Arogannya Mou Raib Kala Disapa Van Gaal

Penulis: Darmansyah

Kamis, 16 April 2015 | 17:07 WIB

Dibaca: 0 kali

Untuk kedua kalinya, setelah laga paruh pertama di Old Trafford, Chelsea dan United, kembali bertemu di Premier League, plus reuninya Louis van Gaal dengan Jose Mourinho, Sabtu malam WIB, 18 April 2015, di Stamford Bridge.

“Reuni” van Gaal dan Mourinho selalu dilumuri dengan sapa kerikuhan dan senyum cuek dari masing-masing pelatih hebat ini.

Kala bersua di Old Trafford, di laga paruh pertama liga tahun lalu, Mourinho kesulitan menempatkan diri dihadapan van Gaal. Ia menemukan kerikuhan dan hanya tertawa kecil ketika salam dan jabat tanggannya dicueki van Gaal.

Dan ketika itu pula, surat kabar terbitan Manchester, The Guardian menangkap momen special ini dengan menulisnya dengan kepala berita,”Hilangnya Aroganitas Mou.”

Aroganitas Mou hilang. “Ya,” tulis Guardian yang menyertai foto masternya yang menampilkan sikap rikuh Mourinho yang sedikit merendah.

Lantas bagaimana ketika keduanya bertemu kembali di Stanford Bridge Sabtu malam WIB di peklan ketiga puluh tiga Premier League.

“The Guardian,” Kamis, 16 April 2015, dua hari sebelum laga, kembali menulis dengan nada yang sama. Surat kabar tertua di Manchester itu menulis, tidak aka nada perubahan sikap Mou kecuali rasa hormatnya kepada van Gaal.

Terlepas kerikuhan dan cueknya antara “sang Guru,” dengan muridnya ini, duel Chelsea lawan Manchester United tetap menjadi medan pertarungan antara Jose Mourinho dengan Louis van Gaal, dua sosok yang pernah bekerja sama di Barcelona.

Sir Bobby Robson acapkali disebut-sebut sebagai mentor Mourinho yang juga kali pertama menuntunnya ke pintu dunia manajerial saat keduanya ada di Sporting Lisbon, Porto, dan Barca.

Akan tetapi adalah Van Gaal, suksesor Robson di Blaugrana, yang digadang-gadang sudah memberi Mourinho kesempatan seluas-luasnya untuk memoles kemampuan meracik taktik.

Konon semasa di Barca dulu Van Gaal memang sudah memprediksikan betapa talenta Mourinho terlalu besar untuk sekadar jadi asisten.

Itu mengapa Van Gaal kemudian memberi Mourinho posisi pelatih kepala Barca B demi mengasah kemampuan–walaupun Van Gaal lantas juga membiarkan Mourinho menangani tim inti Barca di beberapa kesempatan.

“Aku menangani tim tapi ia juga ada di sana untuk mendukung. Ia datang ke ruang ganti saat turun minum untuk mendengar instruksiku ke tim. Ia tak mau ikut campur mungkin karena berpikir segalanya sudah tepat.”

Bahkan, kepada Daily Mail, Mourinho mengatakan,” Kepadaku ia melakukan apa yang juga aku lakukan kepada para asistenku”

“Memberiku bukan cuma tanggung jawab tapi juga modal untuk berkembang, dukungan untuk berkembang, dan mempersiapkan mereka untuk maju ke tahap selanjutnya, jika kemudian mereka ingin melakukannya.”

Akhir pekan ini sang murid akan menjamu gurunya dulu ketika Chelsea disambangi MU, Sabtu malam WIB, dalam sebuah pertemuan antara tim pemuncak klasemen dengan tim yang berada di posisi tiga.

Bermodal polesan Mourinho, The Blues bakal berusaha terus mendekatkan diri ke titel Premier League sedangkan The Red Devils, dengan racikan Van Gaal, bakal berupaya melanjutkan momentum setelah sebelumnya menundukkan Tottenham Hotspur, Liverpool, dan Manchester City.

“Itu semestinya akan menarik, manajer versus manajer,” kata Gary Neville, mantan pemain MU yang kini menjadi pengamat dan analis sepakbola, seperti dikutip Mirror.

“Bagaimana caranya Mourinho menyetop apa yang sudah dilakukan Manchester United terhadap tim-tim lain dalam beberapa pekan terakhir? Ia tak keberatan bertahan untuk menang pada saat manajer lain akan bersikap frontal.”

“Van Gaal akan bilang, ‘Seperti inilah yang kami lakukan, kami akan tetap tampil dengan permainan kami sendiri dan akan menang dengan cara kami’. Mourinho lebih pragmatis, jadi akan menarik untuk melihat siapa yang akhirnya jadi pemenang,” tuturnya.

Manchester United sedang merangkai rentetan kemenangan yang juga dicatatkan atas deretan tim-tim tangguh. Kini MU dinilai menghadapi ujian terberatnya dengan menyambangi Chelsea.

Saat ini MU sedang menjalani rentetan enam kemenangan di Premier League–walaupun sempat diselingi oleh kekalahan di Piala FA. Tottenham Hotspur, Liverpool, dan Manchester City menjadi korban-korban MU yang terus merayap naik di papan klasemen Premier League.

Akan tetapi, performa oke The Red Devils tersebut kini akan diuji ketika menghadapi pemuncak klasemen Chelsea yang menunggu di Stamford Bridge, Sabtu (18/4/2015) malam WIB.

Menurut Gary Neville, mantan pemain MU yang kini menjadi pengamat dan komentator, itu akan menjadi ujian besar buat pasukan Louis van Gaal, terlebih Chelsea akan tampil di kandang sendiri.

“Tesnya adalah menghadapi Liverpool dan City,” kata Neville kepada Press Association Sport dan dikutip Manchester Evening News.

“Ini merupakan ujian berikutnya. Mereka sudah membuktikan diri, tapi berikutnya ada tim terbaik di negeri ini dan mendatangi Stamford Bridge merupakan tes terberat.”

“Penampilan United di bulan terakhir ini sudah sedemikian luar biasa, bahkan dalam musim mana pun. Lupakan fakta bahwa musim ini mereka takkan menjuarai liga, tapi di musim mana pun tingkat permainan yang sudah mereka perlihatkan telah menjadi standar tinggi,” lanjutnya.

Di awal musim MU sempat tertatih-tatih setelah cuma meraih satu kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kekalahan di lima laga awal Premier League. Namun, kini Neville yakin posisi empat besar akan mampu diamankan.

“Akibat situasi Louis van Gaal sempat harus selalu mengubah formasinya dengan menurunkan pemain berbeda dalam sistem yang berbeda.,” ujar Neville.

“Di awal musim ia mengatakan tim akan membaik, karena memang selalu membaik, dan ia menepati kata-katanya. Ia bilang mereka akan masuk Liga Champions dan saya pikir ia juga akan benar dalam hal itu,” imbuhnya.

the guardian, daily mail dan sky sports

Komentar