Barca Vs PSG di Nou Camp, Bukan Laga Biasa

Penulis: Darmansyah

Rabu, 10 April 2013 | 12:16 WIB

Dibaca: 2 kali

Barcelona menutup rapat misteri cederanya  Lionel Messi, usai laga tandangnya di Parcs des Princes pekan lalu. Dua belas jam sebelum laga kedua di Nou Camp menghadapi PSG,  Kamis dinihari WIB dan disiarkan “live’ SCTV,Messi seperti diselimuti tabir setelah Barcelona mengeluarkan daftar pemain tanpa mencantumkan nama “Si Kutu” itu di “line up.”

Dan tak seorang pun skuad Barca yang mau memberitahu tentang  kepastian soal Messi. “Ini sebuah kerahasiaan yang membuat banyak orang gila,” tulis “Marca” dalam edisi Rabu paginya. Surat kabar Madrid yang sangat kental dengan “investigasi”sepakbolanya itu, dalam analisisnya nampak frustrasi dengan sikap Barca yang menutup rapat mengenai Messi.

Pertandingan di Nou Camp, setelah laga pertama  imbang 2-2  di kandang PSG, Parcs des Princes,  membuka berbagai kemungkinan. Messi memang selalu menjadi andalan. Namun, cedera hamstring saat berlaga di Paris dua pekan lalu menjadi ganjalan. Ia sudah menjalani fisioterapi dan sedikit berolah tubuh untuk membugarkan diri. Akan tetapi, hasilnya belum baik.

Kemungkinan absennya Messi seharusnya tidak perlu membuat PSG menduga-duga. Laga di Liga Spanyol  bisa menjadi acuan. Tanpa Messi, Barca melibas Real Mallorca 5-0 di Liga Spanyol pada Sabtu pekan lalu. Tiga gol di antaranya disarangkan Cesc Fabregas, hat-trick pertama sepanjang kariernya. Nah, bukankah masih ada Fabregas? Melihat aksinya pekan lalu, mantan pemain Arsenal itu sedang bagus-bagusnya.

Pelatih Barca Tito Vilanova bisa saja memasang Fabregas sebagai false nine, sebutan untuk posisi anomali penyerang. Posisi ini pernah efektif dipakai ketika Fabregas menyokong tim nasional Spanyol.

”Saya merasa sangat nyaman bermain sebagai striker bayangan. Namun, posisi itu sebenarnya tetap milik pemain terbaik di dunia. Saya sendiri tetap gelandang,” kata Fabregas.

Messi memang bukan Fabregas, dan Fabregas tidak bisa menjadi Messi. Tiadanya Messi menguntungkan PSG. Seperti dikatakan asisten pelatih Barca Jordi Roura, ”Jika kami tidak memiliki seorang pemain seperti Messi, jelas kami bermasalah.” Roura menyambung, ”Namun, skuad kami punya kualitas hebat.”

Paris Saint-German tak kalah bermasalahnya dengan pemain.. Bek Thiago Silva cedera lutut dan absen pada laga melawan Rennes, Sabtu pekan lalu, meski pada laga Liga Perancis itu PSG menang 2-0. Thiago Motta dan Alex juga belum tentu bisa diturunkan.

”Semua orang tahu, ini akan sangat sulit. Saya tidak tahu seberapa banyak kesempatan yang kami punya untuk bisa lebih baik,” kata Ancelotti. Yang pasti, PSG datang ke Nou Camp bukan untuk sekadar bertahan, melainkan menyerang. ”Kami harus berani karena harus menang agar bisa ke semifinal,” ujarnya.

Sementara itu Xavi Hernandez yakin, Barca masih diunggulkan pada putaran kedua perempat final melawan PSG meski beberapa pemain inti masih cedera. Selain Messi, Javier Mascherano juga masih belum pulih dari cedera lutut. Carles Puyol pun masih belum bugar pascaoperasi lutut.

Bagi Xavi, mampu menghasilkan dua gol saat tandang adalah hasil yang bagus. ”Kami memiliki 90 menit dan kami bermain di depan pendukung. Kesetiaan mereka luar biasa,” katanya, seperti dikutip uefa.com.

Laga di Nou Camp akan menjadi malam yang spesial bagi Barca. Apalagi, jika mengingat Barca mampu membalikkan keadaan dari tertinggal 0-2 menjadi menang agregat 4-2 saat menghadapi AC Milan pada putaran sebelumnya. Bagi Xavi, inilah momen untuk memenangi semifinal keenam berturut-turut di Liga Champions dan merebut titel yang ketiga kali dalam lima tahun.

Hampir semua media di dunia sepakat, pertemuan antara Barca melawan PSG di Nou Camp bukan laga biasa.  Barcelona tak pernah kalah di Spanyol sepanjang kompetisi antarklub Eropa selama lebih dari tiga tahun terakhir, Tapi, harus diingat,  Paris Saint-Germain telah mendapatkan kemenangan di Negeri Matador musim ini ketika laga di Mestalla, kandang Valencia, mereka berhasil menyingkirkan “Kelalawar Mestalla” di 16 Besar. .

“Don” Carlo Ancelotti, yang pendiam bagaikan “spinx” itu,   punya tiga kartu as sekaligus yang dapat diandalkan untuk membongkar rahasia dapur Barcelona. Benar, Zlatan Ibrahimovic, Maxwell, dan Thiago Motta yang pernah berkostum Blaugrana dan tahu persis bangunan permainan tim Nou Camp itu.

Kapasitas  Ancelotti sebagai pelatih  tim tak perlu diragukan lagi. Sama dengan Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, “Don Carletto,” begitu ia di panggil sebagai personifikasi “bos mafia” yang pelit bicara,  membawa empat klub berbeda ke perempat final Liga Champions: AC Milan, Juventus, Chelsea, dan kini PSG.

Secara simetris  kekuatan lini, tengah PSG  memang sedang meriang setelah kehilangan Blaise Matuidi. Gelandang timnas Perancis itu adalah pencetak gol yang menyamakan kedudukan 2-2 dengan Barca pada laga pertama.

Dalam laga di Camp Nou, Matuidi harus absen akibat sanksi akumulasi kartu. Sayang, karena ia plus dua pemain lainnya, kiper Salvatore Sirigu dan Maxwell, selalu bermain penuh dalam setiap laga PSG.

Celah itu yang akan dimanfaatkan Barcelona. Meski kemungkinan tampil tanpa Lionel Messi, Blaugrana masih punya Tito Vilanova. Kharismanya terbukti manjur ketika Barcelona tampil tanpa Messi dan menggasak Real Mallorca lima gol tanpa balas, akhir pekan lalu. Hat-trick pertama Cesc Fabregas sepanjang kariernya dan dua gol suntingan Alexis Sanchez jadi pelipur lara Barca dan pelecut semangat tempur jelang laga melawan PSG.

“Kami punya opsi pemain top lainnya dan mereka yang bermain besok (Rabu ini) harus memastikan segalanya berjalan baik. Kami semua menyukai kemenangan,” tegas Andres Iniesta kepada UEFA.com.

“Kami senang kalau orang membanggakan pencapaian kami. Ambisi kami tak boleh berkurang demi mencapai semifinal sekali lagi. Kami seharusnya berpikir final yang kami tak bisa capai musim lalu dan mungkin akan kami jejaki kali ini,” tuturnya lagi.

Apa yang dikatakan Iniesta bermakna satu hal, Barcelona telah menyiapkan segalanya untuk bersiap menyingkirkan PSG, sekaligus menjaga kesucian Camp Nou yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun ini di semua ajang kompetisi antarklub Eropa.

 

 

 

 

Komentar