Benar!! Gila, Laga Belanda v Kosta Rika

Penulis: Darmansyah

Minggu, 6 Juli 2014 | 12:15 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda menyaksikan laga Belanda melawan Kosta Rika, Minggu dinihari WIB, 06 Juli 2014? Bukan hanya seru, tapi gila! Paling tidak itulah yang bisa kita saksikan dari siaran langsung pertandingan tim antar benua yang menguras semuanya dari kedua kesebelasan.

Belanda yang ofensif dan taktis lewat ramuan strategi permainan ala Louis van Gaal boleh saja membombardir pertahanan Kosta Rika sepanjang laga, namun pertandingan harus melewati fase mendebarkan, perpanjangan waktu dan diakhiri lewat adu penalti juga.

Sampai-sampai Louis van Gaal harus mengganti kiper khusus untuk adu penalti.

Laga selama seratus dua puluh menit di Stadion Fonte Nova, Salvador, Minggu dinihari WIB itu, walau pun skor tetap kosong berbanding kosong, berjalan dengan dinamis tanpa meninggalkan kesan membosankan.

Grafis yang dirilis FIFA boleh jadi menjadi acuan betapa laga itu penuh “dekadensi” permainan yang membuat orang “gila bola” menjadi lebih gila lagi. Belanda melakukan enam puluh sembilan “dangerous attack,” sementara Kosta Rika tiga puluh tiga kali.

Belanda punya dua puluh “attempts” sepanjang pertandingan dengan lima belas di antaranya tepat sasaran. Sementara, Kosta Rika hanya enam attempts dengan tiga di antaranya tepat sasaran.

Ada beberapa faktor yang membuat serangan Belanda berkali-kali gagal. Selain buruknya penyelesaian akhir, kesialan lantaran beberapa tendangan pemain mereka menerpa tiang gawang, sampai briliannya Keylor Navas di bawah mistar gawang.

Oleh situs resmi FIFA, Navas tercatat melakukan tujuh kali penyelamatan sepanjang laga. Ini sudah cukup untuk bikin Belanda frustrasi.

Selain itu, disiplinnya barisan pertahanan Kosta Rika juga kerap mematikan serangan Belanda. Barisan bek Kosta Rika berdiri segaris sejajar seperti penggaris, lalu bergerak naik dan turun bersamaan. Ini membuat pemain-pemain Belanda kerap terperangkap offside.

Berapa kali Belanda terjebak offside? Tiga belas kali. Cukup banyak.

Ketika Belanda terus menekan, Kosta Rika sempat mendapatkan beberapa peluang di penghujung babak kedua extra time. Sial buat Kosta Rika, nasib mereka sama saja dengan Belanda. Peluang mereka mentah karena penyelesaian akhir kurang baik dan satu kali gagal karena diblok dengan kaki oleh kiper Belanda, Jasper Cillessen.

Melihat gelagat pertandingan bakal berlanjut ke adu penalti, Louis van Gaal mempersiapkan kiper pengganti, Tim Krul. Krul sudah terlihat bersiap di pinggir lapangan di ujung menit babak kedua perpanjangan waktu..

Mengganti dan memasukkan pemain non-kiper, yang dipersiapkan sebagai penendang, untuk menghadapi babak adu penalti adalah hal yang lazim. Namun, di sini Van Gaal malah memutuskan untuk mengganti kiper.

Ketika peluit panjang dibunyikan, pelatih Kosta Rika, Luis Pinto, bersorak. Sepertinya dia sudah mengantisipasi hal ini. Ditambah penampilan apik Navas di bawah mistar gawang, Pinto memang layak untuk punya keyakinan.

Tapi, apa yang terjadi? Navas malah tidak satu kali pun memblok penalti pemain Belanda.

Sebaliknya, pergantian Cillessen dan Krul –yang main hanya untuk adu penalti saja– sukses. Krul tampil sebagai pahlawan setelah memblok tendangan Bryan Ruiz dan Michael Umana. Belanda pun lolos setelah menang empat lawan tiga dan melaju ke semifinal untuk menghadapi Argentina.

“Pergantian pemain itu luar biasa! Jika Anda melihat hal seperti ini, Anda layak untuk memujinya,” ujar penyerang Belanda, Robin van Persie, seperti dilansir BBC.

Keputusan Van Gaal memasukkan Krul adalah keputusan yang terbukti jitu, tetapi itu bukan satu-satunya keputusan krusial Van Gaal pada laga itu.

Van Gaal pun mengabaikan pemain-pemain muda, dan mengandalkan pemain-pemain senior untuk menguji Navas. Tim Krul dan algojo-algojo pilihan Van Gaal berhasil menghabisi keberuntungan Kosta Rika, bahkan sebelum algojo terakhir.

Tim Krul mementahkan tembakan Bryan Ruiz dan Michael Umana, sementara empat eksekutor penalti Belanda tak ada yang gagal menaklukkan Navas. Para eksekutor penalti Belanda adalah Robin van Persie, Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Dirk Kuyt.

Meski menentukan kemenangan Belanda, Tim Krul tak menjadi pemain terbaik laga itu. Gelar itu menjadi milik Navas. Hal ini wajar mengingat Krul tidak bermain penuh seperti Navas. Lagi pula, gelar pemain terbaik yang diraih Navas jelas tak sebanding dengan tiket semifinal yang didapat Belanda.

Komentar