Barcelona Keluar? “El Clasico” Tamat

Penulis: Darmansyah

Jumat, 12 Oktober 2012 | 23:38 WIB

Dibaca: 0 kali

El clasico tamat? Itulah spekulasi yang menyebar di seantero komunitas bola dunia usai The Independent surat kabar London menurunkan delapan halaman laporan di suplemennya  yang menyajikan liputan investigasi tentang krisis keuangan klub-klub La Liga dikaitkan dengan makin kencangnya  tuntutan  kemerdekaan “negara” Catalan dengan bendera keramatnya “Senyera” dimana Barcelona menjadi miliknya.

Memulai laporan komprehensifnya di salah satu tulisan pembuka yang sangat tajam, The Indpendent  menohok ke kantong cash flow  klub-klub La Liga yang dikatakan mengalami bleeding menahun. Arus kas yang berdarah-darah dan sangat sulit diberikan injeksi imunitas.

Mengambil contoh klub Malaga CF yang oleng di pascamusim lalu,  The Indpendent mewawancarai secara ekslusif pemiliknya  Seikh Abdullah al Thani, seorang pangeran flamboyan kaya raya dari Qatar. Sang pangeran membenarkan adanya kesulitan keuangan yang dialami Malaga sehingga ia memutuskan untuk membongkar tabungan depositonya untuk mempertahankan eksistensi klub dari eksodus para pemain.

Memang sempat menjajakan beberapa pemain kuncinya ke klub kaya liga-liga di daratan Eropa pascamusim lalu,  klub Andalus ini bisa bertahan berkat komitmen yang kuat  dari Sheikh Abdullah untuk tetap bertahan sebagai pemilik. Padahal spekulasi yang beredar saat itu Sheikh berniat akan menjual klub kesayangannya itu. Dengan topangan dana segar, Malaga akhirnya selamat.

Kasus Getafe, klub La Liga lainnya, yang di awal musim mencoreng kehebatan Real Madrid setelah menjengkangkannya, sudah dua musim ini tak punya cadangan dana untuk membayar gaji pemain dengan lancar. Sudah menjadi bahan “sas-sus” di lingkungan media, Getafe memang punya masalah dengan dana.

Klub yang menjadi momok Real Madrid dan Barca karena kemampuannya menjadi “pembunuh” ini belum mampu keluar dari kesulitan keuangan yang membuat prestasinya  tidak stabil. Dan kini berada di urutan sembilan klasemen dengan 10 angka. Laporan keuangan disertai arus kas Getafe terlihat bolong-bolong dan pekerjaan divisi keuangannya hanya gali lobang tutup lobang.

“Mereka hanya bisa hidup dari uang bagi hasil penayangan pertandingan yang aturannya super ketat,” tulis The Independent.

Sebelum Malaga dan Getafe, dua klub papan atas La Liga telah  masuk ruang gawat darurat karena arus kas keuangannya mengering. Kedua klub itu Valencia dan Sevilla telah lebih duluan menjerit mencari dana  untuk  membiayai eksistensinya  musim kompetisi dua tahun lalu. Sampai sekarang pun kedua klub itu masih dalam posisi rawat jalan karena kasnya masih gonjang ganjing.

Menyahuti investigasi koran The Independent, suratkabar Inggris lainnya, Guardian bercerocos dengan tulisan dengan nada sama di rubrik sepakbolanya mengangkat kasus klub Atletico Madrid. Klub tetangga “El Real” itu, hari-hari ini sedang mengalami kesulitan keuangan usai melunasi harga transfer strikernya Radamel Falcao asal klub Porto, Portugal.

Pemilik Atletico, Marin, begitu klub yang  satu kota dengan  “Los Blancos”  itu disebut, dalam  sebuah wawancara dengan senior editor sepakbola Guardian, Tony Adams, membenarkan akan menjual Falcao dengan harga 60 juta euro atau Rp 742 milyar.

Bahkan Presiden Atletico, Enrique Cezero, sesuai dengan kesepakatan dengan pemilik klub, Marin sudah memastikan jadwal penjualan Falcao  lewat jendela transfer dua bulan mendatang.

“Sudah ada yang berminat,” katanya mengisyaratkan tentang penjualan  Falcao. Tapi ia tidak menolak maupun  membenarkan  hubungan penjualan Falcao dengan  kedatangan Roberto Mancini, pelatih Manchester City, ke Madrid menyaksikan aksi Falcao ketika Atlelico bertanding melawan Malaga di Stadion Vicento Calderon. Pers Spanyol malah menulis telah ada kesepakatan awal dengan dengan “Citizens”, tempat berlabuh Falcao.

Presiden Atleco Madrid, Enrique  Cezero, menepis adanya pertemuan  awal untuk menjajaki kemungkinan hengkangnya penyerang Atletico itu  ke “Citizens” ketika Mancini datang ke Madrid. Mancini  sendiri hanya tersenyum ketika usai melatih timnya disergap pertanyaan wartawan tentang kedatangan Falcao ke Etihad Stadion. Ia hanya bungkam ketika terus didesak dan meninggalkan jejak kecurigaan tentang telah dicapainya kesepakatan  awal dengan Atletico Madrid.

