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Estadio Maracana, Rio de Janeiro, Senin pagi WIB, di final Piala Konfederasi, menyaksikan sebuah “tragedi” berakhirnya “era” sepabola “tiki taka,” yang selama empat tahun terakhir membuat sepakbola dunia bergidik bak melawan “hantu.” “La Furia Roja,” yang mendominasi jagat raya sepakbola dunia lewat kedigdayaannya dengan menjuarai dua kompetisi berlabel “number one,” Piala Dunia dan Piala Europa, harus mengakui “superiotas” Selecao yang melumat eksistensinya lewat kemenangan 3-0.

Maracana meledak dalam haru biru “koor amazone” yang magisnya ditabuh lewat tambur besar untuk mengusir “setan hoak” sembari memberitahu bahwa Brasil telah kembali menjadi “roja” sepakbola yang ritualnya dipuja bak sebuah “agama.”

Brasil memang telah kembali setelah terhempas selama lima tahun terakhir ke kubangan degradasi. Mereka tak salah mencoreng semua pelatih didaftar putih CBA dan hanya mempercayakan tim Selecao ini ke tangan “midas” Felippe Scolari.

Dibutuhkan waktu enam bulan bagi Scolari untuk menata kembali “puing” kehancuran Selecao dan mengusir pemain :tua” yang membuat ulah serta memberi kepercayaan penuh kepada pemain mudia usia, Neymar, Hulk dan Fred untuk membawa Brasil ke “altar” juara.

“Tidak mudah,” kata Scolari tentang penataan tim dengan pola permainan yang diadaptirnya untuk mengejar sisa waktu menjelang Piala Dunia 2014 Brasil. Ia harus bongkar pasang dan membawa timnya ke Europa melawan Jerman, Perancis dan Inggris sebelum memulai debutnya di Piala Konfederasi.

Luar biasa Brasil. Mereka mencekeram kembali di laga-laga Piala Konfederasi. Melumat Jepang, membantai Italia, mengalahkan Meksiko, menggusur Uruguay dan akhirnya menghajar Spanyol 3-0 di final.

Fred, yang dulu terbuang karena “deadlock” karirnya dalam tim nasional, menjadi pahlawan Selecao. Fred dipulihkan harkat permainannya oleh Scolari lewat pendekatan “man to man” menjadi mesin gol di laga-laga krusial. Begitu juga dengan Neymar, yang makin matang memberi sumbangan bagi tim lewat kekuatan akselarasinya.

Berdukakah Spanyol? Ya, La Furi Roja memang berduka. Secara tematis mereka memang sudah menurun. Di Laga semifinal mereka hanya mampu mendapat keberuntungan dari Italia lewat gol penalty yang tipis.

Spanyol kini memang sedang dilanda prahara. Dalam pertandingan final Piala Konfedarsi mereka tidak menemukan momentum juara. Spanyol gagal memaksimalkan penalty. Bahkan di pertengahan babak kedua mereka juga harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Gerard Pique diusir wasit karena “mengancam” Neymar lewat “short tackling” yang mematikan.

Euforia kemenangan meledak di Maracana begitu peluit terakhir wasit Bjorn Kuipers asal Sewdia disemburkan. Publik Brasil bersorak-sorai melihat hegemoni tiki taka andalan Spanyol mati kutu oleh Jogo Bonito milik tim Samba Brasil.

Angka 3-0 di papan skor menjadi gambaran betapa hancur leburnya senjata andalan Matador dalam menguasai dunia dan Eropa dalam lima tahun terakhir. Ya, Brasil dengan sepakbola indah yang dipadukan dengan efektifitas berhasil mengakhiri catatan gemilang La Furia Roja yang belum terkalahkan dalam 29 laga resmi FIFA.

Secara kasat mata, Brasil memang tidak sepenuhnya memamerkan jogo bonito yang jadi trade mark mereka satu atau dua dekade silam. Pelatih, Luiz Felipe Scolari memadukannya dengan permainan kolektif yang terbukti sukses membuat Spanyol frustrasi.

Dua gol Fred di awal babak pertama dan kedua serta aksi Neymar di akhir babak pertama, menjadi bukti sahih betapa efektifnya serangan Spanyol dalam
laga final ideal Piala Konfederasi 2013.

Spanyol pun dibuat frustrasi. Penguasaan bola yang jadi senjata ampuh mereka pun terbantahkan. Spanyol yang hampir selalu mencatatkan rasio 60 persen penguasaan bola, kini hanya unggul tipis. 52 berbanding 48!

Bahkan tiki taka mereka yang jadi andalan dalam membongkar pertahanan lawan, seakan jadi boomerang bagi mereka. Trio Luiz Gustavo, Oscar dan Paulinho sukses mengisolasi pergerakan Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, sehingga praktis tiki-taka Spanyol mandek di lini tengah.

Apesnya lagi, Brasil selalu menebar ancaman nyata setiap kali berhasil memanfaatkan kesalahan Spanyol atau lewat skema serangan balik. Tidak percaya? Kartu merah Gerard Pique saat menghentikan laju Neymar di menit ke-68 menjadi bukti betapa berbahayanya serangan Brasil.

Secara keseluruhan, Brasil memang pantas mendapat apresiasi besar menyusul sukses mereka mencetak hattrick di Piala Konfederasi setelah sebelumnya jadi juara pada 2005 dan 2009.

Dan salah satu sosok yang pantas mendapat sorotan utama selain Neymar da Silva yang jadi pemain terbaik, ialah sosok Luiz Felipe Scolari. Pelatih yang sebelumnya membawa Selecao juara di Piala Dunia 2002 ini sukses memadukan para pemain mudanya menjadi sebuah tim yang solid.

Namun, yang kini jadi tugas utama Felipao ialah terus meningkatkan performa ‘bocah-bocah ajaibnya’ untuk kembali membuat bangga publik Brasil di Piala Dunia 2014.

Komentar