Tango Kritis, Maradona Bela Lionel Messi

Penulis: Darmansyah

Minggu, 24 Juni 2018 | 15:54 WIB

Dibaca: 0 kali

Argentina kritis, dan Maradona langsung membela Lionel Messi.

Ys, Argentina berada diambang ketercampakanndari enam belas besar Piala Dunia usai dibantai tiga gol tanpa balas oleh Kroasia di penyisihan grup.

Lantas?

Legenda sepak bola dunia, Diego Maradona berpendapat seharusnya semua orang tidak menyalahkan Lionel Messi atas performa buruk timnas Argentina

Menurut Maradona, akar permasalahan Tim Tango saat ini terletak pada pengelola Asosiasi Sepak Bola Argentina yang tidak berkompeten.

Lionel Messi memang menjadi sasaran kritik pencinta sepak bola khususnya pendukung Argentina karena penampilannya pada dua laga awal penyisihan Grup D Piala Dunia

Pada laga pertama melawan Islandia, Messi gagal mengeksekusi tendangan penalti sehingga Argentina harus puas dengan hasil imbang.

Penampilan buruk Messi berlanjut saat Albiceleste kalah telak  dari Kroasia. Pada pertandingan itu Messi tidak mencetak satu pun tembakan tepat sasaran.

Melihat hal ini, Maradona menyebut Messi sudah tampil bagus hanya saja rekan satu tim yang lain tidak mengikuti penampilan Messi.

“Semua orang menyalahkan Leo Messi. Saya pikir Leo sudah bermain sebagaimana semestinya,. Sulit untuk memperbaiki masalah rekan satu tim. ” ucap Maradona seperti dilansir BolaSport.com dari FourFourTwo.

Lebih lanjut, Maradona mengakui dirinya sangat terpukul melihat bagaimana kiprah Argentina pada Piala Dunia kali ini. Maradona menganggap federasi sepak bola Argentina adalah pihak yang harus bertanggung jawab.

“Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan besarnya frustrasi batin karena siapa pun yang mengenakan seragam Argentina tidak bisa melihat tim kami dihancurkan seperti itu,” kata Maradona.

“Terlebih oleh tim seperti Kroasia, bukan tim seperti Jerman, Brasil, Belanda, atau Spanyol. Situasi ini bukan tanpa alasan. AFA dipegang oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang sepak bola,” ucap kapten Argentina saat menjadi juara Piala Dunia 1986 ini.

Pada laga terakhir, Argentina harus mengalahkan Nigeria untuk bisa lolos ke babak 16 besar. Selain itu, Argentina juga harus berdoa agar Islandia tidak menang saat melawan Kroasia.

Saat ini Argentina berada di dasar klasemen Grup D dengan raihan satu poin. Argentina hanya kalah selisih gol dari Islandia yang duduk di peringkat ketiga.

Memang, Lionel Messi memasuki Piala Dunia dengan memikul beban berat. Hal itu berkorelasi erat dengan krisis timnas Argentina dalam start di kejuaraan akbar tersebut tahun ini.

Lionel Messi menyambut Piala Dunia  dengan dihantui ekspektasi tinggi seiring kegagalan membawa timnas Argentina berprestasi.

Selalu didambakan publik Argentina sebagai Messiah Sang Penyelamat, ia malah merasakan pahitnya tumbang pada laga final di empat kejuaraan besar.

Bersama Tim Tango, Messi takluk pada partai puncak Piala Dunia lalu serta Copa America.

Akibat rentetan kegagalan itu, Messi belum lepas dari bayang-bayang komparasi dia dengan Sang Dewa Sepak Bola Argentina, Diego Maradona.

Publik Negeri Tango terus menanti kapan Messi bisa meniru rekam jejak Maradona, yang membawa Albiceleste juara dunia di Meksiko

Karena sederet kegagalan itu pula Messi selalu dihantui paradoks soal jati dirinya.

Pemain yang menginjak usia tiga puluh satu tahun kerap dianggap sosok berbeda saat memperkuat timnas Argentina dan FC Barcelona.

Patokannya sederhana. Bersama Barcelona, dia bergelimang kejayaan dengan meraih total 32 gelar sejak promosi ke tim utama.

Sebaliknya dalam waktu yang sama, prestasi Messi di timnas Argentina kering kerontang.

Tanpa menghitung Medali Emas Olimpiade, tiada titel bergengsi lain yang menghiasi masa baktinya buat Tim Tango di level senior.

Bukan berarti Messi selalu tampil buruk saat berseragam tim nasional. Bukan pula bermakna Messi tidak cinta kepada negaranya.

Perjalanan karier sepak bola Messi menunjukkan bahwa dia memang lebih terikat secara emosional dengan Spanyol sebagai tanah kelahiran sepak bolanya daripada Argentina.

Messi lahir di Rosario, Argentina, dan pindah ke Spanyol saat remaja.

Di sanalah dia menjalani fase-fase penting sebagai manusia dan pesepak bola, mencari nafkah, merangkai hingga menggapai mimpi menjadi pemain terbaik di dunia.

Bakat permainan tiki-taka yang luwes ala Barcelona dan Spanyol mengalir lebih deras dalam darahnya ketimbang spirit grinta ala Argentina yang memadukan agresivitas, kengototan, dan skill alami pemberian Tuhan.

Pembawaan alamiah ini pula yang menimbulkan dikotomi di antara warga Argentina. Mereka seolah terbagi antara golongan yang mengidolakan Messi dan yang tidak.

Suami Antonella Roccuzzo itu dianggap tak mewakili karakter khas pesepak bola Argentina seutuhnya.

Karena lebih lama tinggal di Spanyol dengan kondisi lingkungan dan perekonomian memadai, Messi terlalu lembek dan tipe “anak rumahan” banget.

Di mata pencinta sepak bola konservatif Argentina, pesepak bola ideal adalah mereka yang mewakili mentalitas daya juang kelas pekerja sebagai struktur sosial dominan di Amerika Selatan.

Dia harus jantan, maskulin, tangguh, dan anti-kemapanan. Idola ideal mesti genius, tegas, vokal, pantang menyerah, tak ragu berkonfrontasi, juga mengutamakan kepentingan khalayak dibandingkan individu.

Arogan tidak masalah karena kebanggaan terhadap diri sendiri itu yang justru menjadi nilai penegasan karisma buat pemain bersangkutan.

Menurut penulis dan pengamat Amerika Selatan, Brenda Elsey, di The Allrounder, contoh paling nyata yang mewakili sosok idola ideal publik Argentina adalah Diego Maradona.

Dia adalah simbol pemberontakan terhadap tatanan sepak bola Eropa yang serba-teratur.

Setelah menjadi bintang dunia, Maradona tetap membawa sifat kelas pekerja alamiah di dalam dan luar lapangan.

Saat ditanya apakah dirinya pesepak bola terbaik di dunia, sang legenda berkata, “Ibu saya menganggap saya sebagai pemain terbaik di dunia. Jika ibu saya menilai demikian, maka pastilah saya yang terbaik”.

Komentar