Dan Falcao kepada La Marca, surat kabar Barcelona paling prestisius, mengatakan dia akan mudah beradaptasi dengan kompetisi Inggris. Selama di “Los Cholconeros”, julukan Atletico, sejak kepindahannya dari Porto setahun lalu, Falcao (26) sudah mencetak 33 gol dari 40 pertandingan.

Berita kepindahan Falcao tidak menghentikan denyut pemberitaan akan karamnya La Liga dan raibnya el clasico dari pentas bola Spanyol, Eropa, bahkan dunia dan menyumpal mulut para fans Los Blancos” dan “Blaugrana”.

“Tidak,” tulis Guradian tentang spekulasi akan berakhirnya pentas atraksi Barca di La Liga. Guardian seperti ingin meluruskan jejak spekulasi yang ditinggalkan oleh investigasi koran The Independent mengingatkan. ”Tidak seorang pun menginginkan La Liga dengan el clasico raib dari pentas sepakbola. Terlalu prematur untuk membuat konklusi laga clasico akan tamat.”

Guardian mengutip kembali tentang statuta La Liga  yang dipahami  peserta La Liga sebagai jalan tengah untuk Barca bila Catalan merdeka. Jalan tengah itu adalah, Barcelona bisa mendaftarkan diri untuk ikut dalam La Liga dengan mencatatkan diri ke federasi otonomi seperti ke federasi Andalus atau federasi manapun di Spanyol yang memiliki otonomi.

Kalaupun Barca dilarang masuk federasi oleh Catalan, negara yang digadang-gadang akan membelah diri dari “Espana”,  ia masih bisa memohon menjadi anggota La Liga dengan mengajukan permohonan “lex spesialis”  seperti Republik Andora di Laut Tengah, yang dulu juga bagian dari Spanyol, dan kini menjadi anggota La Liga di divisi dua.

La Liga tentu tidak akan mau kehilangan pendapatannya dari tayangan televisi live pertandingan yang dimainkan Barca yang  kontraknya menggiurkan. La Liga juga tak akan rela  kehilangan pendapatan dari fee kompetisi Eropa yang menjadi langganan Barca. Begitu Barcelona hengkang, La Liga dalam hitungan bulan langsung bangkrut dan tamat.

Menurut The Independent yang mengaduk-aduk laporan keuangan La Liga dari sebuah biro akuntansi menyimpulkan, 50 persen pendapatan La Liga berasal dari Barca dan El Real. Dan El Clasico adalah tambang duit terbesarnya. Investigasi itu menyimpulkan, hampir seluruh anggota La Liga bermasalah. Hanya Barca dan Madrid yang eksis dan menyubsidi putaran kompetisi.

Dalam tulisan lainnya, dengan judul “Catalan Merdeka di Nou Camp” surat kabar itu menegaskan, Barca memang sedang berada di simpang jalan dengan aroma politik yang kental.

“Datang ke Nou Camp pada pertandingan el clasico. Anda akan menyaksikan gairah kemerdekaan di sana. Ada koor suara dengan pekik “independentia… independentia…” dan ribuah bendera “Senyera”, warna kuning emas dengan garis-garis merah, seperti  merahnya garis baju kandang Barca dikibarkan.

Di sana ada “perang”. Itu yang diungkapkan Steve Mc Manaman, mantan gelandang Madrid asal Scotlandia, tentang pertandingan el clasico di Nou Camp. “Di Nou Camp kita tidak hanya bertarung di lapangan, tapi juga dengan emosi. Kalau tidak kuat jangan datang. Sebab di sana kita berperang.”

Dendam el clasico di Nou Camp, yang minggu lalu sudah mengoleksi angka 222 kali pertandingan dan berumur lebih dari 110 tahun, adalah dendam Catalan terhadap Espana yang mereka identikkan dengan Real Madrid.

Dendam ketika kemerdekaan mereka dirampas di tahun 1714 bersamaan berakhirnya perang suksesi Spanyol. Juga dendam ketika Diktator Jenderal Fransisco Franco yang memerintah Spanyol dengan tangan besi dan membunuh semua simbol yang menjadi milik  Catalan. Franco membunuh semua ekspresi politik mereka dan melarang pengibaran “Senyera” di manapun  dan kapanpun. Sedangkan “Genearismo” itu sendiri, begitu ia dipanggil, adalah fans fanatik Madrid, klub ibukota.

Kini semuanya telah berlalu. Franco telah mampus. Catalan sudah merdeka di Nou Camp dan sedang mabuk menggadang-gadang proklamasi dengan mempergunakan simbol La  Barca, pendukungnya, “Blaugrana”, serta Nou Camp dalam sebuah pertaruhan akhir.

Simbol, yang ditulis oleh The Independent sedang berjalan ke arah kemerdekaan sejati dan memerangkap Barccelona  dalam pilihan ambivalen.  Hengkang  dari La Liga atau tetap memainkan el clasico.

Komentar